Puisi: Baik Dulu Kebaikan Pun Mengikuti
Oleh Okti Li
Semua bisa bicara
Tapi belum tentu bisa mengajak
Banyak yang pandai bicara
Tapi tidak banyak yang bisa memberi contoh
Seorang teman mengatakan
Jangan berkoar terkait seruan kebaikan jika anak lelaki sendiri masih sulit melaksanakan solat wajib berjamaah di mesjid
Bukan, teman itu bukan mantan tapi seorang yang bisa merasakan perasaan
Ada orang baru saya temui pernah berkisah
Ia lebih senang memberi rakyat walau sedikit daripada didaulat jadi wakil rakyat yang pada prosesnya harus mengeluarkan modal milyaran bahkan lebih hanya untuk sebuah kedudukan yang panas
Bukan, orang yang baru saya temui itu bukan orang bayaran, melainkan mahluk yang bekerja di balik layar Sang Pencipta
Kehidupan ini memang nikmat ibarat minum air susu
namun hanya orang kaya yang bisa leluasa menikmatinya
Bangsa ini tercipta dengan peluh dan darah tidak menutup kemungkinan ada yang ongkang kaki jua disana
Berebut kepercayaan dan simpati meski dengan jalan licik dan tidak terpuji
Manusia hadir dengan segala perbedaan
Keinginan diciptakan untuk membagi mana warna putih dan mana warna kelam
Banyak keinginan tidak banyak yang tercapai tanpa usaha dan doa
Ada kesuksesan manakala keikhlasan menyertai tanpa peduli terlihat atau tercatat
Musim berganti untuk memakmurkan lahan berpijak
Awan kelam menggeser langit biru mengasihi dedaunan hijau di bumi
Ketika mereka dicipta tanpa rasa ironi manusia memelihara serakah dengan segala kemuliaannyaCiptakanlah bumi yang dipersatukan Gajah Mada berseri meski sejenak
Dengan lebih dulu menjadi kader penyeru perdamaian untuk keluarga, tetangga dan negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar