Ketika generasi muda sekarang sudah mulai abai akan kelestarian alam, Almarhumah Bu Ika --yang baru saja digelar pengajian ke seratus hari meninggalnya-- sejak tahun 2002 justru sudah punya cita-cita ingin menciptakan lahan organik (tanpa campuran bahan kimia) yang bisa menghasilkan sumber pangan sehat dan kaya gizi. Bersama suami Pak Fleming Wong yang biasa dipanggil Pak Aming mereka jatuh bangun merintisnya dari nol.
Berawal tahun 2004 ketika mendapat lahan di Kampung Gasol, Desa Gasol Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Ibu Ika mulai mencoba menciptakan lahan organik dengan mencari bibit-bibit varietas unggul lokal dari petani daerah. Suami istri ini membuka usaha tani dengan sistem penanaman padi varietas lokal Cianjur yang terkenal berkualitas tanpa bahan kimia, baik untuk pupuk, pestisida, atau bahkan zat pengatur tumbuh lainnya. Semua dijaga kealamiannya.
Kebetulan daerah Gasol cocok dijadikan lahan tanaman padi lokal legendaris seperti jenis pandan wangi karena suhu udaranya stabil, memiliki kandungan mineral organik yang tinggi, dan memiliki persediaan air yang melimpah.
[caption id="attachment_4002" align="aligncenter" width="300"]Tidak mudah memang karena saat itu para petani justru sudah beralih menanam padi jenis baru yang lebih cepat dipanen dan menggunakan pupuk modern. Tapi berkat ketekunan serta kerja keras Bu Ika yang didukung suami dan ibunda tercinta Ibu Wawa Chairunisa, perlahan varietas lokal padi unggul mulai ditemukan dan dibudidayakan.
Pengertian pentingnya penanaman secara organik kepada petani daerah pada awalnya banyak mendapat tentangan. Tawaran kerjasama dengan sistem bagi hasil pun tidak membuat lantas para petani giat menjalankannya. Tetapi semua itu tidak membuat semangat Bu Ika beserta keluarga surut, justru membuat lulusan sarjana pertanian Institut Pertanian Bogor ini semakin kuat untuk membangun tanah pertanian dan melestarikan padi varietas lokal yang sudah di ambang kepunahan.
Pak Aming bercerita jika istrinya punya keinginan menciptakan penanaman lahan organik ini setelah membaca buku yang berjudul Revolusi Sebatang Jerami karya Masanobu Fukuoka. Bu Ika mengenyampingkan ilmu pertanian yang dipelajarinya di perkuliahan dan memilih melakukan sistem pertanian tradisional yang pengelolaannya sama sekali jauh dari sentuhan pupuk kimia dan pestisida.Dari buku pengarang asal Jepang itu ibu tiga anak ini jadi tahu jika selama ini manusia selalu memaksa alam untuk menghasilkan lebih. Ibu Ika menyadari jika saat ini sedang marak produk massal pertanian penuh rekayasa kimiawi. Secara tidak langsung itu adalah pemaksaan kehendak manusia terhadap alam. Karena dengan berbagai cara instan, tumbuhan dipaksa memproduksi hasil yang banyak dalam waktu singkat. Tanpa memikirkan bagaimana keseimbangan serta kelestarian alam kedepan nya.
Karena itu akhirnya Bu Ika memilih menjalankan sendiri cita-citanya dan kalaupun harus mengajak kerjasama petani lokal, ia memilih yang bisa benar-benar bekerja sama dengan cara organik seperti cita-citnya. Pada praktiknya Bu Ika menerapkan sistem membajak sawah dengan menggunakan kerbau (sampai saat ini), penanaman satu lubang satu benih, pemupukan dengan bahan-bahan alami kompos dan pupuk kandang, serta pengairan dari hulu Sungai Cianjur yang belum kena polusi.
Setahun berlalu hasilnya luar biasa. Revolusi Bu Ika berjalan sukses dan padi varietas unggul yang jadi legenda di Cianjur akhirnya bisa tumbuh kembali. Dengan keberhasilan menanam padi varietas unggul organik, selanjutnya Bu Ika membuat tepung beras sendiri.
[caption id="attachment_4016" align="aligncenter" width="300"]Tepung Beras Alami Gasol ini kini distribusinya sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keseriusan Bu Ika mengangkat bahan pangan lokal mendapat penghargaan sebagai Juara 1 Tingkat Jawa Barat untuk Diversifikasi Pangan pada Food Ethnic 2011. Karena semua keberhasilannya itu Bu Ika juga menyabet gelar Perempuan Inspiratif NOVA 2011.
Kini Bu Ika telah tiada karena penyakit kanker payudara yang dideritanya. Namun semua cita-cita dan usahanya tidak berhenti. Pak Aming berharap masyarakat umum semakin mengenal produk Gasol Organik dan para petani mulai memikirkan betapa banyak keunggulan yang didapat jika mengolah lahan menggunakan sistem organik. Pak Aming melanjutkan mengurus pabrik serta lahan sawah memajukan Gasol Pertanian Organik untuk tetap berjalan dan semakin diterima masyarakat.
Pak Aming bekerja tidak sendirian namun didukung para petani lokal, staff dan karyawannya yang terampil. Sebagian pekerja adalah para ibu-ibu usia lanjut warga setempat. Sementara jika Pak Aming sedang di luar daerah, yang bertanggungjawab di sawah dan pengolahan pabrik Gasol adalah Pak Rohman.
Rombongan blogger dari Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Cianjur berkesempatan berkunjung ke Gasol Pertanian Organik, Selasa, 16 Mei 2017 lalu. Rombongan diterima dengan ramah dan penuh kekeluargaan, terasa sekali nuansa pedesaan di area pabrik Gasol yang memiliki luas 2 hektar itu. Di Rumah Kayu, tempat tinggal keluarga Pak Aming yang dibangun dengan kayu-kayu pilihan rombongan dijamu dengan olahan kuliner tradisional. Getuk yang terbuat dari tepung organik, combro yang renyah dan bikin nagih, plus teh serai panas yang wanginya bikin segar.
Didepan Rumah Kayu, terhalang lapangan untuk menjemur padi berdiri kokoh bangunan tingkat dua yang disekat menjadi kamar-kamar. Fungsi dari kamar itu untuk penginapan jika ada tamu yang datang ke areal pabrik. Seperti Pak Aming bilang memang kerap datang para mahasiswa yang studi banding atau tamu dari luar daerah yang ingin tahu lebih detail terkait pengolahan sawah organik dan pengolahan Tepung Organik Gasol.
[caption id="attachment_4020" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_4008" align="aligncenter" width="300"]Pembuatan kandang ternak yang higienis dan berwawasan lingkungan terasa sangat nyaman dan asri. Tidak tercium bau kotoran karena perawatan yang sangat disiplin. Di atas kandang malah dibangun kamar-kamar untuk tempat menginap para pekerja.
[caption id="attachment_4019" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_4025" align="aligncenter" width="169"]
[caption id="attachment_4006" align="aligncenter" width="300"]Sebelum pulang, tidak lupa kami diajak langsung melihat Ruang Galery yang sangan modern berisi foto-foto pajangan perjalanan usaha Gasol Organik. Foto Almarhumah Ibu Ika, Pak Aming dan Bu Wawa selaku kontributor ekslusif di Gasol Pertanian Organik. Ruang Galery ini sekaligus menjadi pintu masuk pabrik pengolahan Tepung Gasol Organik.
Memasuki pabrik tempat pengolahan Tepung Gasol Organik, harus melalui beberapa pemeriksaan terlebih dahulu. Tidak diperkenankan mengenakan perhiasan logam, termasuk kamera dan gadget. Juga harus mengenakan pakaian khusus, masker dan alas kaki khusus. Semua itu dilakukan demi menjaga kebersihan serta kehigienisan produk yang dihasilkan.
[caption id="attachment_4024" align="aligncenter" width="169"]
[caption id="attachment_4013" align="aligncenter" width="169"]
[caption id="attachment_4023" align="aligncenter" width="240"]
[caption id="attachment_4009" align="aligncenter" width="294"]
[caption id="attachment_4005" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_4021" align="aligncenter" width="300"]
Melihat hamparan padi varietas unggul yang begitu hijau di Kampung Gasol betapa rasa syukur ini kian menyeruak. Tuhan telah menganugerahkan semua itu maka sudah seharusya manusia-manusia yang merasakan kenikmatan itu memelihara dan melestarikan. Tuhan sudah mengatur keselarasan antara alam dan penghuninya, jika perlakuan kita baik maka alam pun akan memberikan hasil terbaik.
Terimakasih Ibu Ika atas perjuangannya, semoga amal baik Ibu diterima dan mendapatkan pahala berlipat serta mengalir terus seperti aliran air dari hulu ke hilir yang mengairi padi-padi varietas unggul yang telah Ibu revolusikan.
[caption id="attachment_4026" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_4015" align="aligncenter" width="300"]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar