Minggu, 11 Februari 2018

Baca dulu baru komentar

Baca dulu. Baru Komentar.

Suka Blogwalking dan membaca sampai selesai itu baru branding Bloger

 

Blogwalking itu menurut saya ibarat pinjam duit. Terasa manis saat kita didatangi duit. Tapi pahit dan bisa jadi berubah seperti setan (bisa menghilang, maksudnya) kalau pas disuruh bayar. Senang tidak tertandingi manakala ada pembaca blog yang menyempatkan diri berkomentar di tulisan kita. Tapiii... Saat (seharusnya) kita blogwalking balik, nah malas deh tuh dan godaannya berat minta ampun! Ayo boleh ngaku siapa yang suka seperti itu?

Yang jelas bukan saya (ngelesnya duluan). Nah terus tahu kebiasaan itu dari mana kalau bukan dari pengalaman? Oke, begini... Emang ini bagian dari pengalaman saya. Tapi posisi saya bukan sebagai peminjam duit yang malas bayar hutang. Posisi saya ada di blogger kampung alias blogger gunung yang suka wara-wiru main ke blog orang untuk membaca dan meninggalkan jejak.

Taruhlah sehari saya blogwalking ke sepuluh blog. Dengan menyimpan url tulisan saya yang sama sebagai jalan balik si empunya blogger untuk kembali berkunjung (mengunjungi) tulisan saya.

Tapi hasilnya? Hahaha... Menyedihkan! Dari sepuluh blog yang saya kunjungi, hanya tiga blog yang berkunjung balik.

Itu pun (sebenarnya ini baru dugaan saya) yang kunjung balik itu tidak baca selesai semua tulisan saya. Buktinya apa? Tidak jarang apa yang sudah saya tulis di artikel mereka tanyakan lagi di komentar. Dan saya kadang suka usil. Dalam artikel suka bikin kalimat suruhan baik apa yang harus di tulis di komentar atau minta tolong kalau mau kasih komentar didahului oleh kata-kata tertentu.

Hasilnya? BIG NO. alias nihil.

Dengan kata lain meski balas kunjung balik ke blog saya, tetap tidak baca semua tulisan saya. Apa yang saya suruh atau minta kepada pembaca, mereka tidak ketahui (karena mereka tidak baca semua tulisan saya!). Dan (keusilan saya) itu sering terjadi. Suka aja gitu saya melakukannya. Hahaha. Tanpa sedikitpun berniat mau ngerjain lho ya...

Tapi sudahlah saya tidak sedang membahas itu kok. Saya teramat tahu diri siapalah saya. Masih ada blogger yang mau menggendutkan angka PV aja udah bersyukur banget!

Saya hanya ingin menulis untuk makin memantapkan niat saya sendiri saja, meski kehabisan waktu sekali pun tetap berkewajiban membayar hutang. Termasuk hutang blogwalking (meski saat mau blogwalking saya sendiri sudah menetapkan diri kalau saya jalan ke blog orang itu tidak berarti saya menghutangkan) Swear! Mau kunjung balik atau enggak, saya mah ikhlas.

Tapi kalau membudayakan membaca, anggap saja saya lagi latihan kasih info ke Fahmi putra saya atau barudak mengaji Al Hidayah yang kami bimbing di rumah. Maksudnya meski diabaikan saya akan terus mengingatkan: "Ayo mulai dan budayakan membaca sampai selesai (baru berkomentar)..." Anak mengaji kami kan emang pakai prinsip sejenis itu juga. Ayo baca dulu sampai berapa puluh kali atau ratus kali bahkan, baru bisa diwuruk. Jika anak mengaji saja saya biasakan suruh membaca selesai dan berulang, masa blogger yang suka nulis kok sama sekali tidak suka membaca? Baca mungkin baca sih tapi lebih banyak baca tulisan sendiri (pada saat edit itu juga. Haha!) Sebagian bloger orang tidak akan peduli akan hal ini. Tapi saya peduli. Biar saya dicap beda juga. Karena memang saya ingin menebarkan virus baca dulu sampai selesai baru tulis komentar.

Sebenarnya membaca buat seorang blogger bukan sebuah hal yang sulit. Bukankah menulis (ngeblog) dan membaca adalah sesuatu yang sudah sepaket? Hanya malasnya itu yang luar biasa. Tidak banyak waktu buat baca beberapa tulisan di blog beberapa teman padahal temanya sama karena menghadiri satu even yang sama pula.

Tidak ada yang salah. Dan tidak perlu menyalahkan siapapun. Membaca dulu sampai selesai baru kemudian memberi komentar biar jadi ciri khas saya saja kalau emang tidak ada blogger lain yang mau mengikuti.

Blogwalking dan baca sampai selesai biar jadi trend. Dan ini langkah yang saya ambil. Menuliskannya berharap anak saya dan murid mengaji pada baca. Eh para blogger maksudnya.

Gak inovatif? Ga apa. Saya biasa dinyinyirin kok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar