Mengenang Surabi Menggali Tradisi
Kini, jaman sudah semakin maju. Generasi milenial memiliki ide brilian dalam mengadopsi berbagai cita rasa kuliner tradisional menjadi hidangan kekinian yang lebih modern dan kaya akan cita rasa. Surabi ini salah satunya.
Surabi dibuat tidak hanya dalam dua rasa surabi kinca dan surabi oncom saja, melainkan berbagai rasa baru mulai cokelat, keju, rasa buah, dan aneka toping lainnya.
Surabi dimakan tidak hanya ditemani dengan teh panas, atau kopi pahit saja, melainkan ada minuman soda, sari buah, juice, mojito, milk shake, latte, ice cream, dan minuman kesukaan anak milenial lainnya.
Pecinta surabi masa kini bukan hanya kaum urban yang suka sarapan di pinggir jalan lagi, melainkan termasuk para sosialita, kelas menengah ke atas yang jalannya saja keluar masuk kendaraan dinas.
Surabi naik kelas. Kue tradisional ini sudah mengalami akulturasi dan pergeseran rasa. Meski soal harga termasuk biasa, terjangkau oleh orang yang benar-benar ingin mencicipinya. Surabi bukan lagi kue khas yang dijumpai di daerah tertentu, kini surabi sudah jadi milik masyarakat luas bahkan mayoritas warga kota.
Di kampung saya saja, sudah ada gerai surabi yang punya brand cukup ternama. Tulisan ini murni bukan sponsored post, tapi jujur saya katakan kalau lokasi surabi terdekat ini memang pas untuk warga Cianjur Selatan yang masih jauuuh dari lokasi wisata kuliner maupun tempat makan sekelas kafe yang digandrungi anak muda. Harga surabi masih banyak dibawah 10K terjangkau oleh siapa saja.Saat saya dan keluarga mampir di kedai surabi ini, sudah ada beberapa anak santri yang juga sedang nongkrong menanti pesanan mereka datang. Wilayah Sukanagara yang dingin dan sering diselimuti kabut memang cocok diisi dengan menyantap surabi yang masih mengepulkan asapnya.
Surabi memang sudah dimodifikasi, namun bagi saya surabi tetap sebagai kue tradisional yang memiliki jati diri dan bagian dari tradisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar