Beasiswa di Australia. Siapa Mau?
Lalu ngerinya? Saya (dan 5 orang lainnya) mendapat tugas sekaligus tantangan mereview buku yang tidak biasa! Kok tidak biasa? Iya... Karena kalau yang biasa itu mereview buku ditulis dalam.sebuah blogpost. Ini tidak biasa karena review harus disampaikan dalam bentuk video alias vlog!
Atuh saya teh ngahuleng. Intinya meraba kemampuan. Kalau cuman bikin video acakadut tidak masalah. Lah ini sebuah job. Mana bisa main-main?Sekian detik sebelum menyanggupi saya berpikir keras. Sanggup tidak sanggup tidak?
Review Buku Neng Koala, Kisah-kisah Mahasiswi Indonesia di Australia, karya Melati dkk, terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama.Ini sebuah tantangan. Saya tahu saya tidak bisa membuat video layaknya mereka yang sudah lihai. Tapi kalau saya menolak, tak akan ada kesempatan untuk mencoba dan belajar lalu bagaimana mau bisa?
Akhirnya saya terima tawaran ini. Bismillah...
Tahu diri gak ada kemampuan untuk membuat review buku melalui sebuah vlog, saya segera mencari informasi ke sana-sini. Tak disangka saya malah dapat banyak ilmu dan wawasan baru. Jadi tahu istilah baru seperti booktuber yaitu orang yang suka review buku dengan vlog dan menguploadnya di Youtube. Serta tips dan trik membuat review buku di Yotube. Baca juga: Booktuber Lapaknya Tukang Baca Buku di Youtube Lama-lama rasa ngeri ini melebur menjadi rasa sedap juga deh. Karena meski susah dan banyak tantangan nya ternyata setelah dijalani saya malah enjoy. Sepertinya ketagihan buat resensi buku dengan vlog. Meski teramat sederhana pastinya.Akhirnya setelah tamat membaca buku Neng Koala saya merumuskan sedikit konsep konten reviewnya untuk dibuatkan dalam video. Dan ini tidak mudah sodara-sodara...
Ada beberapa kesusahan nya dalam hal:
Takaran Percaya DiriJujur saya mah sebenarnya minder muncul di video teh. Ga ada bakat tampil dari sononya. Tapi ya PD aja. Mau dilihat atau enggak yang penting saya menikmati proses belajar dan membuatnya.
KontenMembuat resensi padat dan lengkap sehingga bisa merangkum semua isi buku dalam video itu tidak mudah. Ratusan halaman harus dijabarkan dalam adegan per sekian detik sekian detik. Belum lagi cukup sulit mencari angel yang tepat yang sesuai dengan isi bukunya. Meski masih jauh dari kategori lumayan, tapi paling tidak bisa mewakili karakter buku itu sendiri.
DurasiJika mereview melalui blogpost di blog bisa menuliskannya begitu detail dan rinci, maka tidak demikian dengan vlog. Bagaimanapun vlog ada trik nya. Salah satunya bagian pertama konten harus sudah mewakili semua isi vlog dan bisa menarik penonton supaya penasaran dan betah, bisa bertahan melihat tayangan video kita. Beberapa detik pertama menjadi ujung tanduk keberadaan vlog apakah disukai orang atau tidak. Ini yang cukup susah buat saya.
Baca juga: Tips dari Youtuber Edho Zell. Mungkin seiring bertambah banyaknya jam terbang, kita akan terbiasa dan mulai mendapatkan formula nya. JaringanTidak dimana-dimana, di Indonesia jaringan masih jadi sebuah kendala. Sekelas kuota pascabayar pun masih saja munyer-munyer. Belum lagi kuota recehan kaya saya. Orang akan memilih meninggalkan video yang susah dibukanya dari pada mantengin lama tapi tetap nguras jatah kuota.
Terlepas dari semua kesulitan yang saya alami itu, toh jadi youtuber termasuk booktuber tetap saja banyak diminati penonton dan punya rezekinya sendiri.
So, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah disertai dengan drama yang menyedihkan plus menjengkelkan akhirnya jadilah vlog resensi Neng Koala saya upload di akun Youtube.
https://youtu.be/y-WaA5WvSFo
Resensi Neng Koala
Setelah tamat membaca buku unyu-unyu berwarna pink yang menegaskan identitas ke-girly-an nya, bisa saya simpulkan kalau buku Neng Koala bisa jadi rujukan buat siapa saja yang mau tahu banget terkait informasi mendapatkan beasiswa ke Australia.
Neng Koala adalah buku kompilasi kisah-kisah nyata yang ditulis oleh 34 mahasiswi Idonesia yang pernah menempuh studi S2, S3, kursus singkat maupun program pertukaran pelajar di Australia.
Buku warna pink ini berisi kisah perjuangan para perempuan Indoensia meraih pendidikan tinggi di Australia.
Di dalam buku yang dicetak April 2018 ini dijelaskan detail terkait suka duka, perjalanan setiap kontributor dan tips serta hal-hal yang tampak sepele namun penting.
Dibuatnya buku ini bertujuan untuk menginspirasi perempuan-perempuan Indonesia agar suatu hari nanti berniat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain itu supaya suami, pacar, anak, saudara, teman dan tokoh masyarakat bisa memahami pentingnya dukungan mereka terhadap para perempuan dalam kehidupannya agar bisa terus mengejar mimpi.
Latar belakang kontributor yang berbeda-beda, membuat semua topik lengkap dibahas dalam buku ini. Penyampaian yang sederhana disajikan layaknya buku diary atau surat pribadi, menjadikan membaca buku ini terasa lebih nyaman dan mudah dimengerti.
Tidak hanya berisi bagaimana perjuangan mendapatkan beasiswa, bagaimana proses dan tahapannya, mempersiapkan keberangkatan bersama keluarga ke luar negeri, adaptasi dengan lingkungan yang multikultur, tapi juga berisi tips praktis survive hidup di Australia. Bahasan terkait mencari kerja sampingan di Australia juga ada lho.Pendidikan itu wajib bagi siapapun, jadi meski tidak berencana melanjutkan sekolah, membaca buku ini bisa nambah wawasan dan pengetahuan.
Secara kasat mata, bisa dibilang tidak ada cacat dalam buku yang diterbitkan oleh Gramedia ini. Nyaris tidak ada ditemukan salah tulis. Kalaupun ada sedikit kekurangan, mungkin karena tidak adanya pembatas buku. Biasanya buku keluaran baru selalu disertai pembatas buku yang gunanya bukan hanya untuk menjadi penanda sampai mana kita membaca buku, tetapi juga sebagai ciri khas untuk properti foto.
Bukan lebay, ya... tapi buat saya adanya pembatas buku yang sekaligus menandakan identitas buku ini sendiri sangat cocok untuk menjadi tanda kalau kita mendapatkan buku kekinian dalam kondisi baru. Masih segel.
Ayo, sekolah (lagi!) :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar