Rabu, 08 Januari 2020

Damai dengan Dendam

Damai Dengan Dendam

  Semalam kucing di rumah bikin ribut. Cakar-cakaran sampai suaranya bikin orang tidur pada kebangun. Pengennya setelah anak dan suami berangkat sekolah gogoleran lagi, melanjutkan tidur semalam yang tertunda. Tapi melihat cuaca mendung begini mana bisa? Cucian kapan selesainya? Meski harus mengalahkan rasa malas akhirnya bangkit juga untuk membereskan tugas negara. Nyuci dan menjemurnya setelah pakaian siap dijembreng walau matahari tidak juga memancarkan kekuatannya. Kalau begitu jelas gak bisa gogoleran santuy, yang ada mata waspada melihat mendung yang menggantung. Telinga runcing berdiri seandainya mendengar suara jatuhan air di atap seng, refleks kaki harus lari untuk ngangkat jemuran supaya tidak lagi kebasahan.

Jadinya nongkrong sendiri menunggu pakaian mengering bermodalkan tiupan angin. Tiba-tiba lewat si kucing yang semalam bikin keributan. Mungkin lapar, ia menggelendot di kaki sambil mengibaskan ekor yang tidak seberapa panjang.

Dalam hati saya ngedumel. Gara-gara kamu waktu tidurku jadi tidak nyenyak. Tapi si kucing malah menatap menggemaskan. Apa? Kamu lapar? Nyari makanan sendiri sana. Minta sama aku masak saja belom. Tapi si kucing terus mengeong, mana ngerti dia kekesalan dan dendam saya?

Dendam kok sama kucing? Gak malu apa? Pikiran dan hati saya saling bersahutan.

Gaya banget di luaran. Ingin begini ingin begitu semua yang baik-baik dijabarkan. Takut orang gak tahu kalau resolusi di tahun baru adalah menjadi diri yang lebih baik. Padahal kalau tahu gimana dalemannya, ternyata tetap saja rongsokan hancuran tahun lalu. Banyak dendam, kotor hati dan penyakit jenis lainnya.

Tiba-tiba saya ingin menertawakan kelakuan sendiri. Ternyata setiap tahun resolusi tidak pernah terbukti penyebab utamanya ya kondisi hati. Mau gimana nabung buat traveling kalau menerima job disertai nyinyir ke pemberinya. Atuh meureun tidak berkah? Gambar gembor nyuruh orang bayar hutang sementara hutang saya pada diri sendiri, mau begini, mau begitu dan itu entah sejak tahun mana-- belum juga terpenuhi. Burukeun lunasan atuh kalau masih punya rasa malu mah. Kata sisi lain dalam hati saya bersuara.

Tidak mudah ya berbaikan dengan perbuatan baik itu. Ingin merangkulnya namun selalu jauh dari jangkauan. Padahal jika sejak dulu saya tahu, menerima kondisi dengan lapang dada adalah sebuah perbuatan baik nan mulia. Pakai sok istilah tidak mudah; ngaku jauh dari jangkauan segala, padahal tinggal menurunkan kadar egois sedikit saja, cukup dengan membuka sedikit pintu hati untuk bisa berdamai dengan keadaan, itu malah membuat pondasi terkuat untuk membangun berjuta-juta kavling kebaikan.

Kucing mengeong lagi. Sudut mata menangkap langit tidak begitu gelap. Refleks tangan mengajak si kucing yang menyambut dengan antusias. Saya ingat ikan pindang masih ada. Si kucing pasti lahap menyantapnya.

Ngasih makan kucing? Gak jadi dendam? Bukannya semalam kucing itu yang bikin tidur tidak nyaman?

Ah pergi deh jauh-jauh. Damai dengan dendam sesekali apa salahnya? Meski terasa berat kalau sering dilakukan percaya bakal biasa dan jadi bisa.

Semoga dengan belajar damai sama dendam, hati lebih sering pula belajar banyak dibersihkan dan kalau hati sudah damai, aura nyaman akan keluar dengan sendirinya.

Damai dengan dendam ini bisa jadi langkah awal mewujudkan resolusi 2020. Ibarat nyapu lantai, kalau sapunya belepotan lumpur, sekinclong apapun keramik yang dimiliki tetap lumpur yang kelihatan.

Jadi hati kita dulu harus bersiiih... ya, Bu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar