Kamis, 26 Maret 2020

Jangan Baper, Ikhlas Tetap Tersenyum

Jangan (Tidak) Baper, Ikhlas dan Tetap Tersenyum

Saat banyak orang curhat di sosmednya kalau social distancing bikin angka timbangan merangkak bergerak melaju ke arah kanan, saya justru menghadapi kondisi sebaliknya. Meski memang di rumah saja, dengan aktivitas makan, tidur, duduk, makan, tidur dan duduk lagi, tapi saya merasa gelisah dan ketakutan. Bikin gak nafsu makan dan gak nyenyak tidur. Karena itu mungkin timbangan berat badan saya akhirnya menyusut.

Saya bukan sedang diet, saya juga tidak mengalami kepanikan yang luar batas terkait maraknya wabah virus corona yang sedang merajalela di negara kita ini. Semua melainkan karena ada yang menghantam pikiran dan jiwa saya. Itu yang bikin saya serasa jalan melayang, tidur tidak meram, makan jadi malas karena tidak nikmat di lidah.

Berawal ketika ibu saya sakit, sebagai anak perempuan paling besar tentu saja saya ingin berbakti. Merawat dan menjaganya meski semua itu tidak terlaksana karena situasi dan kondisi. Sekarang saya juga punya keluarga dan tinggal cukup jauh terpisah dari tempat ibu.

Kesakitan ibu bisa saya hadapi dengan sabar dan ikhlas. Meski banyak cibiran dari tetangga dan keluarga besar tapi sejauh ini saya bisa melewatinya. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Biar orang bilang apa, asal saya dan keluarga tidak menggangu mereka. Itu sudah cukup buat kami.

Masalah justru timbul ketika tidak sengaja saya mendengar langsung omongan yang sangat menyakitkan terhadap diri saya. Ada yang bilang selama ini saya adalah perempuan yang hanya jaga gengsi. “Saat ada mertuanya saja, meni izideun...” (izid bahasa Sunda, artinya sangat membenci).

Saya mengucap istighfar. Tidak terasa air mata rembes di ujung kelopak. Menetes juga meski saya tahan. Hati dan perasaan sudah tidak enak. Kok bisa orang itu bilang saya sangat membenci mertua saya sendiri?

Padahal kalau boleh membalikkan, perasaan kurang apa saya terhadap mertua selagi ada? Sampai jelang meninggalkan kami untuk selamanya pun, saya ada di sisinya. Memenuhi sagala permintaan selayaknya orangtua sakit yang mau ini itu.

Saya tidak ingin berprasangka buruk kepada siapapun. Saya hanya bisa mohon ampun kepada Nya jika saya sudah keliru selama ini. Jika kelakuan saya di mata orang terlihat sangat membenci mertua saat masih ada.

Saya sangat sedih. Saya tidak terima dan tidak merasa. Saya tersadar mungkin semua pengorbanan selama ini sia-sia...? Tapi saya yakin malaikat tidak akan salah mencatat niat dan amalan manusia.

Saya berusaha mengerti kenapa ada orang sampai bilang demikian. Saya kembalikan kepada kondisi ibu saya yang sedang sakit. Ikhlas kalau ibu saya tidak pernah ada yang menengok. Jadi tahu diri kenapa orang berpura-pura baik di depan saya, tapi di belakang ternyata muncul sifat buruknya. Saya tidak akan mempermasalahkan apa perjuangan saya selayaknya menantu kepada mertua. Saya bukan siapa-siapa. Mungkin jika itu alasannya, orang yang mengatai saya tadi hanya balas dendam karena menurutnya saya sangat membenci mertua saya sendiri.

Saya (seharusnya) tidak akan baper karena saya memang tidak merasa. Jangankan ke mertua sendiri, ke orang lain saja jangan sampai saya punya perasangka buruk.

Saya sudah memaafkan orang yang bilang begitu diam-diam. Saya juga memaafkan siapapun karena tahu sifatnya manusia ibarat tokoh dalam sinetron. Saya memaafkan tapi tidak mungkin melupakan...

Mau tidak mau itu semua selalu jadi kepikiran. Bikin makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Setiap ingat perkataan itu, semua masa lalu saat mengurus dan merawat mama mertua satu per satu bermunculan. Sedih. Kenapa semua ini baru terungkap setelah mama mertua tiada? Kalau saya tahu saat mama mertua masih ada, saya pasti akan segera meminta maaf dan memperbaiki kesalahan saya.

Mungkin kejadian ini yang menjadi “sesuatu” yang tidak pernah terbayangkan bahkan diluar ekspektasi dan tidak akan pernah lupa seumur hidup saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar