Minggu, 15 September 2019

Sudahkah Bijak Bersikap?

Sudahkah Bijak Bersikap?

Gara-gara kalah lomba blog, sementara kebetulan saya mendapat juara tuh orang di belakang ngomongin yang enggak-enggak.

Pas anak didik mengaji di rumah mulai bertambah (sebenarnya setiap tahun juga datang dan pergi sih) tetangga ada yang bilangnya wah hebat ya. Pakai ilmu apa bisa menarik hati mereka (untuk mengaji di saya)? (Begitulah kira-kira nyinyirannya, kalau dengan gaya bahasa saya sendiri loh ya).

Ketika Fahmi putra saya lolos masuk SD tanpa harus menyertakan ijazah PAUD/TK banyak yang ngomongin plus dan minus, memuji dan nyinir. Ya meski semuanya mereka ngomongin di belakang saya.

Dan masih banyak lagi perkara lain karena apa yang saya lakukan, lalu mendapat penilaian jelek, atau pujian. Kalau dipikirin, tidak akan ada selesainya. Bikin boros waktu dan menghambur-hamburkan energi saja.

Apapun penilaian orang terhadap kita, sikapi dengan syukur dan sabar. Balas dengan prasangka baik supaya hati lebih tenang dan nantikan door prize (kalaupun dapat) sebagai bonus yaitu berbagai keutamaan.

Menjaga hubungan baik antar sesama manusia memang tidak bisa diprediksi. Bahkan ada yang harus diperjuangkan. Sesama mukmin itu bersaudara (QS. Al-Hujurat Ayat 10) tapi mukmin yang bagaimana dulu?

Baik, kita tidak bisa memberikan tuduhan terhadap orang lain. Jadi paling tidak, sikap dan sifat diri sendiri yang harus dibina, supaya tetap berada di jalan yang memperkuat dan memantapkan persaudaraan. Mungkin saya hanya bisa menjaga dan memelihara itu saja. Berusaha untuk menghilangkan sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah. Agar tali silaturahmi tetap berjalan dan terjaga dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dilakukan adalah husnuzh zhan atau berbaik sangka. Saat mendengar cacian atau ejekan, termasuk hal-hal buruk terhadap kita sebaiknya kita cek dan ricek. Jangan dulu membalasnya dengan respon negatif. Tanamkan saja dulu prasangka baik kita terhadapnya. Tidak rugi sama sekali jika kita bersikap husnuzh zhan. Malah justru kita akan mendapat banyak manfaat

Manfaat berbaik sangka/husnuzh zhan diantaranya (ini saya dapat dari berbagai sumber dan cerita para guru mengaji):

  1. Jalinan hubungan persahabatan dan persaudaraan akan menjadi lebih baik.
  2. Terhindar dari penyesalan.
  3. Memiliki kebesaran hati karena mampu bahagia atas kemajuan yang dicapai oleh orang lain.
  4. Sisi positif kita dilatih menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang pada dosa-dosa lainnya.
 

Beda jika kita merespon negatif atas pujian atau ejekan yang dilakukan orang lain, kita justru akan mendapat kerugian. Seperti:

1. Mendapat nilai dosa karena berburuk sangka jelas perbuatan yang dilarang. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. (QS. Al-Hujurat Ayat 12)

2. Melakukan perbuatan munafik/pura-pura.

Disabdakan Rasulullah SAW “Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta.” (HR. Muttafaqun alaihi).

3. Menimbulkan penyakit hati (yang bisa merambah ke penyakit raga).

Jika kita sudah berpikiran buruk kepada orang lain, secara tidak langsung akan diikuti dengan penyakit hati lainnya seperti hasad, ghibah, dll

 

Karena itu ketika mendengar kita dicaci ataupun dipuji jangan sampai menimbulkan perasaan berburuk sangka. Sebisa mungkin segera berantas dan dijauhi.

Dan cobalah berbaik sangka. Perkuat jalinan persaudaraan antar sesama agar sifat berbaik sangka bisa terus tertanam. Biarkan orang mau bilang apa, terserah yang penting kita tidak berburuk sangka kepada orang lain. Terus saja perbaiki diri dan kualitas kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

Menyikapi bijak terhadap penilaian orang lain terhadap kita (baik penilaian jelek maupun pujian) memang tidak mudah. Tapi jika kita biasakan, insyaallah kita akan bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar