Senin, 25 Februari 2019

Alun-alun Cianjur: Land Mark Percontohan Seluruh Kota Kabupaten di Indonesia

Alun-alun Cianjur: Land Mark Percontohan Seluruh Kota Kabupaten di Indonesia

  Ibarat obat penawar kecewa, beberapa minggu setelah Bupati Cianjur kena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK beserta pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Alun-alun Cianjur sebagai land mark kota tauco ini diresmikoleh Presiden RI Pak Jokowi.

Rasanya baru kemarin saja Alun-alun Cianjur yang berlokasi di eks-Pasar Induk Cianjur yang terbakar beberapa waktu lalu itu dibongkar dan dipagar seng. Lalu diawali dengan penanaman pohon yang dilakukan orang nomor satu di Cianjur saat itu (sebelum OTT dan diganti oleh wakilnya) Irvan Rivano Muchtar.

Saya masih ingat hari itu hari Selasa saat resmi dimulainya kegiatan penyiapan fasilitas umum ruang terbuka hijau (RTH) Alun-alun Cianjur yang akan dikerjakan dengan dana yang bersumber dari dana APBD Kabupaten Cianjur.

Fasilitas yang ada di RTH Alun-alun Cianjur kata Irvan saat itu akan diperuntukan bagi warga sebagai ikon Cianjur dengan 3 pilar utamanya Ngaos, Mamaos dan Maénpo yang nantinya menjadi bangunan monumental kebanggaan warga serta sebagai pusat seni dan budaya.

[caption id="attachment_7719" align="aligncenter" width="300"] Bagaimanapun ada jasanya dalam pembangunan RTH Alun2 Cianjur[/caption] Dalam maket yang dipasang terlihat akan dibangun monumen Al Quran, Teater Kacapi Suling, Gedung Maenpo dan akan didirikan menara dengan fasilitas elevator sehingga warga dapat melihat kota Cianjur dari atas ketinggian. Pokoknya bakal jadi RTH yang dapat dinikmati warga sebagai fasilitas rekreasi umum.

Diresmikan Presiden RI

Pantas kalau warga Cianjur kini patut berbahagia dengan adanya RTH Alun-alun Cianjur yang sudah diresmikan Presiden ini. Bahkan Presiden sendiri mengatakan pembangunan Alun-alun Cianjur akan jadi inspirasi karena kedepannya sebanyak 514 kabupaten kota yang ada di seluruh Indonesia, mau “diarahkan” biar kayak Alun-alun Cianjur. Weish keren kan!?

Masuk akal sih ya secara Alun-alun kan bukan hanya berfungsi sebagai land mark sebuah kota, tetapi juga ruang publik, ruang sosial, ruang wisata juga. Sudah sepantasnya setiap daerah memilikinya. Pantas juga kalau saat meresmikan Alun-alun Cianjur, Presiden hadir cukup unik dengan mengenakan pakaian khas Sunda, pangsi berwarna hitam, lengkap dengan iket di kepalanya.

[caption id="attachment_7720" align="aligncenter" width="300"] Lukisan karya seniman Cianjur, Jaja yang dibeli oleh Pak Jokowi Rp.10juta[/caption]

Alun-alun Cianjur sendiri sudah memiliki spot cantik yang jadi magnet buat masyarakat untuk datang berbondong-bondong setiap harinya. Datang untuk foto-foto cantik dan share di sosial media. Mungkin bagi mereka ada semacam kebanggaan bisa pamer dan membuktikan kalau sudah foto di spot cantik Alun-alun Cianjur yang masih baru itu.

Ya, karena belum tentu semua masyarakat Cianjur bisa berkunjung ke Alun-akun yang diresmikan Pak Jokowi hari Jumat tanggal 8 Februari 2019 lalu itu. Apalagi masyarakat Cianjur yang ada di Selatan. Selain terbilang jarak cukup jauh, juga perlu waktu dan ongkos yang harus dipikirkan jika mau berkunjung ke Alun-alun ini.

Beberapa fasilitas dan spot foto cantik di Alun-alun Cianjur diantaranya:

1. Gerbang Utama.

Berada di Jalan Suroso, pintu ini dijadikan pintu masuk utama bagi para pengunjung. Berpagar besi dengan relief ayam pelung, ayam jago khas dari Cianjur berwarna keemasan.

Bagi teman-teman disabilitas, jangan khawatir karena sudah disediakan jalan serta petunjuk arahnya baik untuk tuna netra maupun pengguna kursi roda.

Semua pengunjung memang diharuskan masuk dari gerbang ini tidak peduli rumahnya berada di sisi barat atau utara. Satpol PP bilang sih itu sudah aturan. Mungkin biar tertib saja, pintu masuk dan keluar dibedakan. Meski pada kenyataannya ada saja warga yang nakal nekat manjat masuk ke Alun-alun dari pintu terdekat (yang seharusnya jadi pintu keluar).

 

2. Taman Al Qur'an

Replika Alquran yang berada di atas rekal. Posisinya berada tepat di halaman depan Masjid Agung Cianjur.  Berbanding lurus dengan pohon beringin.

Disekelilingnya ada kolam ikan dan air mancur serta hamparan rumput sintetis warna hijau. Adanya replika Al Qur’an ini yang membedakan Alun-alun Cianjur dengan Alun-Alun Bandung.

 

3. Menara Pandang.

Meski belum selesai sehingga masyarakat belum bisa masuk dan belum bisa melihat daerah Cianjur kota dari atas menara, namun baru naik tangga dan jembatan nya saja masyarakat sudah tampak antusias sekali.

4. Amphitheater

Ruang terbuka alias teater berfungsi sebagai tempat berbagai pertunjukan. Di area ini juga ada tempat latihan untuk ilmu bela diri Maenpo (sejenis pencak silat) khas Cianjur.  

5. Lorong Asmaul Husna

Lampu yang berjejer di sisi kiri dan kanan jalan bertuliskan lafadz Asmaul Husna. Kalau siang warnanya hitam dan putih. Terbagi menjadi beberapa lorong mulai dari pintu gerbang sampai pohon beringin dekat replika Al Qur'an.  

6. Panggung Kecapi Suling

Sama seperti tempat pertunjukan pada umumnya, hanya background panggung berjejer beberapa suling (alat musik tiup khas Sunda) dan dasar panggung berbentuk kecapi. Kedua alat musik tersebut memang dominan dalam kesenian Mamaos khas Cianjur.  

7. Leuit atau Gazebo.

Bangunan panggung yang berdiri khas seperti lumbung padi pada umumnya. Jumlahnya ada 6 buah. Hanya setiap bangunan bukan diperuntukan untuk menyimpan padi, melainkan warung penjual cinderamata khas Cianjur, kuliner khas Cianjur dan ada juga yang digunakan sebagai semacam perpustakaan.  

8. Taman Pendopo.

Halaman depan Kantor Bupati Cianjur yang direnovasi menjadi taman kekinian. Kalau dilihat dari atas, reliefnya mirip dengan ukiran pada pagar besi dan pintu gerbang Alun-alun yaitu menggambarkan ayam jago yang tiada lain merujuk pada ayam pelung, ayam endemik khas Cianjur.

8. Patung kuda kosong.

Kuda kosong memiliki arti dan sejarah tersendiri bagi masyarakat Cianjur pada khususunya. Mengutip dari berbagai sumber, kuda kosong mulai ada di Cianjur ketika Cianjur diperintah Bupati Rd. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950).

Saat itu Ateng adalah Bupati Cianjur yang bukan keturunan Dalem Cikundul. Ateng adalah menak Bandung. Ingin diakui oleh sesepuh dan warga Cianjur Ateng kerap datang menemui ulama-ulama Cianjur meminta saran. Salah satunya menghidupkan pengajian yasinan setiap malam jumat di pendopo.

Selain itu, ternyata Dalem Ateng juga menerima saran seorang wanita paranormal dari Cidaun Cianjur Selatan yang menyarankan agar diadakan ritual menghadirkan Suryakancana yang dipercaya sebagai putra Dalem Cikundul dari putri jin yang bersemayam di gunung Gede Cianjur.

Ritual tersebut meniru tradisi Kuda Kosong di Ciamis yang menghadirkan onom dedemit yang konon menghuni Rawa Lakbok di CCiamis. Jadi sejak itu sampai masa pemerintahan Bupati Cianjur Harkat Handiamihardja, tradisi Kuda Kosong dibumbui tradisi Ngalinggihkeun dan Ngalungsurkan Suryakancana.

Atas saran Majelis Ulama, Ir. H. Wasidi Swastomo, MSi  yang menjabat Bupati Cianjur periode 2001-2006 menghapus tradisi Kuda Kosong tersebut karena dikhawatirkan akan membawa warga Cianjur kepada kemusyrikan. Wallahualam.

 

9. Taman Tatanén.

Berada di taman depan pendopo. Terdiri dari tiga petak sawah yang sudah ditanami padi. Miniatur terasering tiga tingkat ini diairi air yang ditarik dari selokan di belakangnya. Namun sepertinya belum maksimal karena sebagian tampak seperti tidak terawat. Di sisinya berada monumen Sauyunan yang dalam bahasa Indonesia berarti bekerja sama. Dicontohkan oleh tiga ekor semut yang sedang bergotong royong. Di sisinya lagi ada semacam monumen bertuliskan "sauyunan" dan beberapa kalimat penjelasannya.

10. Binatang Peliharaan.

Di taman depan pendopo ini ada beberapa sangkar dan kandang untuk binatang. Ada kandang yang berisi masing-masing seekor ayam pelung, ada sangkar diameter 3 yang diisi burung merpati dan burung merak.

11. Kereta Kencana.

Terdapat tiga tiruan kereta kencana yang selalu dikerubungi oleh anak-anak. Kalau saja satpol PP tidak tegas, anak-anak pada mau naik kereta kuda tersebut. Saya pikir lama-lama kalau terus begitu semua replika kereta kencana tersebut akan cepat rusak. Dan masih ada banyak spot foto cantik lainnya di Alun-alun Cianjur yang berlokasi di Pamoyanan Cianjur Kota ini.

Waktu Buka Pengunjung

Yang perlu kita tahu saat akan berkunjung ke Alun-alun adalah waktu dibukanya serta arah masuknya. Selain supaya tertib juga jangan sampai jauh-jauh datang lalu harus muter-muter karena salah arah.

Jadi semua pengunjung diharapkan masuk melalui pintu gerbang utama yang berada di Jalan Suroso (Depan Dewan Kesenian Cianjur). Adapun pintu keluar jika kendaraan bisa melalui jalan arah menuju Bojong Meron (Bomero Citywalk) dan atau pintu dekat Pegadaian (bekas lokasi SD Ibu Jenab yang sekarang jadi lahan parkir).

Adapun waktu masuk Senin sampai Jumat pukul 13.00-18.00 WIB. Sedangkan hari Sabtu mulai 09.00 sampai 21.00 WIB. Untuk hari Minggu buka lebih pagi jam 08.30 dan tutup pukul 18.00 WIB.

Untuk rombongan atau instansi lain misalkan rombongan anak sekolah, bisa masuk atau datang lebih pagi diluar jadwal untuk umum dengan terlebih dahulu membuat surat izin ke kantor Satpol PP. Caranya langsung datang ke Kantor Satpol PP Cianjur.

Semoga informasi ini bermanfaat. Memiliki informasi tambahan yuk share di kolom komentar...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar