Duh, pake tahu segala kalau di tempat makan di sepanjang Food Street Ubud ini tersedia wi-fi gratis hampir di setiap kedainya. Setelah bertanya apa paswordnya kepada pelayan kedai keinginannya untuk menonton setelah makan pun terpenuhi.
[caption id="attachment_5080" align="aligncenter" width="300"]Saya memang memperbolehkan ponsel jadul saya dipakai oleh anak untuk bermain game edukasi dan atau melihat animasi kesayangannya. Karena saya percaya anak saya melakukan semua itu hanya dalam pantauan dan bimbingan saya dan suami.
Seperti malam ini saat kami makan malam bersama rombongan ngetrip cihuy di Bali. Saya membiarkan anak makan dulu, baru melihat ponsel.
Kenapa tidak dilarang? Tidak. Karena waktunya memang untuk kami bersantai dan senang-senang. Membiarkan anak pegang hp tidak selalu juga saya bolehkan. Lihat situasi juga. Dan malam ini, jangankan Fahmi, kami orang tuanya saja, juga hampir semua peserta ngetrip ke Bali ini sesampainya di kedai lokal tempat kami makan langsung pada mengeluarkan ponsel dan melakukan kegiatannya. Charge ponsel, tanya pasword wi-fi, langsung cek-cek semua notifikasi, dan hal lain-lain dengan ponselnya. Hujan dan low baterai memang membuat kami memilih memasukkan ponsel ke dalam tas selama perjalanan di Tampak Siring sejak sore tadi. Setibanya di tempat aman, maka langsunglah segala hal terkait ponsel serempak dikeluarkan.Yah, begitulah generasi zaman now keadaannya. Tidak bisa dihindari. Tuntutannya memang demikian mau gimana lagi? Masa-masa yang dihadapi generasi Fahmi, putra kami jelas beda dengan zaman saat kami, orangtuanya kecil dulu. Semua sudah berubah dan kami sebagai orang tua harus bisa menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Karena kalau tidak, selain akan tertinggal, akan berdampak juga pada psikologi anak kelak.
Meski tinggal di kampung, saya coba jadi ibu yang bisa mengakses informasi dengan tepat dan akurat. Termasuk dalam informasi tumbuh kembang anak. Ya meski kami tinggal di pelosok, saya tidak ingin jadi ibu yang kurang informasi atau buta dalam masalah nutrisi anak.
Sarapan pagi di penginapan kali ini pun sama, dia mau sambil nonton kartun kesayangannya. Saya gak bisa bilang tidak, selama dia memang menghabiskan pan cake khas Ojek’s homestay yang kami pesan. Dan benar saja Fahmi bisa menghabiskan 3 bagian dari pan cake yang ukuran orang dewasa.
[caption id="attachment_5082" align="aligncenter" width="169"]Pan cake nya emang enak dengan toping susu kental manis (SKM) dan madu asli. Kekenyangan sampai susu UHT bekalnya tidak diminum. Tapi salad sayur dan telur rebus tetap harus dihabiskannya. Karena biar nutrisi yang dibutuhkan tercukupi. Jangan sampai Fahmi yang sudah anaknya kecil, kurus, eh kurang gizi pula. Masa liburan mampu, kasih gizi ke anak gak bisa maksimal? Hehe!
Iya abis ngeri kan dengar kabar di Kendari, Sulawesi sana, masih banyak ibu-ibu yang memberikan susu kental manis kepada anak mereka sebagai pengganti susu untuk bayi. Eh, jangankan di daerah yang masih minim informasi, lah di sekitar saya saja memang banyak kok orang tua yang menjadikan SKM sebagai minuman (katanya) susu yang baik untuk anak.
Okelah mereka di sana mungkin ibu-ibunya masih kurang sosialisasi, kurang edukasi, sementara itu promosi dari produsen SKM lebih gencar dan lebih cepat sampai melalui tayangan televisi. Produsen melakukan apapun demi memenangkan persaingan bisnis. Tapi kalau anak bayi terus dikasih SKM dengan alasan: itu kan minum susu, susu kan menyehatkan? Plis atuh lah... jelas beda atuh kandungan nutrisi antara ASI, susu formula untuk bayi dan SKM.Penyalahgunaan pemberian SKM kepada anak jelas membahayakan kesehatan anak. Pemberian SKM sebagai pengganti susu bayi kepada anak ini jadi penyumbang kesalahan terbesar pemberian nutrisi. Tidak heran kalau World Heatlh Organization (WHO) menyatakan status gizi anak Indonesia masih masuk dalam kategori gizi buruk. Duh menyedihkan ya.
Karenanya melihat anak sendiri yang meski pun sehat tapi tampak kurus, saya sudah merasa apakah ini ada yang salah dengan pola makannya? Kabar memberitakan banyak ibu yang masih kurang teredukasi dengan baik membangunkan saya supaya lebih melek teknologi dan informasi. Dan ilmunya setelah dapat tidak hanya buat saya sendiri. Tapi juga saya share lagi kepada para ibu di kampung tempat kami tinggal.
Memang berat sih godaannya. Jangankan ibu-ibu di daerah yang mengasuh dan membesarkan anak dengan segala keterbatasan ekonomi, Fahmi saja sering kok meminta yang menurut dia enak tapi sebenarnya tidak bagus untuk tumbuh kembang serta kesehatannya. Tapi saya terus memberikan penjelasan yang dengan mudah dimengerti olehnya. Memang berat jadi orang tua zaman now itu ya.
Beruntungnya Fahmi masih bisa dikasih pengertian. Dengan beberapa tips atau trik khusus. Tidak harus dengan kekerasan tidak juga saya lepas begitu saja. Hasilnya?
Sebagai anak-anak dia bisa tetap menikmati masa-masa kekanak-kanakannya dengan riang. Saya dan suami sebagai orang tua juga tidak kehilangan masa golden age nya serta terus bisa memantau perkembangannya hari demi hari.Selagi anak masih dalam pantauan dan bimbingan orang tua serta dewasa lainnya, biarkan anak berkembang dan bereksplorasi sesuai dengan usianya. Karena anak zaman sekarang perlu sistem tarik ulur dalam membesarkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar