Tumis Picung: Makanan dari Hutan yang Nyaris Hilang
[caption id="attachment_9371" align="aligncenter" width="300"]Salah satu hasil hutan yang saya sukai adalah tumis picung.
Tahu picung? Itu loh, buah kepayang/kepahiang, atau kalau dalam bahasa Jawa biasa disebut kluwek. Iya, kluwek atau kelewek yang biasa dibuat bumbu rawon berwarna pekat gelap. Bahasa Inggrisnya durian atau football fruit sementara bahasa Latinnya Pangium edule. Picung yang saya maksud ini “mentahannya” dari kluwek si bumbu rawon tadi.Dulu tumis picung ini nenek yang selalu membuatnya. Lalu mama dan bibi, kini saya sendiri yang belajar menyajikannya untuk keluarga. Keunikan dan perjuangan untuk menghidangkan tumis picung di meja makan yang tidak mudah, membuat saya berusaha menikmati sensasi gigit demi gigit picung yang pulen dan lembut.
Buat apa sih picung ini? Ya buat dimakan –setelah dimasak dulu pastinya. Eh tapi jangan salah kaprah, tidak tahu cara mengolah picung, bisa-bisa bakal mabuk alias keracunan. Itu keunikan dan perjuangan yang saya maksud tadi. Ya, istilahnya mabuk kepayang itu tadi yang jadi peribahasa dalam bahasa Indonesia. Mabuk kepayang adalah mabuk karena picungMeski bisa mengakibatkan keracunan, namun picung alias buah kepayang atau kluwek memiliki banyak manfaat untuk manusia. Picung mengandung vitamin C, zat besi, dan zat lain yang menguntungkan bagi tubuh. Selain untuk bumbu masakan rawon, kandungan vitamin dan mineral dari picung mampu meredakan beberapa gejala penyakit. Seperti penyakit kulit, obat kalau kena luka bakar, sekaligus bisa mencegah anemia dan menunjang kesehatan ibu hamil.
Pohon picung sendiri, kayunya bisa dibuat untuk batang korek api, terus daunnya untuk obat cacing, sementara picungnya juga selain bisa dimasak sebagai lauk pauk teman makan nasi juga bisa buat bahan pengawet ikan, penghilang kutu dan bahan pembuatan minyak. Selain tentu saja bijinya yang berwarna hitam (kalau sudah tua) dijadikan bumbu rawon yang terkenal lezatnya itu.
Harga 1 Kg minyak picung bisa mencapai Rp.200ribu bahkan lebih. Meski harganya berkali lipat dibandingkan minyak kelapa dan sawit, namun tetap laku di pasaran mengingat semakin banyak orang yang menerapkan tren gaya hidup sehat.
Masyarakat Desa Sungai Beban, Kecamatan Batang Asai, Sarolangun, Provinsi Jambi, saat akses transportasi sulit dan jauh ke pasar, masyarakat di sana sejak lama telah menggunakan minyak picung atau kepayang sebagai pengganti minyak kelapa dan atau minyak sawit untuk menggoreng.
Dan tahukah jika minyak picung bisa jadi sebagai satu-satunya minyak olahan di Indonesia? Meski membuat minyak picung ini cukup sulit, disebabkan karena bahan baku alias pohon picung nya sendiri sudah mulai langka di hutan. Ditambah memerlukan waktu sekitar seminggu lebih untuk menghilangkan racun sianida yang terdapat dalam buahnya, namun demikian masyarakat modern mulai banyak yang melirik minyak sehat ini.
Sebagai informasi, Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) VII Limau, Sorolangun Provinsi Jambi bekerja sama dengan Sucofindo telah melakukan penelitian dan mendapatkan hasil jika kandungan minyak picung as know as kepayang ini non kolesterol. Hasil laboratorium menyatakan DHA minyak dari picung cukup tinggi dibanding minyak nabati lainnya sampai 2,3%.Jadi wajar kalau harga minyak yang terbuat dari picung ini cukup mahal. Selain karena sulit memproduksinya, lama proses menghilangkan racun sianidanya, juga karena kandungan DHA nya yang cukup tinggi.
Meski dari segi konservasi jelas banyak manfaatnya, produksi minyak picung masih belum bisa konsisten. Alasannya ya karena sudah langkanya pohon picung ini di hutan. Mungkin setelah mengetahui khasiat dan kegunaannya diharapkan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bisa menghimbau masyarakat untuk mulai mau membudidayakan pohon picung. Selain supaya picung tidak punah, juga demi bisa menghijaukan hutan sumber mata air dengan pohon bermanfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.Baik, kembali ke laptop, buah picung ini bagian dalamnya terdiri dari daging buah warna keputih-putihan dan biji yang berkulit keras dengan warnanya cokelat kehitaman. Sepuluh kg daging picung yang dipres, bisa menghasilkan sekitar 300gram minyak picung.
Biji picung ini jika tempurungnya kita buka, maka akan keluar daging biji berwarna putih. Daging biji ini yang dijual si emak dan berhasil saya beli di pasar Pagelaran. Tidak sabar lagi lah segera picung ini akan saya olah untuk disantap.
Baiklah ini resep tumis picung ala-ala sayaTUMIS PICUNG
Bahan:
400 gram picung siap masak Minyak goreng untuk menumisBumbu halus:
Kemiri 5 buah Bawang merah 4 siung Bawang putih 3 siungBumbu lain:
Tomat, cabe rawit, daun bawang, cabe merah, garam, gula dan penyedap rasa (semua secukupnya dan sesuai selera)Cara masak:
Tumis bumbu halus hingga tercium bau wangi Masukkan picung yang sudah dicuci bersih Masukkan bumbu pelengkap Kalau terlalu kering bisa tambahkan airSetelah matang, angkat dan tumis picung siap disajikan.
Saat ini sudah cukup sulit mencari picung untuk diolah mentahannya –meski picung bukan termasuk tanaman langka– tapi di kampung saja sudah cukup susah nyari picungnya, apalagi di kota ya? Eh siapa tahu di kota malah mudah didapat. Mau mabuk kepayang eh mabuk picung di kota kan mudah, tinggal naksir seseorang jadi dech. Ups! Bercanda.
Indonesia negeri kita sangat kaya. Kekayaan hasil hutan yang bisa jadi sumber pangan sangat banyak tidak terkira. Memelihara hutan sudah kewajiban kita sebagai penduduk bumi. Karena kalau tidak ada hutan, bagaimana kita akan bisa hidup?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar