Minggu, 11 Juni 2017

Derita Ibu Rumah Tangga: Baper Boleh Kalau Puasa Jangan Buruk Sangka

Buat mamah mamah muda yang super dan enerjik baper boleh-boleh saja tapi kalau puasa mbok ya jngan buruk sangka, toh?! 

Saingan dalam kehidupan bertetangga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat orang Indonesia. Iya di Indonesia, soalnya kalau di luar negeri belum pernah tuh liat ibu-ibu pengajian atau arisan yang saling pamer atau saling menjatuhkan satu sama lain. Beda dengan perempuan di luar negeri kalau perempuan bangsa kita itu terlalu berperasaan, alias dikit dikit baperan!

Bulan puasa apalagi. Tetangga terlihat udah ribut beli baju baru, hati udah gelisah, aku kapan belinya. Tetangga udah sibuk bikin kue-kue buat lebaran, mata udah jelalatan, kok kita gak dibagi sih? Saat tetangga shalat tarawih ganti mukena yang ribut kan bibir dan mata. Ngedumel dan melirik sinis, mau ibadah atau pamer, Jeng?

Berasa apapun tidak ada yang benar bagi kita saat melihat tetangga melakukan sesuatu sementara kita bisanya hanya mencibir, ngomongin, dan nyumpahin. Entah karena gak ada kerjaan atau emang hati dan pembawaannya demikian?

Perempuan memang halus perasaannya. Sensitif. Apalagi kalau pas lagi datang tamu bulanan nya. Tapi bukan berarti bisa mengartikan perasaan itu jadi rujukan buat ngejudge orang. Perasaan panas ketika tetangga dapat rezeki beda dengan perasaan panas ketika kita tersundut api. Bawa perasaan boleh tapi kalau jadi prasangka buruk apalagi dapat menimbulkan fitnah, itu bahaya. Padahal perempuan Indonesia pada pinter. Sejak kecil bukan hanya dididik sopan santun, etika dan juga tata krama, tapi juga diajarkan sifat penyayang, berbaik sangka dan tepa slira. Tapi tidak tahu kenapa prasangka buruk pasti aja nyelip di pikirannya manakala melihat tetangga mendapat bahagia.

Ah itu sih pikiran situ aja, saya tidak kok.

Alhamdulillah dong ya. Sebagaimana kita kita berada di pihak yang dikucilkan tetangga. Dikucilkan bukan sebagaimana istilah jaman dulu kala; hidup terpencil dan tak diberi kesempatan untuk bersosialisasi. Dikucilkan disini lebih kepada keberadaan kita dianggap tidak ada oleh tetangga.

Pernah merasa demikian? Saat kita tidak tahu apa salah kita, tiba-tiba tahu dari orang kalau tetangga ngomongin jelek tentang kita. Saat kita bersikap biasa saja, tetangga tampak beda, jual mahal sapa, pelit senyum namun mengumbar omelan saat berada di belakang kita. Adakah tetangga yang bersikap demikian kepada kita di bulan puasa ini? Bersyukurlah jika iya.

Sesungguhnya berbahagialah orang yang dibenci tetangga. Karena secara tidak langsung tetangga tersebut sudah mengorbankan waktu serta pikirannya untuk menilai dan memperhatikan kita. Bahkan biasanya sampai detail. Coba mana ada orang yang mau secara gratis memperhatikan gerak-gerik seseorang dengan tanpa dibayar? Kecuali tetangga yang usil, iya kan?

Apalagi saat bulan puasa, selain keberadaan tetangga seperti itu harus kita syukuri (bersyukur mau-maunya mikirin kita) juga patut kita KASIHANI. Ya, kasihan banget bulan puasa kok demikian relanya menyimpan ruang di hatinya untuk menimbun hal tidak penting. Iyalah menurut saya sama sekali tidak penting mikirin tetangga udah beli baju baru apa belum terus diceritakan lagi ke tetangga lain. Bukankah lebih penting menggunakan waktu yang ada ini untuk hal positif? Ibadah misalnya. Lebih baik diam daripada menggunjing tetangga. Itu sih kalau menurut saya.

Karenanya patut kita kasihan kepada tetangga yang selalu bermuka masam dan punya dua muka atau muka tembok. Saat bersama kita begini, saat dibelakang kita begitu. Kasihan banget. Merugi dunia akherat dengan keuntungan nihil baik di dunia apalagi di akhirat.

Baper dalam kehidupan bermasyarakat bersama tetangga itu boleh-boleh saja. Tapi kalau berlebihan apalagi menimbulkan prasangka buruk sepertinya lebih baik kita jauhi saja. Masih banyak hal positif yang bisa kita kerjakan daripada ngomongin tetangga atau membenci orang lain karena merasa mereka kok bisa segalanya sementara aku tidak?

Manusia tidak ada yang sempurna, termasuk tetangga. Tugas kitalah memaafkannya dan kalau bisa ajak supaya tetangga yang judes sama kita itu supaya mau ngeblog #eh iyalah mending ngeblog ngobrol di Blog dapat fee daripada bergosip di halaman tetangga mana ada yang mau bayar?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar