Menonton Alat Berat Pesulap Infrastruktur Pembangunan Desa
[caption id="attachment_6285" align="aligncenter" width="169"]Bagi penduduk kota, proses pembangunan infrastruktur mungkin sudah tidak asing dilihat setiap harinya. Jauh beda dengan pembangunan yang dilakukan di desa, saking jarangnya lihat pembangunan, anak-anak sekolah pun sampai rela menghabiskan waktu istirahatnya hanya sekadar untuk menonton pembangunan jalan yang sedang berlangsung di desa. Tepatnya di jalan yang berada di depan sekolah mereka.
Sejak kemarin sore memang terlihat ada hilir mudik para pekerja yang mengangkut batu dan drum-drum aspal. Beberapa kendaraan berat pun (kami menyebutnya Setum untuk yang berwarna kuning dan Beko untuk alat berat pengeruk tanah versi mini) sudah parkir di dekat tumpukan bahan-bahan tersebut. Warga saling berbisik, tidak aneh kalau mau menjelang pemilihan umum (Pemilu) memang suka banyak perbaikan sampai ke daerah, di sana sini.
Banyak yang menanyakan kenapa pembangunan infrastruktur perbaikan jalan desa baru sekarang-sekarang ini dilaksanakan? Sementara jalan rusak itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Ah tapi sudahlah, itu urusan mereka para pejabat serta instansi yang berkepentingan. Bagi kami warga desa biasa, jalan mau dibetulin saja sudah bahagia luar biasa. Bener gak?Termasuk kegembiraan dan kebahagiaan anak sekolah. Ketika mau menjemput Fahmi pulang sekolah dari SDN 1 Pagelaran, waktu istirahat, anak kelas 1 yang memang lebih dulu istirahatnya dibanding kelas lainnya, dipakai anak anak untuk menonton para pekerja. Selama tidak mengganggu atau membahayakan, saya pun membiarkan Fahmi bersama temannya melihat aktivitas pekerja PUPR di pinggir jalan depan gerbang sekolah.
Jujur saja untuk anak-anak pedesaan, serum dan buldozer itu masih jadi barang langka. Pantas kalau jadi bahan tontonan karena bagi mereka kendaraan alat berat itu sangat menarik.
Anak paling suka melihat pembakaran aspal yang mengepul membumbung ke angkasa. Mereka pikir itu kebakaran yang disengaja. Gak boleh dipadamkan, katanya. Satu lagi yang mencuri perhatian anak adalah adanya alat berat warna kuning: Setum. Kendaraan berat berwarna kuning ini pun "dikerubuti" anak-anak. Kalau kendaraan berat Beko (buldozer mini) mereka gak berani mendekat, karena suaranya berisik banget, plus anak ketakutan dengan "tangan" Beko yang siap mengeruk tanah.
Ban buta ban buta... Seru anak-anak. Buta dalam bahasa Sunda artinya raksasa atau besar. Ban buta maksudnya ban nya besar. Itu mereka serukan pada setum yang berjalan perlahan. Haha, mana ada serum ngebut. Lucu dan seru melihatnya. Beda dengan Beko (buldozer) bergerak cepat dan mengeluarkan bunyi geradak geruduk bikin anak takut. Secara mengeruk tanah dan batu, tenaganya pasti sangat besar. Makanya suara mesinnya pun sangat menakutkan bagi anak-anak.Makin lama, asap yang berasal dari pembakaran aspal, yang lokasi nya persis depan pintu gerbang sekolah itu makin tebal dan pekat. Baunya pun semakin menyengat. Segera saya perintahkan Fahmi dan teman-temannya untuk menjauh dan menghindarinya.
[caption id="attachment_6287" align="aligncenter" width="300"]Makin lama, asap makin tebal. Tidak hanya mengelabui udara di jalan, tetapi juga masuk ke lapangan halaman sekolah. Beberapa anak terbatuk-batuk. Kebetulan anak kelas lebih besar dari Fahmi waktunya istirahat juga. Sebagian orang tua yang antar jemput anak melipir ngumpet ke dalam kelas karena kalau diam di halaman tidak tahan dengan asap dan baunya.
Banyak yang menyayangkan pembakaran aspal pagi itu. Andai saja pihak pekerja dari PUPR bisa memilih tempat membakar aspal jangan terlalu dekat dengan lokasi sekolah. Kasihan jadinya anak sekolah sedikit terganggu.
Jam 10 pagi kelas 1 bubar. Saya segera membawa Fahmi pulang. Melewati jalan aspal berbatu yang sebagian sudah hancur itu.
Sekitar seratus meter dari bangunan sekolah, di jalan yang akan diperbaiki itu saya menemukan genangan air tidak biasa. Ya tidak biasa, karena ini kan musim kemarau, masa ada genangan air di jalan. Ternyata itu saluran air PAM yang bocor.
[caption id="attachment_6288" align="aligncenter" width="169"]Saya tidak habis pikir. Jalan mau diperbaiki, mau diaspal, terlepas dari kokoh tidaknya kekuatan aspal jalan itu nanti, tapi kenapa saluran air PAM yang bocor tidak lebih dulu diperbaiki?
Menunggu jalan diaspal dulu, lalu nanti bongkar-bongkar lagi untuk memperbaiki saluran air PAM? Apa gak sia-sia itu namanya? Tapi ah sudahlah... mungkin sudah ada pihak terkait yang lebih tahu dan bertanggung jawab terkait hal itu. Kita masyarakat kecil tahun apa sih. Jalan mau dibetulin saja sudah teramat beruntung, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar