Minggu, 20 Agustus 2017

Buzzer Pakai Modal Gak Sih?

Buzzer Pakai Modal Gak Sih? Enak banget ya cuma ngetwit udah dapat duit...  Pernah dengar lontaran kalimat entah nada ngejek atau nyanjung  begitu?

Atau sejenisnya seperti : "Wah ngiklan ya?" Ini kalimat orang awam sederhana yang belum tahu seluk beluk dunia blogger dan buzzer. Intinya karena ada barang atau jasa yang diceritakan atau diperlihatkan maka di mata mereka itu adalah iklan.

Apa sih buzzer? Saya sendiri baru denger istilah ini sejak ramainya masa kampanye pilpres beberapa tahun lalu. Lanjut istilah buzzer makin memanas pas pilgub DKI.

Secara bahasa buzzer berasal dari kata (dasar) buzz. Menurut kamus dapat pinjam artinya "pembicaraan". Dengan istilah ini bisa dimengerti secara mudahnya kalau buzzer itu adalah orang yang membicarakan, orang yang diharapkan bisa membuat sebuah topik pembicaraan (keywords).

Kalau mengutip dari TanyaBangwin di Trenologi yang dijalankan bersama dengan Edwin SA --seorang social media consultant dan online business advisor.

buzzer adalah orang-orang yang memiliki follower banyak lalu mereka dipergunakan dengan sejumlah bayaran oleh perusahaan/brand/pihak-pihak yang mau membayar mereka untuk menyebarkan pesan.

 

Saya pikir orang baru bisa jadi buzzer jika followernya berjumlah fantastis. Tapi ternyata tidak sepenuhnya demikian. Seorang buzzer seharusnya terlepas dari jumlah follower. Karena yang harus dimiliki adalah kemampuan membangun buzz. Dan jika iya juga memiliki jumlah follower yang banyak maka itu adalah nilai plus buat si buzzer tersebut. Banyak lihat dan curi dengar info kalau aturan buzzer sekarang masih dihitung dari tweet berisikan pesan campaign. Dengan kata lain buzzer dibayar dari jumlah tweet yang diminta oleh yang meng-hired-nya. Penghitungan sukses tidaknya rate-nya adalah dari jumlah tweet yang di-retweet, sehingga bisa diukur seberapa jauh si pesan tersebut bisa menjangkau. Semakin besar jumlah retweet, maka makin besar pula jangkauannya.

Dan tahukah metode itu justru bikin jengah dan ilang filing bagi sebagian follower, lho! Iyalah siapa juga yang mampu bertahan mendapat "jejalan" oetomo dan dijadikan target iklan? Maka ketika mendapat kesempatan jadi buzzer dan banyak follower yang akhirnya menyerah lalu unfollow disitulah saya merasa sedih. Apakah itu tandanya saya belum maksimal dalam mengolah kata campaign dan belum bisa menarik simpati follower?

Mungkin follower tidak akan jadi butek jika twit pesan terkait campaign disampaikan tidak dengan pendekatan hardselling tapi dengan memasukkannya ke dalam elemen percakapan, sehingga jauh lebih santai.

Kemampuan buzzer pun dituntut serba bisa antara membuat promosi, mengurus kosa kata campaign supaya jadi bahan pembicaraan hingga --syukur-syukur-- bisa jadi viral.

Ibarat menjadi resiko walau niatnya jadi buzzer atau influencer tapi diterima follower lain lagi. Alih-alih menerima info dari campaign yang sedang dijalankan, yang ada justru mencap buzzer sebagai spammer! Sungguh pengorbanan seorang buzzer yang belum banyak diketahui...

Ternyata jadi buzzer itu butuh modal pengorbanan ya, bukan hanya kudu siap waktu mantengin media sosial tapi juga kudu siap jika suatu saat follower hilang simpati dan berbuntut ngeunfollow akun mensos si buzzer.

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar