Minggu, 06 Agustus 2017

Idealisme Blogger

Idealisme Blogger. Saat kejujuran blogger dipertaruhkan.

 

 

 

Dunia per-Blogger-an lagi geger. Karena tulisan nya, seorang blogger diciduk (minjam istilah Rosid) oleh aparat (yang tentu saja berdasar kepada laporan atau pengaduan dari pihak yang tersinggung oleh tulisan sang blogger.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang kadang-kadang suka ngaku sebagai blogger juga tentu saja saya merasa was-was dan tidak habis pikir. Secara melihat tulisan sang blogger yang dipermasalahkan itu (menurut analisis saya) abaikan istilah yang sok gayanya  tidak ada yang melenceng dari kaidah jurnalistik maupun aturan 5w 1 H. Kecuali memang tidak disertakan tanggapan dari pihak yang disebutkan oleh sang blogger. Tapi tentu saja itu tidak masalah. Kan ini menulisnya di blog, milik pribadi. Bukan media masa yang harus menyajikan berita seimbang dari dua sisi. Tapi justru dari situ timbul masalah. Jadi MASAHNYA APA? Sampai sang blogger ditangkap pihak berwajib karena berdasar laporan atas tulisannya itu. Padahal yang ditulis kan bukan fitnah, secara bukti dan fakta lengkap. Itu juga menurut saya bukan pencemaran nama baik, karena kalau iya, tidak akan ada aksi demo warga sebelum-sebelumnya. Malah kalau dilihat dari kronologis yang dipaparkan sang blogger, justru yang bermasalah bukankah si pihak yang diceritakan? (Karen itu tulisan sang blogger ada, sebagai curhat dan warning supaya tidak ada lagi konsumen yang dirugikan). Okelah mungkin ada hal yang tidak kita ketahui kenapa sang blogger bisa ditersangkakan. Tapi meski lepas dari semua itu...tetap jadi kepikiran kalau tulisan saya bernasib demikian, waduh! Bagaimana dan kumaha nasib saya? Yang pasti setelah berita ini muncul dan viral, saya jadi bertanya-tanya sendiri. Jadi blogger teh kudu kumaha?

Buktinya blogger jujur menulis sisi keburukan brand/klien malah kesandung Undang-undang ITE. Blogger nulis sisi baik (padahal itu juga jujur) dibilang blogger jualan, blogger bayaran, dan blogger lainnya yang bernada nyinyir.

Sang blogger menulis bagus-bagus (padahal bohong, dan jelas kalau bohong itu dosa) tetap aja blogger dicap penjilat perusahaan.

Hemm... Pernahkah merasa dimana sebuah pemberitaan baik di media resmi maupun blog pribadi tidak bisa dipercaya lagi karena semua tahu kalau isi pemberitaannya mayoritas berita pesanan dan/atau asal pemesan puas yang penting harga pantas?

Mungkin sebaiknya blogger menulis "sesuai pesanan" gitu? Rela menggadaikan idealisme dan kejujuran demi bayaran? Kalau pun ada blogger seperti itu, gak menjamin juga blognya bakal banyak yang baca. Kalau sudah menemukan media seperti itu, tidak bisa dipercaya lagi, siapa yang mau baca coba? Buat apa coba kalau bikin jenuh saja dan isi tulisan bisa ditebak?

Buat para blogger mau tidak mau hal ini sedikit banyak mengusik hati nurani terdalam. Kejadian karena menulis di Blog lalu jadi tersangka karena pengaduan pencemaran nama baik oleh sebuah pengembang yang diulas oleh si penulis yang menuliskan kekecewaan dan ketidakpuasannya sebagai konsumen atas properti yang telah dibelinya ini jadi mimpi buruk tidak berkesudahan.

Masa harus nulis yang bagus-bagus saja meski nyatanya mengecewakan?

Jaman sekarang blogger juga kudu berpikir ke depan. Meski menulis di blog sendiri (yang identik dengan slogan suka-suka gue dong, blog-blog gue, mau nulis apa aja gimana gue aja) tapi dengan adanya Undang-undang ITE, bisa-bisa kalau ada pihak yang tidak suka, pemilik blog bakal dipaksa harus nurut atau sebaliknya jadi tersangka.

Mau tidak mau penulis tetap dituntut dan yang menonton dipaksa percaya kepada hukum, sementara hukumnya sendiri (sering) tidak amanah.

Konsumen atau blogger menulis di media internet maupun bukan sebenarnya upaya akhir melampiaskan kekecewaan. Seandainya pelayanan konsumen cepat tanggap menindak lanjuti keluhan konsumen mungkin tidak akan merambat nulis kemana-mana.

Jaman semakin memutar balik fakta. Blogger dituntut urus berpikir dan jeli. Tapi jangan salah, meski saat ini seorang blogger berhasil ditersangkakan, (anggap saja itu sebuah kemunduran blogger selangkah) kita tunggu dan lihat nanti dampaknya ke depan bagaimana.

Meminjam istilah dari Pak Hazmi Srondol founder Blogger Reporter Indonesia (BRID), saat ini blogger mungkin bisa dibilang sedang mundur selangkah. Tapi hati-hati, tanda-tanda tsunami juga begitu. Air kayak mundur sedikit ke laut. Habis itu....

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar