Kamis, 18 Juli 2019

Pencapaian Sederhana Keluarga Petualang

Pencapaian Sederhana Keluarga Petualang

Murni mendaki gunung sampai puncak bersama anak usia 6 tahun tanpa menggendong anak sama sekali adalah pencapaian sederhana kami keluarga petualang yang mungkin bagi yang lain sangat sepele tapi bagi kami hal itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Sudah beberapa gunung kami kunjungi bersama anak di Pulau Jawa ini, kebanyakan memang ada saja kebagian menggendong anak. Entah katena medan yang dilalui sangat terjal dan berbahaya, atau karena anak ngambek, mogok jadi gak mau jalan. Sementara tidak mungkin perjalanan terhenti karena memperhitungkan bekal dan waktu yang sudah diestimasikan. Akhirnya biasanya kalau anak mogok jalan ya kami gendong.

Yang paling sering menggendong anak pasti ayahnya. Hahaha... Saya biarpun ibunya yang selalu ditempeli anak tapi kalau di gunung angkat tangan kalau disuruh menggendong. Jangankan bawa diri orang lain, bawa diri sendiri saja sudah ngos-ngosan.

Paling banter saya memangku anak kalau pas istirahat saja. Biasanya anak suka saya suruh tidur siang barang 20 sampai 30 menit. Nah anak akan cepat tidur kalau berada di pangkuan saya, daripada gogoleran di matras gitu saja.

Sejauh ini medan yang dirasa sangat sulit dan kami harus menggendong anak demi keselamatan adalah saat naik Gunung Slamet dan Ciremai. Gunung Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah itu bagian atasnya berbatu dan licin. Saat kami ke sana musim kemarau. Jadi debu dan bebatuan mudah jatuh. Karena itu kami mengambil jalan menggendong anak. Padahla sejak post satu, anak jalan sendiri. Meskipun ada tanjakan curam, anak tetap masih bisa merayap sendiri.

Di Gunung Ciremai sebagai puncak tertinggi di Jawa Barat anak kami gendong justru di jalur sebelum sampai menuju puncak. Sama musim kemarau, bedanya ini konturnya tanah. Yang kami pijak menjadi bukan tanah melainkan seperti pasir atau tepung? Dan itu debunya minta ampun menghalangi pemandangan. Anak jelas gak bisa melaju. Selain kaki selalu terperosok dalam, juga mata perih tidak mudah melihat ke depan. Jangankan anak, orang dewasa saja kesulitan melakukan perjalanan dalam kondisi seperti itu. Karenanya sampai post terakhir kami sepakat menggendong anak. Ayahnya tepatnya yang menggendong anak. Saya kebagian membawa carrier.

Baru kemarin akhir Juni 2019 kami merasa telah mencapai sesuatu yang sederhana tapi sangat membanggakan. Anak berhasil mendaki sampai puncak, tanpa kami gendong sebentar sekalipun.

Tidak direncana kami melakukan pendakian ke Gunung Gede ini. Selain sudah pernah dan lokasi cukup dekat (masih satu kabupaten dengan lokasi kami tinggal di Cianjur) juga karena hari-hari terasa padat dengan acara lain. Meski sedang libur sekolah tapi ayahnya selaku guru ia selalu saja ada kebagian tugas dari sekolah.

Tiba-tiba di group kami mendapat info salah seorang teman mau naik Gunung Gede melalui Putri, turun naik. Suami melihat jadwal, wah dua hari lagi. Keburu gak nih kalau kita ikut?

Menghubungi teman dan ia menyanggupi akhirnya kami sepakat naik bareng. Rencana berempat ternyata jadinya malah 9 orang. Audi, teman kami membawa lima orang temannya juga. Semakin ramai lah pendakian dadakan ini.

Anak kami sepertinya senang ada teman. Terlebih Audi dan Izai (pendaki termuda setelah Fahmi) sama suka anak kecil. Anak kami sampai némpél pada mereka. Mereka juga senang jagain anak kami selama perjalanan naik maupun turun. Alhamdulillah berkat kerjasama semuanya, kami bisa naik turun Gunung Gede tanpa harus menggendong anak. Ini pencapaian tertinggi kami sampai pertengahan tahun 2019 ini.

 

Bagaimana dengan teman-teman apa pencapaian terbaikmu di pertengahan tahun 2019 ini? Share dong pencapaianmu di pertengahan 2019 ini, sekecil apapun ceritakan ya sebagai titik balik yang lebih baik lagi. Siapa tahu jadi Insight dan inspirasi buat yang lain ☺️☺️☺️

Tidak ada komentar:

Posting Komentar