Kamis, 30 Mei 2019

Tradisi Lebaran di Kampung

Tradisi Lebaran di Kampung

Kampung jaman sekarang sudah jauh berbeda dibanding jaman sebelum ada internet masuk desa. Meski namanya kampung setelah teknologi sampai di pelosoknya tradisi serta adat istiadat setempat yang awalnya sangat dilestarikan dan dijaga perlahan memudar dan bahkan ada yang hilang tergerus jaman. Ketika memasuki sepertiga terkahir bulan Ramadhan, tradisi di kampung saya yang masih bisa kita saksikan sebagian di antaranya:

Bersih-bersih rumah

Setiap mau lebaran masyarakat giat beberesih. Halaman dirawat, rumah diganti cat, kaca dilap sampai mengkilap. Saat ini meski sebagian sudah menggunakan jasa kebersihan tapi sebagian tetap melakukan tradisi bebersih rumah ini.

Ketupat

Kakau ini tradisi yang sudah menasionalis, ya? Hampir semua tempat di tanah air kita bahkan sampai ke luar negeri pula memiliki kesamaan hari lebaran dirayakan dengan makan ketupat. Proses pembuatan ketupat yang unik tidak jarang jadi tontonan anak. Tapi sekarang orang yang bisa membuat cangkang ketupat sudah semakin jarang. Anak muda mulai enggan belajar menganyam dan kalah oleh yang namanya gengsi. Padahal membuat cangkang ketupat itu juga sebuah keahlian. Kalau sudah bisa tidak akan berat membawanya. Malah justru banyak manfaatnya.

Kue kering

Kalau di kampung tradisi bikin kue kering itu bukan kue sejenis nastar, puteri salju, kastangel dan atau keju, melainkan opak, kerewel alias kembang goyang, rengginang dan olahan sejenis lainnya. Membuatnya masih bekerja sama, satu sama lain saling membantu. Seru dan kompak. Sayang tradisi itu kini mulai hilang ditelan rasa kesibukan serta ego masing-masing yang kian hari kian tinggi.

Saling kirim makanan

Mengirim makanan menggunakan rantang masih bisa ditemui di kampung saya. Meski sebagian tantangnya sudah rantang modern yang harganya sampai setengah juta itu.

Makanan yang dikirimkan mayoritas hampir sama menunya seolah makanan tinggal ditukar-tukar saja. Menu dalam rantang bagaikan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya.

Nyekar

Berziarah ke makam keluarga dan kerabat masih banyak ditemui baik di desa maupun di kota. Tidak heran kalau areal makam bisa jadi ladang usaha dadakan saat masa mudik lebaran.

Ngaliwet

Tradisi ini paling seru dan enak. Selagi bulan Syawal, apa pun kegiatannya, ujungnya mah pasti makan-makan. Nah tradisi di kampung makan nasi liwet memiliki sensasi serta kenikmatan yang sangat jauh beda. Saat lebaran banyak ditemukan di setiap rumah pasti memiliki menu daging dan olahan berbahan santan, tapi ngaliwet dengan ikan asin plus lalap sambal itu tetap nikmatnya tidak bisa tergantikan. Di tempat saya meski lebaran ngaliwet tetap tidak atau belum pernah tergantikan. Kecuali orang sudah tidak lagi doyan makan kali ya hehehe...

 

Masih banyak tradisi lebaran di kampung saya yang bisa digali kembali. Sayangnya kecanggihan teknologi sedikit banyak sudah membawa dampak terhadap itu semua. Tradisi di kampung yang mulai mengota ini perlahan tapi pasti suatu saat akan hilang dari peradaban muka bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar