Kantuk saya hilang manakala malam-malam dapat informasi dari teman kalau di Curug Ngebul yang berada si Desa Bunijaya, Kecamatan Pagelaran Kab. Cianjur bagian selatan ditemukan Owa Jawa yang turun ke perkampungan sekitar air terjun.
Yang jadi masalah seperti dituturkan teman saya yang bekerja di Perhutani itu, masyarakat setempat tidak tahu kalau hutan tempat Owa Jawa tinggal itu hutan lindung, dan mereka juga tidak paham benar apa itu hewan langka yang dilindungi sehingga baik terhadap kelestarian hutan (lindung) maupun keberadaan Owa yang langka dan dilindungi ini mereka jadi tidak peduli.
Padahal teman saya yang sekaligus kakak kelas sewaktu sekolah itu ingin masyarakat peduli dan tahu kalau wilayah hijau di Pagelaran paling ujung membutuhkan penanganan.
Turunnya monyet kecil bermuka mini dan hitam itu tandanya tempat mencari makan di hutan sana sudah mulai habis. Mana ada hewan liar mau turun kampung sekitar tengah hari jam satu-an kalau tempat mereka tinggal tidak terganggu. Owa Jawa yang menurut Kementerian Kehutanan jumlahnya tinggal ratusan ekor itu turun dan nyari makanan pasti karena di hutan tempat ia tinggal selama ini sudah membuatnya tidak nyaman.
Sayangnya jenis monyet langka ini bergerak cepat sehingga saat turun ke halaman warga, teramat sulit untuk mengambilkan foto sebagai bukti. Sejenis kamera DSLR 35mm aja gak bisa foto dan sepertinya itu kode kalau memotretnya paling tidak harus pake lensa tele.
[caption id="attachment_6187" align="aligncenter" width="300"]Teman saya sampai mengeluarkan idenya. Ia berencana mau pasang kamera trap. Jadi ketika ada orang datang sudah bisa memotret sendiri. Saking inginnya bisa memotret hewan langka itu buat difollow up ke kementerian atau LSM yang kompeten.
Pihak Perhutani sendiri sebelumnya telah menyelamatkan seekor Owa Jawa yang hampir mati dianiaya warga. Kini Owa tersebut berada di Sukabumi.
Bukan hanya Owa, di hutan sekitar Curug Ngebul sana juga ternyata masih ada Harimau Jawa yang juga pernah ditemukan oleh warga setempat.
Pernah seekor Harimau Jawa dewasa ditemukan telah dibunuh warga meski warga tahu itu hewan langka dan itu berasal dari hutan lindung. Tapi lagi-lagi warga tidak peduli.
Hutan di belakang curug ngebul adalah hutan lindung yang sebagian wilayahnya masuk ke Kab. Bandung Barat dan sebagian ke Kab. Cianjur. Terbentang dari Citiis Sukanagara sampai ke Cempaka dan dari Kab. Bandung Barat sampai ke Cianjur lagi dengan jumlah luas kurang lebih 16 ribu hektar.
[caption id="attachment_6188" align="aligncenter" width="300"]Warga tidak mau tahu jika hutan lindung di atas sana telah rusak. Mereka tidak percaya jika sekitar 10 tahun lagi kemungkinan daerah Pagelaran, Sukanagara dan Tanggeung persediaan air nya akan terganggu. Akan ada masa dimana warga kesulitan air bersih karena mata air nya di atas semua rusak.
Hutan Lindung di Curug Ngebul sendiri masuk ke wilayah dalam 4 kecamatan dengan dua kabupaten. Yang masuk wilayah Pagelaran mulai dari Curug Cijampang sampai ke irigasi Sungai Cilumut. Menaungi tiga curug yaitu Curug Cijampang, Ngebul san Cirangkong.
Hutan Lindung sekitar Curug Ngebul ini masih memiliki flora dan fauna unggulan, lho. Masih ada rupanya daerah hutan alam yang kaya habitat flora dan fauna nya. Seharusnya ini jadi kebanggaan dan unggulan Kabupaten Cianjur.
Sambil membuka data-data, teman saya menjelaskan jika di hutan lindung wilayah Pagelaran malah ada jenis kayu klasifikasi endangger yang menjadi ciri khas Jawa Barat yang hanya tumbuh di Hutan Lindung Pagelaran (Curug Ngebul). Pohon itu hanya tinggal beberapa batang saja di hutan lindung tersebut.Informasi dokumen HCVF (dokumen resmi milik perhutani) dinyatakan jika informasi itu sudah diakui oleh auditor luar negri. Pihak Perhutani sudah melakukan sosialisasi beberapa kali ke warga sekitar tapi sulit karena pemda kurang mendukung dianggap nya hal ini tidak penting.
Kini saatnya warga Cianjur ditantang untuk peduli dan urun rembug bagaimana baiknya sikap warga dalam menjaga kelestarian lingkungan hutan lindung serta melindungi fauna di dalamnya yang sudah akan punah. Sebagai Blogger saya mungkin hanya bisa menuliskannya meski tidak tahu bagaimana nasib tulisan saya ini kelak.
Semoga pihak lain akan ada yang mau ikut sumbang ide bagaimana caranya nih supaya warga sekitar Curug Ngebul bisa mengerti dan mau menjaga kelestarian alam.
Mungkin kah akan ada komunitas yang peduli seperti Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) yang menangani Owa Jawa seperti di Sukabumi sana?
Atau mungkin pembaca tahu kira-kira kemana tulisan (informasi) ini harus saya forward? Dengan penuh harap demi kelangsungan hidup hewan langka Owa Jawa saya tunggu ya masukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar