Senin, 13 Mei 2019

Sikat Gigi Bulan Puasa

Menyikat Gigi di Bulan Puasa

Menyikat gigi saat bulan puasa, salah satu yang saya hindari dan ajarkan kepada anak. Maksudnya kami selalu menyikat gigi hanya dalam rentang waktu setelah waktu berbuka puasa dan waktu sebelum imsak saja. Kenapa begitu? Karena saya khawatir anak belum bisa membedakan. Sementara pasta gigi dia ada rasa mint dan wangi buah. Selain itu ya sebagai pembelajaran untuk disiplin saja bahwa segala sesuatu ada waktunya. Dengan demikian saya harap anak kelak dewasa bisa menahan diri dari hal-hal yang sebaiknya dihindari.

Tapi kemarin pagi, saya membiarkan Fahmi, anak saya menyikat gigi lewat dari waktu imsak. Itu karena saya pikir Fahmi tidak akan berpuasa secara sejak kemarin dan semalam ia kena demam. Lemas dan pucat sekali wajahnya.

Kemarin Minggu anak-anak libur sekolah dan tidak berolahraga lari keliling lapangan seperti biasa dikarenakan bulan puasa. Fahmi dan teman-temannya bermain di depan pabrik penggilingan pagi samping rumah. Padahal di situ panas. Iyalah wong itu tempat menjemur padi.

Setelah bosan bermain pulang dan kebetulan depan rumah lewat odong-odong yang ramai ditumpangi anak-anak. Tidak ingin tertinggal teman-teman yang sudah duduk di dalam, Fahmi memaksa ingin naik meski odong-odongnya sudah penuh. Tapi si bapaknya baik hati, Fahmi ditempatkannya di depan bersama dua anak lain. Fahmi senang. Leluasa bisa melihat ke depan tanpa terhalang teman.

Pulang dari naik odong-odong hampir duhur. Langsung setelah istirahat sebentar bersih-bersih dan ambil air wudhu. Lalu seperti biasa dengan ayahnya solat duhur di masjid.

Mba pulang dari masjid inilah saya merasa dahi Fahmi tidak seperti biasa. Demam. Saya segera menyuruhnya istirahat. Padahal saya sudah khawatir. Mana besok Senin nya kan mau ulangan semester akhir di sekolah.

Jangan-jangan Fahmi masuk angin, setelah panas-panasan di depan penggilingan pabrik tadi lalu naik odong-odong di depan pula.wah semoga tidak apa-apa. Doa saya.

Tapi benar saja, bangun tidur siang, Fahmi kena demam. Wajahnya pucat. Saya suruh berbuka saja, tapi ni anak tidak mau. Sayang katanya kalau harus batal. Akhirnya sampai waktu berbuka ia hanya gogoleran sambil keluar keringat dingin.

Antara sedih dan bangga saya tuh. Ni anak meski sakit tetap kuat tidak ingin membatalkan puasanya. Saya dan suami sepakat besok tidak puasa juga tidak apa-apa. Toh belum wajib bagi anak seusia Fahmi, 6 tahun lewat 2 bulan ini.

Makanya Senin tadi saat sahur, saya tidak membangunkan Fahmi. Tapi tu anak bangun sendiri karena tahu jam sahur ada film Ultraman kebanggaannya. Hehehe. Saat itu masih agak lemas. Tapi sudah tidak demam. Kami tidak memaksanya sahur, tapi ia minta roti dengan susu. Dimakan hanya beberapa gigitan di pinggirnya. Sebelah juga tidak pokoknya dikit banget.

[caption id="attachment_8186" align="aligncenter" width="300"] Ini sisa roti yang digigit Fahmi saat sahur kemarin[/caption]

Saat imsak saya tidak segera menyuruhnya nyikat gigi. Karena saya pikir Fahmi tidak usah puasa dulu. Lah itu anak minta sikat gigi ternyata. Dia sadar juga karena sudah terbiasa selalu saya bilangin menyikat gigi sebelum imsak itu lebih baik.

Selama ulangan di sekolah Fahmi tampak sehat. Saya sudah lebih tenang. Demam anak sudah hilang.

Saya pikir pulang sekolah ia akan minta berbuka secara ia tidak makan sahur. Tapi ternyata tidak. Meski tampak lemas dan pasti lapar Fahmi tetap bertahan berpuasa.

Duh anak ini teguh juga. Orang dewasa saja kalau sahur hanya makan pinggiran roti tawar pasti gemetaran. Bahkan tidak jarang ada yang jadikan alasan tidak kuat karena tidak (cukup) sahur lalu menjadikan alasan untuk berbuka. Lah ini Fahmi saya suruh (sarankan) berbuka malah geleng kepala. Sayang ah, katanya.

Semoga puasa serta ibadah lainnya saat kecil ini jadi landasan kuat kelak jika kamu sudah dewasa, ya Nak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar