Jumat, 13 September 2019

Koleksi, Gengsi atau Donasi?

Koleksi, Gengsi atau Donasi?

Fahmi berlari sambil sedikit teriak, mengabarkan kalau Mang Aji sudah datang.

Segera saya susun beberapa biskuit ke dalam toples plastik, mengambil minuman dari kulkas dan memasukkannya ke dalam plastik.

“Berikan ini ke Mang Aji ya.”

Fahmi mengangguk kembali bergegas ke depan sambil menjinjing apa yang barusan saya siapkan untuk Mang Aji.

“Bu, toplesnya dikasihkan juga?” tanya Fahmi tiba-tiba. Saya mengangguk.

“Lebar atuh Bu. Pan biasana mah sok dikumpulkeun.” (Sayang dong Bu. Biasanya kan suka dikoleksi) Mang Aji muncul di belakang Fahmi.

Saya tersenyum. “Tidak apa, Mang. Bawa saja. Buat wadah saja di rumah Mang Aji saja ya.”

“Nuhun atuh Bu. Nuhun pisan.” Katanya sambil berbalik arah.

Saya berharap selain biskuitnya dimakan Mang Aji, toplesnya juga bisa bermanfaat buat wadah apa saja di rumahnya. Toh di rumah masih ada beberapa toples serupa. Dan memang tidak dipakai semua. Jadi buat apa?

Koleksi, Gengsi atau Donasi?

Mungkin kita terang-terangan tidak pernah korupsi uang kantor, tidak pernah berhubungan dengan riba, dan atau tidak pernah punya kelakuan jelek seperti mengurangi timbangan saat jual beli, tapi ada satu hal yang mungkin kita lupa, abai atau mungkin juga tidak (belum) tahu, padahal itu termasuk hal yang berat waktu dihisab. Ialah menumpuk barang padahal tidak digunakan.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.” (QS. At-Taubah : 34-35)

Pernah dengar seorang ulama menyampaikan jika apa yang kita simpan (koleksi) nanti di hari kemudian akan ada hisabnya. Misalnya simpanan alat solat yang gak kepakai, benda lain yang dibeli banyak terus gak kepakai. Atau simpenan-simpenan lainnya yang biasanya yang suka menyimpan barang-barang berlebihan (koleksi) itu adalah kaum perempuan. Hehehe bener apa bener? Ada yang suka (masih) koleksi tas, sepatu, dan mungkin toples atau alat makan yang terkenal itu?

Untuk mencegah hal tidak baik, daripada semua yang dikoleksi bikin berat-beratin beban dan tanggung jawab kita di hari penghisaban, bukankah lebih baik sebagian barang-barang yang tidak terpakai itu disedehkahkan. Bukankah itu lebih bermanfaat?

Saya pernah memiliki kebiasaan kurang baik. Suka lihat orang beli apa, saya ikut-ikutan. Padahal saya tidak sedang membutuhkan, membeli hanya karena nafsu, gengsi. Padahal kebiasaan kurang baik kelak akan dihisab dan menyusahkan diri sendiri.

“Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad)

Dipikir pikir bener juga. Itu reminder banget buat saya. Harta yang kita simpan belum tentu milik kita. Harta sejati yang akan menemani sampai kubur adalah harta yang kita sedekahkan, kita bagikan, atau kita donasikan.

Salut dan terharu ketika banyak teman yang selalu menyedekahkan atau menghadiahkan koleksi pakaiannya, jilbabnya, yang masih layak pakai pastinya, atau barang-barang koleksi yang masih bisa digunakan manfaatnya, kepada orang lain yang membutuhkan. Tidak menyimpan atau memajang sendiri padahal memang tidak dipakai.

Ulama lain mengisahkan tentang orang yang sudah mati sampai memohon untuk dibangkitkan kembali agar bisa sedekah. Karena dia merasakan betapa beratnya beban hisab atas harta dan barang-barang yang disimpan (dikoleksi), dan ia juga melihat betapa besarnya pahala dari sedekah.

Ini bukan (tulisan) racun, yang membawa virus atau hasutan. Tapi ini pengingat bagi saya sendiri. Bahwasanya hidup jangan berlebih-lebihan. Hidup lebih mudah jika kita sederhana dan apa adanya.

Oya, manteman sudahkah mencoba hidup bergaya minimalis? Minimal menyingkirkan barang yang tak perlu? Susahkah menjalaninya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar