Saya memang suka akan suasana kampung atau desa. Karena itu saya memiliki harapan sampai tua sampai tutup usia saya memilih untuk tetap tinggal di sana.
Bukan tidak ingin hidup di kota, tapi bagi saya kehidupan di kampung sudah teramat bahagia. Udara bersih gratis, suasana masih hening, kicau burung masih bebas, jalan-jalan ke sawah, sungai dan kebun gratis tinggal melangkah, tanah rumah masih bisa terjangkau beli cash, kebutuhan hidup juga tersedia, pokoknya meski hidup di kampung tapi gaya hidup ala kota alhamdulillah juga bisa. Tapi coba hidup di kota, nyari udara bersih saja susah. Mau ketemu suasana kampung saja kudu cari waktu dan bayar, bukan?Jangan salah meski saya tinggal di kampung, mobilitas saya tidak kalah sama orang kota, lho. Tidak bisa dipungkiri kok setelah listrik masuk desa, internet sampai di rumah (meski mati idup mati idup) aktivitas apapun bisa saya lakukan.
Saya bisa menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja. Dengan kata lain saya perempuan kampung bisa melakukan berbagai aktivitas layaknya ibu-ibu sosialita di ibukota. Jadi ibu rumah tangga saja kegiatannya seabrek-abrek, apalagi ditambah embel-embel dengan ibu bekerja, sudah terbayang kan bagaimana padatnya aktivitas? Ciee...
Masuknya listrik diikuti sampainya koneksi internet semakin memanjakan saya untuk jadi penunggu kampung. Dunia dalam genggaman. Gimana tidak, hidup di desa dengan rasa kota, siapa yang tak berselera?
Pekerjaan rumah tangga bisa dilakukan semakin praktis dan cepat. Mengurus anak dan pengawasan tumbuh kembangnya tinggal cari dan download ilmunya, baca dan pelajari. Bikin ini bikin itu, tinggal search saja cara mengerjakannya. So simple! Duhai, nikmat mana lagi yang kau dustakan?Manusia ditakdirkan untuk terus berinovasi dan bersaing. Kecanggihan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman pikiran terbuka dan visi misi ke depan. Termasuk bagi seorang ibu rumah tangga pedesaan macam saya.
Okelah saya orang kampung, tapi kedisiplinan dan kebersihan jangan sampai kalah sama warga negara Jepang. Darimana saya tahu? Hasil nonton berita dan berbagai informasi secara online, dong.Memang saya hanya seorang emak berdaster, tapi pola hidup sehat, kebersihan diri dan keluarga termasuk lingkungan sekitar tidak kalah lah sama para ibu-ibu bangsa yang sangat anggun nan jelita.
[caption id="attachment_6432" align="aligncenter" width="300"]Bagaimana saya bisa mengejar semua itu sementara saya hanya perempuan desa? Blogger kampung blogger gunung? Yaitu tadi, memanfaatkan gadget sebagai bagian kecanggihan teknologi sehingga menjadi sisi positif dan bermanfaat.
Saat bekerja di luar negeri (sebagai TKW loh ya...) beruntung berkesempatan ketemu orang-orang baik. Disana saya belajar pegang komputer (baru pegang ya...) lalu belajar ngeblog dan buat akun media sosial. Lebih beruntung lagi majikan saya yang di Taiwan sampai sekarang tetap berkomunikasi memberikan saya kebebasan untuk membeli komputer jinjing.
“Ayi, yo fancia, ni yau sie tien nau. Rang ni hui cia Inni te shehow, hue cuo ceci te kungcuo...”* demikian kata majikan saya. Tidak hanya itu, majikan juga mengantar saya ke Taipei City dan memilihkan latop ASUS yang cocok untuk saya. Alhamdulillah, selama ini saya bisa bekerja dan berkarya berkat si dukun eh ilmu karuhun warisan sang majikan itu tadi.Dengan status mantan TKW, pulang kampung dan hidup di desa tapi hidup saya terasa semakin bermanfaat dan semakin produktif dengan laptop ASUS X555.
[caption id="attachment_6424" align="aligncenter" width="300"]Tetangga biar tidak nyinyir harus tahu keunggulan dari ASUS X555 ini...
Tapi saya enjoy saja. Komplain sana sini, koar-koar di medsos sampai lelah juga bukannya viral (boro-boro ada yang menanggapi) ujungnya malah ngabisin kuota. Percuma. Tinggal lelahnya aja.
Saya memilih menyiasati kondisi itu dengan mencari alat tempur yang handal saja. Asus X555 ini contohnya.
Jadi ASUS X555 itu design internalnya unik. Doi dirancang untuk mengatasi masalah terkait panas yang terjadi pada bagian bawah laptop.
Pernah ngalamin atau dapat cerita kalau buka laptop di kasur, bawah bekasnya tuh kaya abis menyetrika saja, panas? Nah teknologi ASUS IceCool ini bisa menjaga temperatur komputer tipis kita antara 28 derajat sampai 35 derajat. 28°-35° berarti suhunya lebih rendah dari panas tubuh kita dong ya? Gak khawatir “gosong” itu kasur meski saya buka laptop di atasnya sambil gogoleran dan ngasuh anak cukup lama. Home Entertainment Kinerja ASUS X555 sudah canggih. Home entertainment pribadi ASUS X Series kan sudah didukung oleh Prosesor. Dan untuk ASUS X555 ini didukung oleh Prosesor AMD®Quadcore A10. Jangan heran kalau performa laptop ini halus dan responsif. Kulit tangan saya saja yang kapalan ini kalah halus, kok. Yang bikin makin jatuh cinta laptop ASUS X555 ini bisa diajak kerjasama. Sebagai pembelajaran buat anak, saya suka search materi kurikulum homeschooling dan di antara materinya ada beberapa berbentuk film. Selama menonton film dan atau video bareng anak itu, bener-bener stabil dan tahan lama. Suara jernih, gambar maksimal, berasa punya bioskop di rumah deh. Belum lagi melihat grafisnya yang bagus disertai memory controller yang canggih. Te-o-pe abis kalau si X555 ini ideal digunakan untuk kebutuhan komputerisasi sehari-hari. [caption id="attachment_6434" align="aligncenter" width="300"]ASUS X555 telah dilengkapi dengan USB 3.0. Kecepatannya dalam mengirim data tidak perlu diragukan lagi.
Respon Mirip Smartphone Dengan fitur 2 second instant resume dari sleep mode, bikin kita cepat akses internet dan langsung bisa menggunakannya. Mirip buka ponsel saja, tekan tombol langsung kerja.Saat baterai berada di limit terbawah, maka dengan otomatis semua data akan tersimpan. Ini benar-benar menolong lho, terlebih di kampung saya listrik nya byar pet. Bayangkan kalau tidak, sudah lama-lama ngetik tiba-tiba listrik mati dan data raib, duh... Nyeseknya tuh dimana-mana.
[caption id="attachment_6427" align="aligncenter" width="300"]Dengan ASUS X555 meski tangan saya cuma dua tapi luar biasa bisa mengerjakan dan menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu perangkat. Hobi ngeblog jalan, anak keurus plus plus plus, tugas sebagai ibu negara alias masak nyuci bersih-bersih dan mengurus sang kepala rumah tangga lebih mudah. Pekerjaan lebih cepat selesai. Multifungsi abis!
Saya yakin kalau semua ibu rumah tangga bisa lebih produktif seperti saya (Aih jumawanya nongol deh) maka kesejahteraan keluarga dan kemajuan bangsa akan segera tercapai. Dengan jadi ibu rumah tangga yang multitalenta kita tidak hanya akan pandai mengurus rumah tangga dan momong anak, tapi juga bisa terus berdaya, produktif dan mendapatkan penghasilan sehingga bisa bantu menambah pendapatan keluarga. Tentunya dengan seizin pak suami loh ya.
Yuk jadi orang desa dengan mobilisasi kota yang produktif.
* Ayi, kalau libur mending belajar komputer saja. Supaya pulang ke Indonesia nanti kamu punya usaha sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar