Senin, 07 Januari 2019

Anak dan Makanan: Jangan Gengsi dengan Takeaway!

Fahmi bersungut. Ngedumel sendiri.

"Ih, boros. Jorok lagi, ya Bu? Itu kan nasinya nangis kalau gak habis." Suaranya ditujukan kepada satu keluarga yang baru saja selesai makan di meja sebelah tempat kami duduk.

Keluarga itu terlihat memang seperti orang berada. Tiga anaknya bicara berbahasa Indonesia meski dialeknya campur Basa Sunda. Dua anak di antaranya main ponsel pintar. Yang paling kecil masih gelayutan sama ibunya, rempong dengan berapa mainan anak yang kekinian. Ayahnya sibuk bolak-balik, merokok.

Entah kenapa mereka makan sedikit berantakan. Di beberapa piring dan mangkuk tersisa banyak banget makanan. Okelah mereka sudah membayar itu semua. Jadi hak mereka mau makan habis atau tidak. Tapi ya tidak begitu juga kali... Bikin kami yang melihat bergidik. Ih, kaya oke punya tapi kok ya jorok.

Padahal, kebiasaan kami, sejak anak mulai belajar makan selalu saya tekankan kembali pepatah dari si mamah, kalau makan tidak boleh berlebihan, harus sopan, dan dihabiskan.

Saya sendiri sering mewanti-wanti anak, kalau makan ya harus dihabiskan. Ambil makanan ya kira-kira. Secukupnya saja. Kalau tidak suka ya jangan mengambil.

Sejak kecil biasakan bukan makan makanan kesukaannya, melainkan makan makanan yang mengandung gizi serta nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Siasat kalau anak susah makan, beri alternatif minum susu yang mengandung Complinutri, sehingga terpenuhi kebutuhan vitamin, zinc, kalsium, minyak ikan dan omega 3 serta serat pangan inulin-nya.

Kebutuhan gizi dan nutrisi dari berbagai sumber protein

"Kalau tidak habis, kasihan nanti (makanannya) nangis…" itu kalimat ibarat mantra yang sudah melekat kuat di benak anak. Kalimat yang secara turun temurun kami dapat dari kakek nenek, orangtua, dan kini diturunkan lagi kepada anak.

Mungkin karena itu, Fahmi jadi ikut gelisah ketika melihat orang yang makan makanannya tidak dihabiskan.

Pernah makan di luar yang harganya sudah menguras kantong dan makanan tidak dihabiskan karena kekenyangan? Kalau jawabannya pernah, please, jangan dilakukan kembali ! Karena masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan makanan. Juga jaga etika dan sopan santun. Jangan mentang-mentang kaya, terus makan berantakan. Bikin ilfeel yang melihat. Jangankan orang dewasa, lah itu Fahmi bocah lima tahun saja sudah bisa mengungkapkan ekspresinya.

Yang harus di lakukan jika beli makanan tidak habis, jangan malu untuk bungkus dan bawa pulang. Iya, karena makanan itu kan sudah dibayar, otomatis dong menjadi milik kita.

Jangan gengsi minta pedagang atau petugas resto menyiapkan tempat untuk membungkus makanan (take away).

Waktu kerja di Taiwan, majikan dulu suka ngajak makan di luar ramai-ramai. Saudara majikan ada satu orang yang punya kebiasaan setelah makan, tanpa malu minta plastik dan semua sisa makanan baik itu ayam goreng yang kami makan atau sayuran, juga termasuk tulang-tulang ayam, itu dibungkus oleh saudara majikan.

"Ini tuh sayang kalau dibuang." Begitu katanya selalu. Dan ternyata semua makanan sisa itu untuk dikasih binatang dekat rumahnya.

Waktu itu saya termasuk orang yang suka tertawa sama kebiasaan dia, saya pikir orang kaya kok segitunya… tapi sekarang saya baru mengerti dan menyadari betapa makanan itu memang tidak boleh disia-siakan. Saya justru lebih disiplin kepada anak untuk tidak membuang-buang makanan.

Ada banyak orang di luar sana justru kekurangan makan. Disamping agama pun melarang hal-hal yang berlebihan apalagi mubazir.

<!-- wp:html /-->

<!-- wp:html /-->

#SGMEksplor #GenerasiMaju #MombassadorSGMEksplor

 

<!-- wp:html /-->

<!-- wp:html /-->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar