Jumat, 03 Mei 2019

Balada Mantan TKW: Berani Lebih Baik Meski Pahit #AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia

Balada Mantan TKW: Berani Lebih Baik Meski Pahit #AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia

 

Demi apa aku bisa bertahan belasan tahun jadi TKW (Tenaga Kerja Wanita), kalau bukan demi kesenangan, kebebasan, dan kebahagiaan. Yang kesemua itu tidak mungkin aku dapatkan jika aku hanya tinggal diam di kampung. #AyoHijrah merantau ke luar negeri, Singapura, Hongkong, dan Taiwan telah memberikan segalanya. Lalu buat apa aku pulang?

[caption id="attachment_8117" align="aligncenter" width="300"] Sumber Syaeful Anwar, MODP Future Leader PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.[/caption] Negara tempatku bekerja memberikan jaminan kebebasan kepada warga negara manapun selama memiliki izin tinggal. Termasuk aku yang bekerja sebagai domestic helper. Meski menyandang status babu, namun kehidupanku tidak kalah senang dibanding temanku yang jadi nyonya sekaligus istri muda dari seorang pejabat setingkat camat. Belanja, bergaul, memiliki barang bermerk, travelling bersama majikan atau hangout bersama teman, semua bisa kunikmati tanpa beban.

Termasuk karir, karena selain kursus ada juga sekolah persamaan dan kuliah kelas karyawan yang bisa diikuti saat libur kerja. Atau mau aktif di organisasi, bisa banget. Teman "satu angkatanku" Eni Lestari yang kini jadi Ketua Aliansi Migran Internasional (IMA) dan berkesempatan bicara di forum PBB di New York, Amerika Serikat. Ia menorehkan sejarah, menjadi orang Indonesia pertama yang berbicara di KTT mengenai Pengungsi dan Buruh Migran.

[caption id="attachment_8116" align="aligncenter" width="300"] Teman satu angkatan di organisasi buruh, Eni Lestari.[/caption]

Kecanggihan teknologi negara-negara Macan Asia pun memberiku pengalaman mengenal dunia internet lebih dahulu dibandingkan teman-teman sekolahku dulu yang juara umum dan mengenyam bangku kuliah di ibu kota negara. Singkat kata apa yang dahulu tidak mungkin aku dapat, saat menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dimana istilahnya waktu tidurku saja dibayar, aku bisa meraih semuanya. Termasuk membayar hutang keluarga dan membahagiakan adik serta ibu tercinta.

Tapi benarkah ibuku bahagia? Ternyata kiriman uang rutin tiap bulan tidak bisa membeli hati ibuku. Meski ia tercukupi segala keperluannya namun hati kecilnya terus menjerit, meminta kepada Sang Maha Pencipta untuk memberiku kesadaran supaya aku mau pulang kampung.

“Mama ingin Eteh di rumah saja. Lihat teman-temanmu semua sudah pada punya anak bahkan cucu. Mama malu tetangga selalu ngomongin Eteh sebagai perawan tua...”

Demikian ucapan ibuku saat aku pulang kampung untuk cuti. Sepuluh tahun setelah aku merantau di luar negeri. Tapi saat itu hatiku sedikitpun tidak bergeming. Aku tetap tambah kontrak dan kembali ke rumah majikan. Bukan tidak ada niat untuk berkeluarga, tapi jujur aku merasa sayang kalau kesenangan dan kehidupan glamor di luar negeri yang selama ini aku rasakan harus ditinggalkan begitu saja.

Tapi ternyata akupun tidak bisa berpura-pura. Setelah tahu ibuku ingin aku pulang dan segera berkeluarga, meski raga ada di Taiwan, namun jiwaku terus melayang-layang. Teringat omongan ibu, teringat pepatah guru ngaji waktu kecil, teringat cita-cita almarhum bapak, semua kenangan seakan diputar berulang-ulang.

[caption id="attachment_8118" align="aligncenter" width="300"] Sumber Facebook Bank Muamalat[/caption]

Teman di perantauan banyak yang berusaha menjodohkan aku. Tapi satu pun tidak ada yang sreg. Sementara diam-diam aku selalu berdoa sebagaimana doa ibuku di setiap sepertiga malam terakhir, siapapun kelak yang akan jadi jodohku, yang pasti yang terbaik menurut Nya. Aku ikhlas.

Beberapa bulan jelang kontrak kerjaku finish, aku galau tingkat dewa. Majikan mendesak aku mau lanjut atau pulang Indonesia? Aku benar-benar dibuat bingung. Kurang lebih 13 tahun bekerja aku dapat apa? Apakah aku akan selamanya menggantungkan hidup kepada orang lain di negara orang? Bagaimana dengan usiaku, usia ibuku, bukankah sia-sia saja jika jerih payahku selama belasan tahun itu ditinggal ibu dalam suasana hatinya tidak bahagia? Atau mungkin tidak ridho? Naudzubillahimindzalik.

Hijrah: Mudik Demi Lebih Baik

Mendapat kemantapan hati untuk pulang ke Indonesia setelah aku sholat istikharah. Aku mantap finish contract meski di kampung tidak punya usaha. Aku akan semampunya hidup bersama ibu dan adikku berbekal tabungan yang tidak seberapa. Kutinggalkan apa yang selama ini telah kucapai. Karir, hobi, relasi dan semuanya.

Beberapa bulan tinggal di kampung aku menikah dengan lelaki desa nun jauh di pelosok sana atas persetujuan ibu dan guru mengaji. Tidak ada istilah pacaran, tidak ada hajat atau resepsi. Kami menikah di KUA Kecamatan Sukanagara hanya diantar ibu, adikku, serta Nani, teman saat kerja di Taiwan yang kebetulan sedang cuti. Dan dari pihak calon suami hanya diantar dua orang, Pak Haji selaku sesepuh di kampung dan Pak Tatang saat itu menjabat sebagai ketua RT. Tidak ada orang tua atau saudara dari pihak calon suami. Calon ibu mertua tengah sakit struk dan itu sudah membuatku lebih dari memaklumi.

Perubahan statusku jadi istri sekaligus mengubah 360 derajat kehidupan dan kebiasaanku. Aku diboyong ke daerah dimana suami mengabdi sebagai honorer tenaga pendidik di perbatasan antara Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. Saat itu akses jalan menuju ke sana sangat sulit dan terjal. Selain masih susah sinyal dan listrik byar pet, tidak jarang diberitakan juga banyak begal. Lokasi yang horor banget pokoknya. Apakah ini jawaban Tuhan atas doa-doaku selama ini? Aku yang terbiasa hidup simpel, serba elektrik, harus turun ke dapur menyalakan perapian kayu bakar demi bisa menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan mama mertua. Aku yang biasa haha hihi, easy come easy go, harus manut dan taat, secara suami selain guru di sekolah juga ia sekaligus guru (ustadz) mengaji. Di kampung ia memiliki prestise tersendiri. Aku dituntut harus bisa menyesuaikan diri. [caption id="attachment_8119" align="aligncenter" width="300"] Sumber Twitter Bank Muamalat[/caption]

Sehari, seminggu, sebulan, aku berusaha menerima semua meski jujur hati tidak kerasan. Diam-diam aku jadi merasa betah berada di dekat perapian dengan kayu bakar yang basah, supaya bebas air mata ini mengalir, tanpa dikira aku sedang mengalami kesedihan yang mendalam karena aku bisa membuat alibi tengah berusaha membuat api yang tidak juga kunjung menyala. Asap hitam dan jelaga menjadi teman baikku, serasa lebih indah dari asap rokok atau sejuknya AC yang kerap jadi hiasan ruangan ketika aku menikmati liburan saat masih di Taiwan. Aku ingin berontak tapi tidak bisa. Aku ingin menggugat Tuhan kenapa semua ini aku dapat? Apa salahku?

Tiga bulan kemudian aku sakit. Aku pulang ke rumah ibuku karena merasa kasihan suami harus merawat dua orang perempuan yang sangat dicintai dalam hidupnya. Aku dan ibunya. Sakitku ternyata bukan sembarang sakit, melainkan aku sedang ngidam. Hanya karena sama-sama tidak tahu jadi kami tidak mengira kalau sakitku ini karena sedang mengandung.

Sejak mengetahui aku berbadan dua keinginan untuk mengabdi kepada suami semakin meninggi. Entah mendapat kekuatan darimana aku seolah mampu menghadapi kenyataan hidup yang sebelumnya aku sesali. Terlebih ketika mama mertua meninggalkan kami untuk selamanya. Aku berusaha fokus dan ikhlas mengurus anak serta suami dengan segala kondisi dan konsekuensinya.

Aku salah besar selama ini telah menyalahkan Tuhan. Karena setelah berusaha mengikhlaskan semuanya, ternyata kenikmatan bertubi-tubi datang tiada henti kepada kami. Mulai suami yang diangkat kerja menjadi abdi negara, sarana dan prasarana ke kampung kami yang mulai membaik, sampai berkat keridhoan Nya, keridhoan suami dan restu ibuku sendiri hingga kini meski aku tinggal di pedesaan namun tetap bisa berkarya dan berbagi manfaat. Insyaallah.

[caption id="attachment_8120" align="aligncenter" width="300"] Sumber Twitter Bank Muamalat[/caption] Untuk bisa hijrah ke jalan yang lebih baik itu memang tidak mudah. Tidak pula secara instan. Suami tidak secara langsung mendidik ku untuk begini untuk begitu, tetapi melalui sikap dan perilaku yang ia praktikkan kepada santri anak didik mengaji di rumah hingga aku menjadi sadar diri. Aku yang terbiasa cuek dengan pakaian 4 musim di luar negeri mulai belajar menutup aurat. Aku yang merasa apa-apa sudah cukup dengan menggugel saja, kini mulai berani datang ke pengajian dan majelis taklim di kampung. Kesabaran suami yang selalu mendorongku untuk belajar, karena menuntut ilmu bagi setiap Muslim sesuai hadist Rasulullah adalah wajib hukumnya.

Aku baru menyadari dan merasakan betapa hijrahku kali ini teramat nikmat pada akhirnya. Tuhan telah beri jalan yang terjal supaya aku bisa menikmati setiap lelah dan perihnya. Masalah rumah tangga yang pasti dimiliki oleh setiap pasangan kuyakin bukan karma Tuhan atas kelalaianku selama ini saat bekerja di negara non muslim, tetapi sebagai ujian supaya kami bisa mencapai kelas yang lebih tinggi. Sungguh apa yang kurasa berat sebelumnya, sedikitpun tidak ada seujung kukunya perjuangan hijrah yang dilakukan Rasulullah pada masanya.

Aku memang bukan lulusan pesantren, tapi aku punya semangat ingin hijrah untuk belajar jadi lebih baik. Meski itu pahit. Setidaknya aku bisa jadi pemicu bagi anakku, serta anak didik santri di rumah untuk terus meningkatkan diri ke arah ajaran Islam yang baik, sempurna serta menyeluruh. Sebagaimana ajakan #AyoHijrah yang digagas Bank Muamalat, terus berupaya tidak hanya berhijrah secara ibadah, tapi juga dalam hal finansial atau keuangan.

Bank Muamalat Indonesia

Sebagai ibu rumah tangga mengelola keuangan keluarga sudah jadi tugasku sejak menikah. Apalagi suami tipe yang tidak ingin ribet. Gaji dan lainnya semua ia serahkan kepadaku. Tapi bukan berarti aku bisa semena-mena menggunakan uang itu untuk keperluan pribadi atau hal lain yang konsumtif. Secara tidak langsung aku harus belajar memanage keuangan supaya pos-pos yang telah kami sepakati bisa terisi. Kami bukan nasabah Bank Muamalat meski sejak masih bekerja di luar negeri aku sudah mendapat informasi terkait Bank Muamalat Indonesia yang jadi bank pertama syariah di Indonesia. Bank syariah yang sebenar-benarnya murni syariah terlahir 1 Nopember 1991 atas prakarsa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia. Sudah terdaftar dan diawasi pula oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Bedanya Bank Muamalat dengan bank konvensional ada pada sistem kerja perbankannya yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip hukum Islam. Tentu saja caranya pun berdasarkan Al-Quran dan Hadist.

Bank Muamalat berdiri sendiri sehingga tidak menginduk kepada bank lain. Pengelolaannya berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi langsung oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah).

[caption id="attachment_8122" align="aligncenter" width="300"] Sumber Twitter Bank Muamalat[/caption] Begitu pun suami, ia menjadi nasabah sebuah bank karena ditunjuk untuk mempermudah proses urusan keuangan dan pekerjaan. Tidak adanya kantor Bank Muamalat di daerah kami mungkin jadi alasan sampai saat ini kami belum jadi nasabahnya. Bank Muamalat terdekat ada di kota Kabupaten Cianjur, dengan jarak tempuh 3 jam kendaraan dari kampung tempat kami tinggal di Kecamatan Pagelaran.

#AyoHijrah

Ajakan #AyoHijrah dari Bank Muamalat yang dimulai awal Oktober tahun lalu sedikit banyak telah membuka mata hati kami. Menyentuh pikiran dan menggerakkan lisan bahwa kami pun menjerit ingin berubah untuk lebih baik. Tidak hanya dalam segi tata cara ibadah tetapi juga dalam hal finansial supaya tata kelola yang selama ini kami lakukan jadi lebih baik dan berkah. Sebagaimana ajakan Bank Muamalat melalui #AyoHijrah supaya masyarakat teredukasi dan mulai berhijrah dalam hal pengelolaan keuangan dengan memanfaatkan layanan perbankan Syariah untuk hidup yang lebih berkah. Sama seperti harapan Bank Muamalat dengan ajakan #AyoHijrah untuk negara kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam, aku pun ingin ada peningkatan kualitas diri, untuk semakin istiqomah dalam menjalankan syariat Islam, khususnya dalam urusan keuangan perbankan. Mungkin dengan mulai pindah menggunakan layanan bank syariah hidup ini akan jauh lebih tenang dan berkah? [caption id="attachment_8124" align="aligncenter" width="300"] Pertama diboyong ke rumah mertua langsung jumpa anak didik santri santriwati sang suami[/caption]

 

[caption id="attachment_8123" align="aligncenter" width="300"] Hijrah berusaha lebih baik. Belajar bersama anak-anak Pondok Mengaji Al Hidayah[/caption]

 

[caption id="attachment_8126" align="aligncenter" width="300"] Kini aku yakin, dengan #AyoHijrah semuanya jadi lebih indah[/caption] Semoga dimudahkan dalam segala urusan. Sekarang teknologi Bank Muamalat pun sudah setara dengan bank lain. Pelayanan sudah ditunjang dengan sistem Mobile Banking, Internet Banking dan jaringan ATM yang banyak tersebar. Meski kami jauh tinggal di pelosok tapi setelah mendaftar dulu jadi nasabah di kota, kedepannya urusan sudah ada dalam genggaman. Mungkin juga kedepannya kantor cabang Bank Muamalat berani menjemput bola, akan hadir buka cabang di Cianjur Selatan ini? Mungkin dengan totalitas hijrah disertai keyakinan Tuhan akan mengabulkan. Aku percaya saja jika ada niat pasti ada jalan.

Yuk kita perdalam lagi pemahaman terkait gerakan #AyoHijrah melalui akun resmi Bank Muamalat Indonesia.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar