Minggu, 17 Desember 2017

Perempuan Indonesia Perempuan Palestina.

Perempuan Indonesia Perempuan Palestina.

Gejolak di Palestina sedang meninggi. Bukan hanya negara, tapi juga dunia tengah memperbincangkannya. Sampai muncul “perbandingan” antara perempuan Indonesia dan perempuan Palestina yang distatuskan oleh seorang penulis ternama Indonesia sehingga menimbulkan pro dan kontra.

Terlepas dari siapa yang menulis dan atau apa maksud serta tujuan menulis statusnya itu, sebagai perempuan Indonesia tentu saja saya juga punya hak untuk “bersuara”. Meski selama beberapa belas jam tulisan ini saya tahan-tahan, akhirnya tulisan unek-unek ini published juga.

 

#Perempuan Indonesia Sedikit anak, banyak fasilitas Makanan instan, laundry cucian Naik mobil dingin, kosmetik buatan asing Uang menipis, mata menangis #Perempuan Palestina Banyak anak, minim fasilitas Masak sendiri, target : punya anak genius Jam malam sudah biasa, bunyi bom ibarat kembang api Uang menipis? “Berati kami harus banyak baca Al Waaqiah.”

 

#AlQudsIbukotaPalestina #AlQudsIsCapitalofPalestine  #AlQuds #Palestina  #Palestine Bagaimana pendapatmu membaca tulisan yang saya copas tersebut? Aslinya status tersebut disertai 3 buah foto perempuan Palestina dengan aktivitasnya.

Ini bukan tulisan tandingan. Saya murni mau curhat. Itu saja. Sebagai perempuan Indonesia sejujurnya saya tidak setuju dengan “isi” dari maksud tulisan yang saya pahami dari sudut pandang saya, selaku perempuan desa, mantan TKW belasan tahun, perempuan Indonesia yang kenyang dengan pahit dan nyeri selama hidup dalam berbagai penderitaan.

Saya ingin katakan tidak semua perempuan Indonesia itu serba enak...

Bukti kecil remeh temehnya ya kondisi saya sendiri yang jelas asli perempuan Indonesia keturunan suku Sunda tinggal di pelosok Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini. Jujur di rumah saya sangat diperlakukan bagai ratu oleh suami. Tapi tetap saya akui kewajiban saya mulai pekerjaan rumah tangga seperti sapu, ngepel, nyuci baju, menyetrika, masak, semua dilakukan sendiri tidak mengunakan jasa pembantu. Saya sangat dihormati oleh suami meski kemana-mana saya harus naik ojek, naik angkot, naik kendaraan umum lainnya karena kami memang tidak punya mobil dingin kendaraan sendiri. Paling banter bisa naik sepeda motor itu pun kalau diantar oleh suami. Saya memang tidak berperang sebagaimana perempuan Palestina yang mungkin sehari-hari peluru dan senjata itu adalah makanan keseharian mereka. Tapi jangan salah, di kampung saya, di Cianjur yang katanya kota santri, gerbang marhamah, namun maksiat ada saja bahkan tampak di depan mata. Di tanah Jawa dan Nusantara keseluruhannya, perempuan Indonesia juga berperang melawan kebudayaan yang tidak sesuai dengan norma, agama serta kepribadian bangsa supaya anak bisa mendapatkan pendidikan karakter yang sesuai dan tidak menyalahi aturan. Tahukah itu tidak kalah hebat dari perang yang sesungguhnya?

Tanggung jawab seorang ibu di Indonesia, dalam melindungi buah hati dari berbagai serangan penyakit baik penyakit yang menyusup melalui televisi, melalui gadget, maupun penyakit yang hinggap lewat pergaulan, itu tidak kalah besar jihadnya dibanding perempuan Palestina di sana. CMIIW.

Semua yang bernama perempuan apalagi seirang ibu saya rasa bukan hanya khawatir akut, tapi juga pusing ratusan juta keliling manakala memikirkan bagiamana cara supaya pola pikir dan cara beretika anak-anak kita bisa terbebas dari racun yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan ahlak anak-anak. Setiap orang tua khususnya ibu pasti berkeinginan mengantarkan buah hati yang pintar, cerdas, soleh/solehah meski mungkin tidak banyak yang masuk kategori jenius.

Sejak kecil saya terbiasa hidup susah. Tapi tidak ada sedikit pun diajarkan baik oleh orangtua atau guru di sekolah apalagi guru mengaji kalau duit menipis tinggal mata yang menangis. Yang ada saya dididik harus prihatin. Meski tidak punya pantang untuk meminta minta. Kerja keras dan teruslah berusaha, demikian didikan orang tua dan semua guru. Belasan tahun bekerja jadi kuli buruh di luar negeri bukan karena saya betah, tapi karena kondisi dan kebutuhan. Apapun akan saya lakukan demi bisa mengangkat harkat martabat keluarga selama itu halal. Coba kalau saya cuma bisa nangis, apa bisa tangisan menyelesaikan masalah saya? Kondisi morat marit bukan berarti boleh cari duit menghalalkan segala cara, bukan? Tapi pakai otak, mikir, bagaimana bisa usaha atau kerja biar bisa lebih produktif dan berdaya...karena itu jutaan perempuan Indonesia rela bertaruh nyawa, LDR dengan orang tercinta dan keluarga dengan menjadi pahlawan devisa alias TKI di luar negeri. Duit habis tidak cukup hanya dengan menangis lalu case closed! Pengen tertawa dan penasaran saya dengan perempuan Indonesia yang kosmetiknya buatan asing. Siapa sih dia? Secara saya pribadi boro-boro buatan asing, merek lokal saja jarang beli. Bukan suami tidak mampu kasih belanja buat istrinya permak diri, tapi saya yang tidak mau berlebihan. Bedak lipstik, body lotion semua sudah saya dapat dari hadiah baik lomba, giveway, maupun produk review, itu semua sudah lebih dari cukup buat saya. Banyak dapat voucher perawatan dari salon kecantikan malah semua saya kasih kepada mereka yang lebih membutuhkan. Perempuan Indonesia tidak melulu hanya bisanya dandan. Come on...

Saya yakin selain saya yang hidup pas-pasan juga masih banyak perempuan Indonesia lainnya di seluruh penjuru Nusantara ini yang jauh lebih prihatin dan morat marit. Meski tidak berniat memojokkan perempuan Indonesia tetapi karena sudah terlanjur disebut perempuan Indonesia maka mau tidak mau semua jadi tersangkut. Semua seolah dianggap sama meski banyak perempuan Indonesia yang tangguh dan bukan anak mama.

Anak yang jenius saya kira bisa lahir, besar dan berasal dari mana saja, bukan hanya dari Palestina. Tidak sedikit kok anak bangsa Indonesia yang punya prestasi gemilang baik akademik maupun non akademik. Dan itu pasti ada peran sang ibu alias perempuan Indonesia di belakangnya.

Saya punya anak yang dikatain orang si jago kandang, saya terima karena saya yakin akan ada sisi baik lainnya dari anak saya yang mungkin belum sampai diketahui orang. Saya tetap bangga dengan anak saya. Kalau bukan kita yang bangga dan salut dengan anak sebagai keturunan sendiri bagaimana bangsa lain mau menghargai bangsa ini?

Meski ada KB, tidak sedikit lho keluarga di Indonesia yang punya anak banyak. Kakak saya sendiri anaknya delapan. Belum sampai usia 40, dia sudah punya cucu lima orang! Masalah bukan mau dikasih makan apa, tapi sejauh mana kemampuan orang tua dalam mendidik dan membesarkan keturunan dengan makismal.

Saya tidak bilang kebangetan sekali ini tulisan meremehkan semua perempuan Indonesia, tapi saya sendiri memang tidak terima. Apakah masih kurang contoh bagaimana gigihnya para perempuan Indonesia selain saya?

Coba yuk main ke daerah pinggiran, sesekali jalan ke pelosok desa dan temui sekian banyak perempuan perkasa di sana. Mereka perempuan Indonesia lho! Banyak yang jadi kuli tandur, pemecah batu, kuli bangunan, pengumpul rongsokan, bahkan yang hidup nomaden dalam gerobak. Mereka harus berjuang mati-matian supaya bisa bertahan hidup, membantu perekonomian keluarga dan bisa membesarkan anak. Tidak sedikit para janda miskin yang berprofesi buruh, miskin, tapi tetap semangat bekerja demi bisa bertahan hidup. Tidak peduli sepanjang hidupnya terus dililit utang dari rentenir karena dalam pikirnya yang penting bisa survive.

Perempuan sebagai manusia, tidak di Indonesia tidak juga di Palestina mereka punya cara masing-masing dalam memperjuangkan cita dan harapannya sendiri-sendiri. Saya pikir tidak usahlah membela yang satu dengan menjatuhkan yang lain apalagi apa yang disampaikan belum tentu juga benar.

Perempuan Palestina maupun perempuan Indonesia kita sama berjuang dengan cara dan jalannya masing-masing. Mungkin yang membedakan kondisi lingkungan di sana yang sedang konflik. Tapi kita yakin semua sudah diatur oleh Nya. Kita perempuan adalah para wayang yang sudah mendapatkan peran masing-masing. Tinggal bagaimana kita menjalankan peran sebaik-baiknya sehingga di akhirat kelak bisa mempertanggungjawabkannya.

Saya sangat menghargai atas keprihatinan dan keberpihakan dari tulisan itu kepada perempuan Palestina. Tapi plis atuhlah alangkah bijaknya jika tidak disertai dengan tulisan yang menjatuhkan perempuan Indonesia secara umum.

Sejujurnya saya sedih melihat kondisi di Palestina dari berbagai media berita. Bukan saya tidak peduli Palestina jika akun media sosial saya datar-datar saja tidak pernah membuat status sebagai bahasannya. Meski sebagai team emak berdaster, gini-gini saya peduli dengan Palestina. Saya justru merasa kecil tidak ada bandingannya jika dijejerkan dengan perjuangan perempuan di Palestina. Tapi bukan berarti perempuan Indonesia sedikit anaknya, banyak fasilitasnya, makanan nya instan, terus laundry cucian dan kemana-mana naik mobil dingin ditambah kosmetik buatan asing. Apalagi uang menipis, mata menangis... sekali lagi saya serukan selaku perempuan Indonesia, itu bukan saya.

Saya sangat bersyukur dengan apa yang saya alami dalam segala kekurangan. Saya nikmati, saya terima, saya bahagia. Setiap kehidupan punya jalan masing-masing.

Yang harus saya akui dan harus saya pelajari lebih dalam adalah tentang QS. Al Waqiah. Meski setiap malam jumat selalu kami baca bersama anak-anak santri mengaji di rumah setelah QS. Yaasin dan QS. Ad-Dukhan, namun QS. Al Waqiah sepertinya harus lebih sering dibaca lagi sebagai penjamin rezeqi dan dibebaskan dari kesusahan. Supaya saya khususnya dan perempuan Indonesia umumnya mungkin bisa seperti perempuan Palestina.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar