Selasa, 31 Maret 2020

Cerita Menarik Tantang Radio

Cerita Menarik Tantang Radio

Sampai sekarang kalau boleh nawar, setiap beli hp atau mendapatkan hadiah, saya selalu ingin yang memiliki aplikasi radio. Bukan karena saya pecinta berat musik, tapi karena saya tinggal di pelosok yang listrik byar pet, sinyal lup-lep (mati hidup).

Apa hubungannya dengan radio? Meski sudah modern di kampung saya sinyal dan listrik masih jadi barang (setengah) langka. Adanya siaran radio yang tidak mengenal sinyal dan cukup awet batere tentu saja jadi pilihan terbaik untuk hiburan maupun informasi.

Keluarga saya keluarga kampung dengan segala keterbatasannya. Almarhum bapak penyuka berbagai kesenian Sunda seperti wayang, degung, cianjuran, dongeng sampai calung. Semua itu dulu didapat hanya melalui radio. Bahkan sampai sekarang.

Ada yang tahu sosok maestro dongeng Sunda Wa Kepoh? Masa kecil saya, sosok ini sangat terkenal karena mendongengkan cerita pendekar berbudi baik dari tatar Sunda “Si Rawing” karya Yayat R. Melalui stasiun radio saat itu di Bandung, sekitar tahun 80 sampai 90-an (belum ada gadget) saya mendengarkan keseluruhan kisahnya. Saat itu radio masih jadi favorit warga, disamping televisi yang masih didominasi berita lokal TVRI.

Belasan hingga puluhan tahun lalu radio adalah sumber hiburan yang gak bisa dilepaskan dari kehidupan saya. Bahkan sampai sekarang. Selain sebagai teman mendapatkan informasi, yang paling dinantikan tentu lagu-lagu yang diputar menyelingi celotehan penyiar.

Radio seolah punya kekuatan sendiri, bagi saya di tengah banyaknya platform digital saat ini. Selain kita gak akan tahu lagu apa yang akan diputar oleh penyiar (kecuali request; jadi ada efek kejut yang bikin bahagia) radio memiliki banyak kenangan dalam hidup saya. Dulu saya harus mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan penyiar usai lagu diputar supaya bisa tahu nama penyanyi beserta judul lagu yang disiarkan. Hahaha. Segitunya perjuangan demi tahu judul lagu jaman baheula. Sekarang lebih modern ada aplikasi yang bisa mengidentifikasi lagu dari radio atau sumber suara yang kita rekam.

Sekarang mendengarkan radio dalam perjalanan khususnya di perkotaan bisa bantu kita juga dapat informasi tentang kondisi jalan ya. Penyiar akan menginformasikan kondisi lalu lintas terkini sehingga kita pendengar radio bisa tahu jalan mana yang padat, ada kejadian apa sehingga jalan macet, dan informasi lainnya.

Saat sekolah saya pernah magang jadi penyiar di sebuah radio swasta. Saat itu masyarakat membeli “atensi” berupa sebuah lembaran kertas khusus resmi dibuat tim radio. Nanti melalui kertas atensi itu masyarakat bisa menuliskan pesanan lagu, kirim salam buat siapa saja, dan pesan lainnya. Tugas saya sebagai penyiarlah saat itu membacakan atensi satu persatu. Termasuk memutar lagu yang diminta oleh si pembeli atensi.

Jaman itu belum ada hp meski tidak lama kemudian ada telepon rumah dan telepon umum. Sering menerima telepon dari masyarakat, belum selesai bicara sudah tut...tut...tut... Itu tandanya pembicaraan mati karena kehabisan koin. Hahaha, suka riweuh kalau begitu apalagi pas on air. Sampai sekarang tradisi seperti itu masih ada lho di Cianjur bagian selatan. Minta lagu lewat telepon di radio maksudnya. Teleponnya sih sekarang dari hp. Telepon koin cuma tinggal kenangan, hehehe.

Radio di jaman modern tetap saya dengarkan. Sampai sekarang saya masih mendengarkan dongeng Sunda. Miara Tuyul karya Eka Irvin saat ini sedang buming. Selain nambah wawasan terkait budaya dan kearifan lokal, saya juga belajar lebih banyak soal undak usuk basa yang jujur meski lahir dan besar di Sunda, namun banyak hal terutama terkait Basa Sunda yang belum saya tahu.

Saat mendaki gunung, radio jadi media hiburan di samping koleksi lagu di memori. Meski nonstop semalam dengar radio tapi baterai ponsel lumayan awet. Saat tidak ada sinyal seluler dengar radio tetap jalan.

Bagi sebagian pelaku bisnis radio juga sebagai ajang promosi dan distribusi ya. Testimoni orang daerah yang disiarkan di radio ternyata lebih mengena dan mudah diterima masyarakat khususnya di pedesaan seperti tempat saya tinggal.

Saat saya tinggal di bekerja di luar negeri, siaran radio dari tanah air tetap saya dengarkan. Mengobati akan rasa kangen kampung halaman dan nambah update informasi. Saat saya di Singapura, saya mendengarkan Zoo FM, key FM dll yg saya lupa namanya. Semua kantor siar beralamat di Batam.

Waktu di Hong Kong, saya mendengarkan radio komunitas. Siarannya dari Hong Kong tapi semua berbahasa Indonesia. Termasuk informasi umum dan lagu. Ada acara khusus, biasanya menampilkan lagu dangdut berbahasa daerah. Kaya dangdut koplo gitu. Banyak banget itu penggemarnya.

Ketika saya bekerja di Taiwan, ada Radio Internasional Indonesia atau RTI. Radio sub divisi dari RTI yang khusus memiliki program siaran Indonesia. Di Taiwan itu ada banyak migran yang bekerja di sana. Indonesia, Vietnam, Thailand, Philipina, dan Cina Daratan (Tiongkok) nah RTI memiliki siaran khusus untuk semua negara itu. Karena disubsidi oleh pemerintah Taiwan maka acaranya beragam dan “beneran”. Ada lomba, ada temu kangen, bahkan pernah lomba TKI Teladan dengan hadiah mendatangkan keluarga TKI yang menang ke Taiwan. Seru abis pokonya gabung jadi RTI ini.

Sampai Di Indonesia saya masih bisa mendengarkan RTI SI (Siaran Indonesia) di saluran AM. Sekarang lebih modern, ada streaming nya.

Beberapa bulan lalu saya menang lomba dari Radio KBR 68 H itu berkat saya mendengarkan siarannya juga. Gak perlu on time, tapi bisa streaming atau lewat podcast nya.

Jadi meski sudah modern, radio tetap memiliki tempat di hati banyak orang ya. Khususnya di hati saya. Masih banyak cerita dan kenangan saya soal Radio. Tapi tidak kerasa udah delapan ratus kata aja nih. Yang baca nanti bosan jadinya. Hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar