Warna Warni Menu Sahur (Tinggal Kenangan)
[caption id="attachment_5556" align="aligncenter" width="300"]Berbagai gaya dan model menu sahur yang pernah saya alami sejak tahun 1980-an sampai 2018 sekarang. Antara menjalankan puasa di rumah bersama keluarga, melakukan puasa di penampungan alias asrama yang mirip penjara sebelum berangkat bekerja, puasa saat berada di tiga negara orang Singapura, Hong Kong dan Taiwan, menjalankan puasa ketika sudah berumah tangga bersama mertua, puasa bersama bayi, sampai kini puasa bersama Fahmi.
Jadi bukan makanan (menu) sahur yang akan saya ceritakan. Tapi bagaimana kondisi saya menjalani sahur dalam setiap kesempatan yang saya alami seperti saya sebut di atas.
Dari seumur hidup yang saya alami rasanya momen-momen sahur itulah yang bisa saya kenang sekarang. Lebih kurang dengan segala suka dukanya kini saya bisa mengenang kembali semuanya.
Sahur masa kecilSahur saat menjalankan puasa di rumah bersama keluarga, yang masih sangat saya ingat saat masih sekolah dasar. Kelas satu kalau gak salah. Waktunya sahur saya dibangunkan oleh mamah. Sudah bangun, eh tidur lagi. Bangun lagi pas suara adzan terdengar dari Mesjid At Taufik. Suara khas adzan Mang Jana, seolah sudah melekat kuat mulai dari saya ingat.
Saat bapak dan mamah sudah pada ke mesjid yang berjarak sekitar 20 meter saja dari rumah, saat itu saya cari makanan di lemari. Hihi... padahal sudah adzan gak boleh makanan ya. Tapi itulah pengalaman saya saat sahur yang kalau diingat sekarang, merasaMungkin teman-teman belum merasakan bagaimana sahur di penampungan. Penampungan ini maksudnya sejenis tempat berkumpulnya para calon tenaga kerja sebelum mendapat kesempatan terbang ke negara tujuan, tapi saat itu ketatnya minta ampun.
Saya mengalami menjalankan bulan puasa di penampungan ketika akan berangkat kerja ke Taiwan. Sebenarnya para calon tenaga kerja diperbolehkan pulang lebaran di kampung halaman dengan syarat ada jaminan ke pihak PT (perusahaan yang mengurus keberangkatan dan proses kerja) tapi saat itu saya tidak memilih pulang. Bukan tidak ingat mamah dan adik (bapak sudah meninggal) tapi karena saya benar-benat tidak punya uang. Jangankan berjuta-juta sebagai jaminan, untuk bekal sendiri saja di penampungan saya tidak punya.
Sahur di penampungan benar-benar sedih. Bangunan yang jauh dari kata layak jadi tempat menjalani sebulan penuh saya melakukan sahur dengan menu yang jauh dari makanan normalnya orang yang berpuasa. Antri di dapur umum, berebut piring berisi nasi berlauk tempe dan rebus terong dengan sedikit sambal. Menu terhebat adalah nasi berlauk telur rebus. Sekali makan sahur dengan lauk daging adalah ketika diberi teman yang mendapat kiriman dari keluarganya.
Pengalaman sahur di penampungan alias asrama yang mirip penjara sebelum berangkat bekerja ini pokoknya sangat sedih dan bikin nangis kalau ingat. Banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan semuanya.
Tapi saya sangat bersyukur karena pengalaman sahur dengan segala keprihatinan ini telah menempa saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan semoga menjadi lebih tahan banting.
Sahur di rantauLain lagi ceritanya ketika sebelas kali saya menjalani puasa di luar negeri. Saat berada di tiga negara orang Singapura, Hong Kong dan Taiwan, pengalaman sahur masih tidak lebih baik dibanding sahur di rumah. Namun saya rasa ini lebih baik, dibanding pengalaman teman saya lainnya yang malah ada yang lebih parah dari saya.
Saat di Singapura majikan tahu kalau saya puasa. Mereka acuh tidak acuh. Dan ketika sahur, saya hanya bisa makan biskuit serta minum saja.
Ketika kerja di Hong Kong majikan sama sekali tidak tahu kalau saya puasa. Tapi saya punya kebebasan untuk libur, ketemu teman, dan apapun yang saya bisa. Jadi pas sahur biasanya saya siapkan roti, susu, atau masakan yang dikasih teman.
Mungkin sahur di Taiwan terasa lebih baik dibanding sahur di dua negera sebelum nya. Mungkin karena di Taiwan majikan tahu dan setuju saya menjalankan puasa sehingga saya bisa bangun untuk sahur dengan masakan sendiri, sebisanya.
Sahur dengan keluarga mertuaSepulang dari Taiwan, bulan ramadhan selanjutnya saya bersama dengan suami dan mama mertua. Ya, karena sepulangnya dari Taiwan saya menikah sekitar 5 bulan sebelum bulan suci ini datang. Sahur kali ini saya rasakan jelas beda sekali. Saya yang masak sendiri untuk makan kami bertiga. Eh berempat deh, dengan janin yang satu bulan saya kandung.
Dan perasaan gimana gitu selalu saya rasakan. Perasaan semacam takut masakan saya gakBulan puasa selanjutnya mama mertua tinggal dengan kakak ipar. Tinggallah saya, suami dan Fahmi yang baru beberapa bulan usianya waktu itu. Kali ini sahur terasa lebih ramai. Meski yang makan cuma saya dan suami berdua tapi tangisan dan celoteh Fahmi sudah membuat rumah menjadi hangat.
Tiga kali ramadhan, saat sahur selalu berteman tangis dan celoteh Fahmi yang tahun demi tahun beranjak semakin besar.
Hingga tahun ini, sahur ramadan dilalui bersama suami dan Fahmi yang sudah mulai belajar menjalankan puasa. Ya namanya juga anak kecil, kadang ia bangun sahur, kadang tidak. Meski puasa hanya sampai tengah hari namun saat sahur ributnya minta ampun.
Kadang apa yang saya alami saat kecil kini justru dilakukan Fahmi. Saya bangunkan untuk makan sahur bersama, eh sampai di depan piring nasi dia tidur lelap kembali. Baru setelah subuh lewat sekian lama Fahmi terbangun dan mencari-cari piringnya. Katanya ia mau makan sahur! Hahaha!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar