Komentar Sondos Alqattan, seorang selebgram Kuwait tentang pekerja migran dinilai mencerminkan perlakuan majikan di wilayah Timur Tengah terhadap TKI.
[caption id="attachment_6149" align="aligncenter" width="300"]Sumber Instagram Sondos[/caption]
Beberapa hari lalu Sondos Alqattan, selebgram asal Kuwait mengatakan pendapatnya terhadap pekerja rumah tangganya yang berasal dari Philipina, netizen menilai yang dilakukan Sondos itu tidak menghargai pekerja rumah tangga dan itu membuat banyak kalangan berkomentar.
Sondos mempertanyakan undang-undang baru Kuwait yang memberikan perlindungan lebih baik kepada pekerja rumah tangga (PRT).
"Bagaimana Anda bisa punya pembantu yang boleh menyimpan paspornya sendiri? Yang lebih parah lagi, mereka berhak mendapatkan satu hari libur dalam seminggu," kata Sondos. Karena ucapannya di media sosial itu Sondos Alqattan menghadapi kecaman.
Secara tidak langsung Sandos telah membuka mata dunia bahwa orang-orang di Timur Tengah, memperlakukan pekerjanya seperti apa. Perilaku Sandos mencerminkan perlakuan majikan di negara Timur Tengah terhadap pekerja migran, termasuk perlakuan untuk pekerja asal Indonesia yang banyak di sana.
Majikan di negara Timur Tengah khususnya wilayah Arab memang menganggap pekerja sebagai properti, bukan manusia. Pekerja adalah budak yang sudah dibayar, atau dibeli. Jadi apapun perlakukan mereka, mereka beranggapan itu hak mereka.
Kuwait mulai menyingkirkan pemikiran kolot seperti itu. Undang-undang tentang perlindungan bagi pekerja migran, terutama yang berprofesi sebagai PRT, disahkan parlemen Kuwait pada 2015 dan mulai diterapkan bulan Mei lalu.
Tapi apa dampaknya? Pendapat selebgram Kuwait ini disesalkan banyak kalangan, termasuk Produsen kosmetik Mac Factor Arabia dan Anastasia Beverly Hills yang merasa tidak nyaman dengan kondisi di lapangan dan memilih menghentikan kerjasama dengan Sondos Alqattan.Ucapan Sondos Alqattan tidak hanya memicu kecaman dari warganet, melukai perasaan organisasi pekerja migran, dan para pembaca BBC Indonesia. Tetapi juga melukaihati saya selalu (mantan) buruh dan Aktivis buruh migrant.
[caption id="attachment_5592" align="aligncenter" width="297"]Aksi buruh di Taipei[/caption]
"Cantik di luar belum tentu cantik di dalam, enggak berperikemanusiaan. Pembantu sudah seperti budak, sehari libur dalam seminggu aja ribut. Coba deh kalau dia kerja terus menerus ngga ada liburnya gimana," kata Karmita Gayatri yang saya kutip dari berita BBC News Indonesia.
Saya tahu, bukan hanya selebgram ini saja yang bersikap rugi kalau kasih pekerjanya libur, apalagi memegang pasport sendiri. Kebanyakan majikan orang arab memang memegang budaya seperti itu. Pekerja rumah adalah budak atau hamba.
Kondisi ini jelas jauh beda dengan yang dialami para pekerja Indonesia di wilayah Asia Pasifik. Hongkong, Taiwan, Jepang, bahkan Korea sekalipun sangat menghargai para pekerja migran. Seandainya Sondos Alqattan melihat bagaimana bebasnya para buruh migran di negara tersebut...
Menanggapi banyaknya kecaman warganet, Sondos Alqattan mengunggah tanggapan di Instagramnya.
Dalam tanggapan itu dia tetap mempertahankan pendapatnya bahwa paspor pekerja migran harus tetap ditahan oleh majikan.
Dia juga mengaku tidak pernah memberlakukan jam kerja yang panjang untuk pembantunya. Jam kerja di rumahnya fleksibel, termasuk jam istirahat yang juga fleksibel, tapi tak pernah lama.
Itulah kesulitan terbesar bagi kita, memperbaiki kesejahteraan pekerja migran di negara-negara timur tengah tidak semudah membalik telapak tangan.
Meskipun ketentuan International Labour Organization (ILO), pekerja itu hanya boleh bekerja maksimal 8 jam sehari.
ILO menilai penyitaan dokumen identitas, termasuk paspor, termasuk indikasi kerja paksa. Bahkan sebenarnya menyita paspor pekerja adalah perbuatan ilegal. Tapi buktinya tidak demikian di negara-negara arab.
Pada nyatanya, paspor para pekerja migran masih ditahan dan mereka bekerja tanpa punya jam istirahat kecuali waktu tidur yang itu pun sangat terbatas.
Langkah Kuwait mengesahkan undang-undang perlindungan tenaga migran bisa mengawali perubahan nasib para pekerja. Namun para majikan, seperti Sondos Alqattan, masih enggan berubah dan memprotes langkah pemerintahnya.
Meskipun di tingkat pemerintah sudah mulai ada perubahan, tetap kultur sebagai aturan dasarnya juga harus diubah, dan mengubah kultur inilah yang lebih sulit dari mengubah aturan.
Saya sendiri ketika kondisi perekonomian mengharuskan memilih jadi buruh migrant, hati ini sudah tidak sreg jika harus bekerja ke wilayah Timur Tengah. Padahal mayoritas warga Cianjur “berkiblatnya” ke Arab Saudi.
[caption id="attachment_5593" align="aligncenter" width="300"]Hati sedikit pun tidak tertarik kerja ke sana meski cepat proses, cepat berangkat dan bahkan bonus ibadah haji bagi yang beruntung. Saya memilih negara Pasifik yang saya rasa aturan undang-undang tenaga kerjanya sudah jelas.
Atau kalaupun bekerja ke Timur Tengah, pekerja migran tak harus menjadikan tujuan ke Arab Saudi saja, tapi negara Arab lain yang sistemnya lebih berpihak pada buruh migran, misalnya Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar