Mendadak Bintang
[caption id="attachment_6239" align="aligncenter" width="300"]Sudah panas, capek, berdebu, eh masih saja saya suruh senyum, gaya gini gaya gitu, seolah lagi mainin boneka yang bisa diarahkan semaunya. Duh, ibu macam apa ini ya?
Mungkin demikian sebagian kecil pikiran kesal Fahmi, putra saya ketika beberapa hari lalu kami naik Gunung Ciremai, di Kuningan, Jawa barat. Dan saya selalu mengatur bocah lima tahun ini demi bisa mendapatkan gaya yang bagus, meski cuma bagus ala saya. Hehehe!
[caption id="attachment_6254" align="aligncenter" width="300"]Padahal sebagai anak kecil, mendaki ketinggian 3078 itu sudah luar luar luar biasa berat dan capeknya. Ya iyalah, jangan kan anak kecil lah saya saja ibunya hampir-hampir gak kuat. Sudah tahu anak lelah, masiiih... saja saya suruh gini suruh gitu, gaya gini gaya gitu, wajar kalau ujungnya nih anak cemberut dan mogok foto-foto.
Saya sendiri sebenarnya tidak tega nyuruh Fahmi loh... Tapi ketika diantara seratus lebih peserta mendaki event Merah Putih peringatan Kemerdekaan RI ke 73 di Gunung Ciremai kemarin, Fahmi adalah peserta pendaki termuda yang berhasil sampai ketinggian 3078 mdpl, maka banyak para pendaki lain yang minta foto bareng sama Fahmi.
Saya yang tahu sifat dan pembawaan Fahmi bagaimana ya akhirnya mengarahkan Fahmi dong, masa iya anak mau diminta foto bareng sama orang lain penampilan nya kusut, judes, atau gak menampilkan wajah bersahabat. Apa kata netizen nanti?
So, sebisanya saya atur lah gaya Fahmi. Suruh senyum lah, suruh begini lah, begitu lah dan celakanya itu bukan sekali dua kali. Tapi saya sendiri ga bisa menghitung berapa kali saking banyaknya! Gimana anak gak capek atau bete?
Jelas Fahmi yang capek dan lelah makin bete manakala masih saja diatur-atur harus gini harus gitu. Padahal untuk membuka mata saja perlu perjuangan dan pengorbanan lho, secara di ketinggian 3078 kemarin itu angin kencang dan pasir debu selalu beterbangan apalagi kalau ada pendaki lewat. Ini apalagi disuruh senyum dan bergaya. Oh, maafkan Ibu, Nak.
Mendadak jadi bintang seperti itu, banyak yang tiba-tiba minta foto bareng maksudnya, memang bukan sekali ini. Setidaknya tiga kali membawa Fahmi naik gunung saat usia 3 tahun ke Gunung Slamet, usia 4 tahun ke Gunung Sindoro dan kali ini usia 5 tahun ke Gunung Ciremai setiap kali itu memang selalu saja ada banyak yang minta foto bareng.
Sebagai orang tua ya senang enggak, enggak senang juga ya enggak. Biasa saja. Toh naik gunung di usia muda bukan hanya Fahmi saja. Anak lain juga banyak. Tapi kalau ketika naik gunung anak gak nyaman terus dipaksa-paksa, siapa sih yang suka?
Apalagi Fahmi anaknya type pemalu. Dia tidak mudah akrab dengan orang asing. Tapi sejatinya sudah kenal, ia akan sulit lupa atau berpisah. Fahmi tidak suka ramai, tidak suka bising. Sifat ini yang pada mulanya bikin saya dan ayahnya mengajak Fahmi pergi ke tempat sunyi, gunung.
Saat kondisi anak lagi ceria bagi kami tidak masalah. Tapi ketika anak dalam kondisi capek, sementara setiap pendaki yang lewat bertanya (dan secara etika kami harus menjawab) lalu minta foto bareng, sementara anaknya tidak ingin berfoto karena kondisi lagi tidak disukainya, lalu kami bisa apa?
Mendadak jadi bintang di puncak gunung bukan keinginan kami. Fahmi kami bawa naik gunung bukan mencari popularitas, tapi salah satu cara kami menanamkan karakter baik kepadanya sejak dini.
Mendadak jadi bintang tidak kami tolak, toh tidak bisa munafik, saat anak banyak disukai pendaki lain, ketika anak banyak dipuji kecil-kecil sudah berhasil jalan ke ketinggian 3078, kami ikut merasa bangga juga.
Hanya ketika anak sedang ada masanya untuk istirahat, menjalani dunia masa kecilnya, saat ia tidak mau disuruh ini disuruh itu hanya demi jadi seorang bintang, maka saat itu kalau bisa saya ingin teriak sekencang-kencangnya pada semua isi dunia.
“Please, do not disturb my son...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar