Rabu, 03 April 2019

Kampung Adat Cireundeu: Do and Dont di Leuweung Larangan Puncak Salam

Kampung Adat Cireundeu: Do and Dont di Leuweung Larangan Puncak Salam

Masih tentang kisah perjalanan kami #keluargapetualang ke Kampung Adat Cireundeu, bagian pertama: tentang tradisi unik makan pantang nasi, kali ini cerita perjalanan kami kemping di Puncak Salam, salah satu leuweung (hutan) larangan (terlarang) yang dikeramatkan. Sudah saya senggol di tulisan pertama kalau tulisan bagian 2 ini akan bercerita mengenai keseruan, mitos dan kisah spiritual perjalanan kemping di Puncak Salam. Mungkin ada yang penasaran kenapa naik ke Puncak Salam harus nyeker alias tidak pakai alas kaki? Kenapa tidak boleh pakai baju warna merah? Dan cerita warga kalau ada firasat apa gitu saat mendaki lalu “bertemu” hewan khas setempat, apa akibatnya?

Nah semua itu ulasan lengkapnya ada di tulisan bagian ke 2 ini. Yuk kuy ah mulai saja lanjut bacanya biar gak penasaran lagi...

[caption id="attachment_7946" align="aligncenter" width="300"] Di Puncak Salam ini ada banyak pantangan dan kisah religius.[/caption] Puncak Salam adalah dataran tinggi yang posisinya berada di belakang Kampung Adat Cireundeu (KAC). Tingginya sekitar 900 mdpl. Lama perjalanan dari KAC ke Puncak kurang lebih 30-60 menit. Tergantung bagaimana kita jalan dan banyak tidaknya istirahat.

Hutan di Cireundeu terbagi dalam tiga bagian

1. Hutan baladahan Yaitu hutan yang dipakai bercocok tanam oleh masyarakat. 2. Hutan tutupan Yaitu hutan yang kelestariannya dijaga. Boleh ditebang tetapi harus ditanami kembali 3. Hutan larangan Yaitu hutan yang dikeramatkan. Tempat melakukan upacara adat atau ritual

Wajib lepas alas kaki

Namanya hutan larangan, tentu saja ada aturan atau adat yang harus kita taati. Kang Jajat dan Kang Tri menjelaskan kalau mau ikut ke Puncak Salam, semua alas kaki harus dilepas. Jadi pengunjung treking ke puncak dengan telanjang kaki alias nyeker. Tua muda, anak atau dewasa semua alas kaki harus dilepas. Semua barang yang tidak boleh dipakai ke atas bisa dititip di KAC yang pastinya terjamin keamanannya. Alasannya kenapa harus lepas alas kaki? Pasti ada yang tanya gitu. Maklum anak milenial jaman now kan suka kritis. Langsung nyela kalau ada yang tidak dimengerti. Jawabannya, ini erat kaitannya sama kepercayaan masyarakat KAC yang meyakini kalau dalam kehidupan ini, ada Gusti anu Ngasih (Tuhan yang memberi), ada Alam nu ngasah (Alam yang mendidik), dan ada Manusa nu ngasuh ( manusia yang menjaga). [caption id="attachment_7977" align="aligncenter" width="300"] Semua melepas alas kaki sebelum mendaki[/caption]

Dari kepercayaan itu masyarakat KAC mengambil kesimpulan bahwa Tuhan telah memberikan karunia berupa alam dan kekayaannya. Tidak ada jarak antara manusia dengan alam dan Pencipta. Itu yang menjadi alasan masyarakat KAC tidak membolehkan pengunjung menggunakan alas kaki khususunya ketika memasuki wilayah alam yang oleh mereka dikeramatkan (Gunung Salam) supaya manusia alam dan Sang Pencipta tidak ada jarak (tidak terhalang sendal atau sepatu dan alas kaki lainnya).

Dengan melepas alas kaki, selain untuk terapi dan kesehatan juga sebagai alat pendeteksi terhadap niat baik atau buruk manusia yang secara langsung bisa dirasakan oleh alam.

Hindari menggunakan pakaian dominan warna merah

Apa penyebab nya? Kembali kepada tradisi dan kepercayaan masyarakat KAC yang menurut mereka unsur alam ini terdiri dari 4 pokok yaitu: angin yang diwakili warna kuning, air yang diwakili warna putih, tanah yang dominan warna hitam serta api yang identik dengan warna merah. Di perjalanan menuju Puncak Salam, kita akan melewati mata air yang dinamakan Nyimas Ende. Menurut tradisi KAC, mata air atau sirah cai bagi mereka adalah sebuah kabuyutan atau kapamalian yang harus dijaga kesucian dan kesakralannya.

Ketika memasuki wilayah suci itu, diusahakan jiwa dan raga manusia harus dalam keadaan bersih. Sementara kita tahu api yang (berwarna merah) bersifat panas selalu dikaitkan dengan tabiat manusia yang terdiri dari amarah, nafsu, iri dengki dan sifat buruk lainnya. Karenanya hal itu (mengenakan pakaian dominan warna merah) tidak diperkenankan dengan tujuan menghindari hal hal (sifat) yang tidak diinginkan.

Tepuk jidat itu manakala baru nyadar kalau Fahmi bawa baju tiga, satu warna merah dan dua warna orange. Aduh, jadilah warna orange yang dipakai buat naik. Beruntung ada jaket yang warnanya abu-abu.

 

Wanita datang bulan dilarang mendekati sumber mata air

Sebagaimana wanita yang sedang berhalangan dilarang memasuki wilayah mata air Nyimas Ende yang maksudnya menjaga kesucian wilayah itu. Tapi kalau mendaki ke Puncak Salam, tentu saja wanita yang sedang berhalangan masih diperbolehkan. [caption id="attachment_7976" align="aligncenter" width="300"] Kecil kecil semangatnya maksimal kalau naik gunung[/caption] Akhirnya kami pun melepas sandal. Saya tadinya khawatir Fahmi akan mogok dan minta digendong. Tapi ternyata tidak. Itu anak malah senang banget jalan telanjang kaki. Apalagi cuaca saat itu cukup bagus. Tanah yang kami pijak cukup empuk. Tidak becek tidak juga keras.

Goes to Puncak Salam

Di perjalanan hampir saja saya menginjak kalajengking hitam seukuran 2 jari orang dewasa. Tidak ada foto bukan hoax, tapi saya tidak sempat foto karena saya sudah ketakutan duluan dan segera menjauh membawa Fahmi. Di perbatasan antara hutan tutupan dan hutan larangan Kang Tri selaku sesepuh dari KAC yang mendampingi rombongan kami melakukan ritual terlebih dahulu dengan membawakan rajahan serta rapalan doa. Kami semua berkumpul ada yang duduk menyimak ada juga yang asyik mengabadikan momen dengan gadget. [caption id="attachment_7975" align="aligncenter" width="300"] Ngarajah di perbatasan tiba-tiba hujan turun![/caption]

Entah alam mendengar doa kami, atau sebaliknya, tiba-tiba hujan turun. Kami membuka peralatan perbekalan masing-masing. Ada yang mengenakan jas hujan, ada yang membuka matras dan dijadikan payung untuk berteduh. Saya sendiri kebetulan membawa payung.

Melanjutkan perjalanan memasuki hutan larangan, hujan masih menyertai kami. Duh nafas hampir saja habis nih manakala merayap di sela sela pohon pinus disertai ketakutan hujan turun lebih besar. Jika tidak hujan mungkin bisa istirahat sebentar.

[caption id="attachment_7983" align="aligncenter" width="300"] Saung di kebun pinus[/caption]

Tapi Alhamdulillah kami semua sampai di saung yang jadi ciri kalau Puncak Salam tempat kami mendirikan tenda tinggal sekitar 50 meter lagi. Di saung itu ada balai-balai dari bambu juga ada tungku perapian. Saung itu dibuat khusus untuk penjaga dari KAC. Hujan masih turun tetapi kami memaksakan diri mendekati lokasi tenda, demi bisa segera melihat pemandangan dari Puncak Salam yang katanya indah.

Benar saja meski sebagian terhalang kabut tetapi kerlap kerlip lampu dari berbagai wilayah di Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan wilayah lain nampak jelas. Sayangnya matahari tenggelam tidak bisa kami saksikan karena terhalang awan pekat yang menggantung.

Api unggun di Puncak Salam

Masuk tenda, hampir bisa dibilang kami tidak keluar lagi karena hujan turun semakin besar. Kalau tidak bawa Fahmi, bisa saja saya memaksakan diri. Tapi demi anak, saya memilih di dalam tenda saja bersama Teteh-teteh dari GenPI Cianjur. Mengisi waktu, Fahmi mengajak mereka main ular tangga, ludo, dan mendongeng. [caption id="attachment_7972" align="aligncenter" width="300"] Keseruan di dalam tenda[/caption]

Saat itu Kang Dede Diaz yang baru tiba dari Bali dan langsung naik menyusul ke Puncak Salam mengunjungi tenda kami dan kami ngobrol banyak. Meski sering interaksi di sosial media dan blog, namun saat itu pertama kali kami bisa jumpa langsung. Semoga jadi kemping yang barokah, membawa jalinan silaturahmi antar blogger dari berbagai daerah.

Di Puncak Salam, untuk urusan ke kamar kecil, pihak pengurus KAC menyediakan toilet sementara. Tapi karena darurat air, otomatis kami tidak bisa mandi. Bahkan untuk berwudhu pun kami kesulitan. Untung saja saat itu hujan cukup deras. Kami menadah air hujan untuk bersuci.

Pukul delapan malam, meski hujan masih turun semua peserta kemping berkumpul untuk kembali merajah. Lantunan kidung tradisi yang dibawakan Kang Tri diiringi suara kecapi terdengar sangat kontras. Bikin merinding pikiran melayang. Selesai ngarajah, api unggun dinyalakan dan itu cukup menghangatkan suasana yang terasa dingin mencekam. Terasa nikmat manakala menyantap nasi eh rasi dengan lauk pauk yang sangat tradisional seperti urap daun singkong, sambal, pindang bumbu merah, perkedel dan tahu. Minumnya ada bandrék yang bikin tenggorokan terasa hangat. Camilan lainnya ada kacang rebus dan jagung. [caption id="attachment_7973" align="aligncenter" width="300"] Menu makan malam rasi dan sayur tradisional[/caption] Seperti biasa kalau yang lain umumnya kedinginan,  Fahmi mah katanya justru hareudang. Maka meski diherankan oleh yang lain, disaat hujan turun tanpa henti membawa udara dingin saya cuek saja mengipasi Fahmi dengan hihid yang selalu saya bawa kemanapun pergi kalau bareng anak.

Sunrise!

Hujan baru reda sekitar pukul tiga dini hari. Hingga subuh tiba, suara langkah kaki menginjak ranting di luar mulai terdengar. Orang pada ramai berburu sunrise saya tetap ngelonin Fahmi yang tibra kasubuhnakeun. Ayah Fahmi yang lebih dulu keluar untuk subuh dan mengabadikan pemandangan sekitar di pagi itu. [caption id="attachment_7969" align="aligncenter" width="300"] Sunrise yang malu malu[/caption] Ada kelakar tersendiri di antara kami saat akan keluar dan masuk tenda yang cukup bikin heboh. “Eh barusan aku ngelindur apa gimana ya, keluar tenda masa nyari-nyari sendal aku mana kok gak ada?” Kontan semua tertawa. Pake tanya sendal, wong semua tidak ada yang pakai sendal kok. Kakakakakak...

Api unggun sisa semalam pagi itu masih menyala. Baranya lebih dari cukup mematangkan jagung yang kami bakar. Sarapan sederhana yang tidak akan terlupakan pokoknya.

[caption id="attachment_7968" align="aligncenter" width="300"] Sarapan bakar jagung[/caption]

Pukul delapan kami semua bersiap turun dari puncak. Kembali ke KAC untuk mengakhiri petualangan kami dua hari satu malam di Cireundeu. Kémping di Puncak Salam yang sudah bikin kami senang secara tahun 2019 ini adalah jadi kemping pertama #keluargapetualang.

Karena hujan semalam, waktu turun jadi tidak seindah yang dibayangkan. Kontur tanah pijakan yang menurun jadi semakin licin karena berair. Banyak diantara kami yang terjatuh dan kotor kena lumpur di sana sini. Tapi keseruan selama perjalanan itu sedikitpun tidak buat kami sedih yang ada tawa bahagia diselingi kerjasama. Ya satu sama lain kami saling menjaga dan membantu. Solid banget. Naik bareng turun pun tetap bersama-sama. Terimakasih untuk Kang Dede dan siapa lupa namanya yang ngasih tongkat bambu ke saya. Sungguh tongkat itu sangat berjasa mengimbangi beban saya hingga saya bisa turun dengan lancar selamat.

[caption id="attachment_7970" align="aligncenter" width="169"] Treking pole tradisional yang sangat berjasa. Terimakasih buat yang ngasih maaf lupa namanya siapa hehe[/caption]

Arti firasat binatang setempat

Istirahat sejenak di Imah Panggung --tempat kami dijamu dan istirahat-- diisi dengan ramah tamah antar sesama peserta kemping dan pihak terkait seperti Panitia acara, perwakilan GenPI, dan sesepuh KAC. [caption id="attachment_7967" align="aligncenter" width="300"] Imah Panggung, aulanya KAC[/caption] Saat sesi tanya jawab diketahui kalau sebenarnya di Puncak Salam ada hewan khas Puncak Salam yang tetap tinggal di sekitar hutan larangan yaitu elang hitam, meong congkok, musang dan babi hutan.

Melalui hewan-hewan tersebut alam kadang memberi pesan. Seperti kalau ada suara burung elang di hutan larangan, itu tandanya firasat tidak baik. Turun dan tidak melanjutkan acara kemping bisa jadi pilihan. Bukan berarti manusia percaya kepada burung, tetapi naluri burung yang sudah kuat dan peringatan alam biasanya tidak bisa diartikan secara implisit oleh manusia. Jadi saat mendaki kita “bertemu” hewan khas sebaiknya segera “konsultasikan” dengan sesepuh KAC.

[caption id="attachment_7966" align="aligncenter" width="300"] Ngariung sebelum berpisah[/caption]

Meski dibarengi hujan yang hampir tidak ada henti kami masih bersyukur bisa kemping dengan selamat dan penuh kesan. Dua hari satu malam di KAC yang tidak akan kami lupakan.

Berminat untuk mengunjungi KAC? Silakan datang langsung ke Cirendeu atau hubungi salah satu sesepuh KAC berikut:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar