Cianjur Tanpa Bioskop, Haruskah Berontak?
Hal ini saya ketahui ketika suatu waktu baca status di sosial medianya. Ada calon pejabat atau orang yang sedang kampanye politik minta dukungan. Tapi Raja yang dikenal sebagai blogger review serta pengamat film baik dalam maupun luar negeri langsung kasih komentar pedas
Intinya kurang lebih kalau Raja sudah kecewa terhadap calon pejabat yang dimaksud. Karena pada periode sebelumnya, sang pejabat pernah kampanye yang sama. (Mungkin) pejabat itu semacam mengiyakan (atau biasanya janjiRaja selaku insan perfilman sekaligus blogger review dan pengamat film tentu saja senang. Berharap generasi muda Sukabumi bisa lebih kreatif dan solutif apalagi di era digital seperti sekarang ini.
Namun setelah sang pejabat terpilih, seperti biasa, lagu lama, janji tinggal janji. Bioskop sama sekali tidak ada bayangan. Raja kecewa. Karenanya dia hijrah ke ibukota provinsi.
Seperti dikemukakan di awal, kalau ngomongin soal film kenapa langsung ingat Raja? Karena kami senasib.
Di Cianjur, juga tidak ada bioskop. Bedanya saya bukan blogger review dan pengamat perfilman. Jadi tidak “berontak” seperti Raja.
Tidak aneh kalau film apapun saya dan orang Cianjur pada umumnya banyakan kudetnya. Tidak sedikit sih orang Cianjur yang juga lari ke Bandung seperti Raja, atau ke BogorMenonton film salah satu jalannya yang bisa saya lakukan hanya melalui televisi atau internet. Itu pun tidak memaksakan diri. Televisi di rumah kami malah lebih banyak mati. Kalaupun nyala siarannya pasti Tobot, Petualangan Haci, dan atau Si Bolang!
Bisa siaran tersebut ganti, dengan berita misalnya. Tapi harus bisa bujuk Fahmi supaya ridho dipindahkan chanelnya. Dan keridhoan tuh anak biasanya luluh kalau sudah ada es krim, mie goreng dan atau sosis.
Jangan tertawa jika dibanding film layar lebar, saya lebih hafal Dylan nya Tobot daripada Dilan nya Milea nya. Serius pisan kalau dibanding para pemain drama Korea yang katanya kararasep, saya mah lebih hafal Robocar Poly, Tayo, dan atau Upin-Ipin!Kesempatan bisa nonton film layar lebar (yang meski pun udah agak kadaluarsa) adalah ketika hari libur nasional. Biasanya kan stasiun televisi swasta nasional suka putar film lepas bagus-bagus tuh. Kadang yang pertama kalinya di tv-kan. Barulah itu bisa saya nonton. Kalau waktunya bentrokan atau tidak tepat, atau pas listrik mati , ya sudah bablas lagi deh tidak ada kesempatan kembali.
Dari kisah saya dan soal film itu sudah bisa ditarik benang merahnya kan, kalau saya sama sekali tidak punya film andalan.
Setiap saat film baru terus bermunculan. Terlebih industri perfilman Indonesia sedang tumbuh kembali. Para pemain pun datang silih berganti dari generasi ke generasi. Semakin tidak terpikir oleh saya ada film apa saja, atau bagaimana kisahnya.
Satu-satunya film yang masih melekat dalam ingatan adalah film perjuangan. Karena selain pernah (dibela-belain harus) nonton filmnya, kisah sejarahnya juga kan suka ada di pelajaran sekolah dan umum.
Andai film (maaf) G30S/PKI diputar seperti pada jaman Orba mungkin film itu yang akan teramat dihafal jalan cerita dan para pemainnya, karena sudah rutin setiap setahun sekali film itu pasti diputar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar