Pernah dengar kalimat itu? Ungkapan yang menggambarkan walau seseorang kecerdasan nya bernilai tinggi namun dirasa percuma jika kemampuan emosional atau berkomunikasi dengan lingkungan seseorang tersebut bernilai nol.
Setiap orang tua tentu saja ingin anaknya tumbuh cerdas, memiliki rasa peduli, dan tanggap dalam bersosialisasi. Demikian juga saya. Karena itu saya sangat concern dengan tumbuh kembang anak.Dulu pepatah buah jatuh pasti tak akan jauh dari pohonnya sangat diyakini kebenaran nya. Jika orang tuanya pintar, kepintaran itu akan menurun kepada anaknya. Tapi kini seiring dengan perkembangan jaman yang sudah semakin maju, muncul pemahaman kalau kecerdasan tidak hanya diukur dari garis keturunan atau orang tuanya. Karena kecerdasan bisa didukung oleh asupan nutrisi, kebiasaan dan lingkungan.
Orang tua saat ini pemikirannya sudah semakin terbuka. Sudah banyak orang tua yang terbuka pemahamannya terkait pendidikan anak. Orang tua meyakini jika anak tidak hanya cukup menjadi pintar, tapi anak juga perlu tumbuh dengan “Tanggap yang Lengkap”.
Andai bisa merasakan bagaimana perasaan saya, ketika Fahmi, putra saya sejak kecil sudah jelas terlihat sifat pemalunya. Sehingga setelah besar, ketika anak-anak sepantarannya sudah bisa bermain dan mandiri, Fahmi masih harus ditemani oleh saya. Fahmi tidak mau keluar rumah kecuali bersama saya. Fahmi susah bersosialisasi. Karena itu banyak yang mengejek Fahmi sebagai anak mami, anak jago kandang dan lain sebagainya.
Saya sebagai ibunya menerima semua itu sambil terus berusaha mencari informasi dan cara, supaya bisa mendidik dan membiasakan anak sehingga meski punya sifat pemalu tapi tumbuh rasa percaya dirinya. Sehingga Fahmi bisa jadi anak yang cepat tanggap, punya rasa peduli, dan pandai bersosialisasi.
Di rumah meski saya belum tahu benar bagaimana cara mendidik anak yang baik saya biasakan berdialog dengan Fahmi, memancing supaya ia mau bercerita, berdiskusi dan belajar mengeluarkan pendapat. Saya terus mengasah dirinya supaya mau tampil ke luar. Bertemu dengan orang diluar anggota keluarga. Apapun saya upayakan sebagai bentuk stimulan sehingga Fahmi menjadi anak yang memiliki Tanggap yang Lengkap. Berbagai upaya sebagai bentuk latihan pendidikan karakter pun saya jadikan ajang berlatih Fahmi. Dengan sering bermain bersama binatang peliharaan, Fahmi mulai terpompa rasa peduli dan kemauannya untuk berinteraksi.Melihat air kolam surut Fahmi berteriak-teriak katanya kasihan ikan kalau gak ada air nanti bisa mati. Ia pun minta saya segera mengalirkan air ke kolam.
[caption id="attachment_5679" align="aligncenter" width="300"]Saat suara induk ayam dan anaknya terdengar di halaman belakang, Fahmi tergopoh-gopoh mengajak saya ke dapur.
“Bu, Ami minta beras ya. Itu kasihan bebi ayam mau makan. Lapar. Ami mau kasih makan boleh, ya?” katanya.Akhir-akhir ini pun Fahmi mulai mau “membuka diri”. Ia sudah mulai mau mengaji dan bermain dengan anak-anak mengaji terpisah dari saya.
[caption id="attachment_5675" align="aligncenter" width="300"]Saat siang, Fahmi mulai anteng bermain dengan Salwa, Angga dan Ariel, anak-anak sepantarannya di sekitar rumah.
Saat waktunya makan, ia minta saya supaya temannya juga diberi porsi yang sama seperti porsi makan yang didapat Fahmi. Ia ingin berbagi dan temannya bisa ikut menikmati apa yang ia punyai. Saya bahagia melihat rasa tanggap bersosialisasi Fahmi perlahan mulai terlihat.
Tapi itu saja tidak cukup. Saya paham selain stimulasi kepada anak, nutrisi juga harus berperan untuk mendukung pertumbuhannya. Saya mencari pendukung lain berupa asupan nutrisi yang cocok untuk asupan gizi seusia Fahmi.
Hingga saya menemukan Bebelac baru yang memiliki nutrisi yang dapat mendukung Fahmi putra saya supaya tumbuh hebat dengan tanggap yang Lengkap.
Bebelac baru memiliki kandungan minyak ikan dan omega 6 lebih tinggi, omega 3, FOS:GOS 1:9 yang dipatenkan, serta 13 vitamin dan 9 mineral.
[caption id="attachment_5678" align="aligncenter" width="300"]Ada banyak informasi terkait tumbuh kembang anak yang lengkap di sana loh buibu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar