Sabtu, 29 April 2017

Negara Formosa: Tetangga dan Saudara Kucinta

Negara Formosa: Tetangga dan Saudara Kucinta

Meski sinonim negara tetangga untuk bangsa Indonesia berarti diantaranya meliputi Papua New Guinea, Malaysia, Timor Leste dan atau Singapura, namun bagi saya lebih senang memilih Negara Formosa, yang terbilang jauh terpisah jaraknya dibanding empat negara di atas --yang memang berbatasan langsung dengan wilayah Nusantara-- sebagai negara tetangga yang saya anggap sebagai saudara.

Walau antara Indonesia dan Negara Formosa letaknya tidak tetanggaan --letaknya tidak berdekatan atau sebelah-menyebelah-- namun bagi sebagian warga negara Indonesia (WNI) yang sudah pernah menginjakan kaki di Negara Formosa kesan selanjutnya rata-rata suka, betah, dan tersemat dalam dada. Justru karena sudah ada chemistry, ibarat jauh di mata dekat di hati, Formosa bukan lagi sebagai negara tetangga tapi juga sebagai saudara dan tak kalah dicinta seperti Nusantara.

Negara Formosa adalah sebutan untuk Taiwan. Formosa sendiri artinya indah, cantik, atau bagus dalam bahasa Portugis. Taiwan berada di kawasan Asia Pasifik. Berbatasan dengan Tiongkok, Jepang, dan Filipina dengan panjang pulau besarnya sekitar 394 kilometer dan lebar 144 kilometer.

[caption id="attachment_3942" align="aligncenter" width="212"] Peta Pulau Formosa sumber PPI Taiwan[/caption]

Selama hampir 7 tahun, saya tinggal dan bekerja di Taipei City, ibu kota Taiwan. Kecanggihan teknologi, kemajuan pembangunan, kekayaan alam, kedisiplinan serta gaya hidup dan keanekaragaman kuliner di dalamnya ibarat medan magnet mampu menarik saya. Bukan hanya saya ternyata, tetapi ada sekian ratus ribu WNI lainnya yang juga sama jatuh cinta kepada Taiwan, alias Formosa.

Bagi WNI yang niatnya kerja seperti saya, jelas sistem pengupahan yang dijamin oleh Undang-undang menjadi daya tarik tersendiri. Meski Singapura dan Hong Kong --yang pernah saya datangi sebelumnya-- juga menerapkan sistem pengupahan tenaga kerja asing yang tidak kalah serius, namun besaran upah di dua negara itu tetap kalah besar di banding di Taiwan.

Portal berita online Focustaiwan.tw memberitakan jika Presiden Taiwan mengucapkan terimakasih kepada TKI melalui artikel “Presiden Thanks Indonesian Workers for Contributions to Taiwan”.

President Tsai Ing-wen, memberikan apresiasinya untuk TKI di Taiwan atas kontribusinya dalam pembangunan ekonomi di Taiwan. Lebih lanjut Ibu Presiden menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menjadi sumber tenaga kerja asing terbesar di Taiwan.

Dalam interview yang dilaksanakan di Kantor Kepresidenan, Presiden Tsai memuji anak muda Indonesia yang bekerja di Taiwan sebagai pekerja keras, beliau juga mengatakan bahwa TKI telah memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi di Taiwan.

Mengutip statistik dari Kementerian Tenaga Kerja Taiwan, disebutkan pada Maret 2017 ini terdapat 251.103 TKI yang tersebar di seluruh Taiwan.

Bagi para pelajar atau mahasiswa, Taiwan juga menjadi rujukan untuk melanjutkan sekolah dan pendidikan. Bukan sebatas beasiswa dari dalam negeri, tetapi juga beasiswa dari universitas di Taiwan --yang sangat banyak itu-- kepada lulusan-lulusan terbaik atau pelamar dari Indonesia.

Siapa tidak mau sekolah di universitas ternama, dibayar dan difasilitasi pula. Memang sih ada syarat tertentu untuk bisa mendapatkannya, tapi jika sungguh-sungguh pasti mahasiswa Indonesia juga bisa mendapatkannya. Dan terbukti segitu banyak mahasiswa/pengajar universitas atau institut ternama di tanah air bisa melanjutkan studinya di Taiwan.

[caption id="attachment_3943" align="aligncenter" width="492"] Mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di taiwan sumber PPI taiwan[/caption]

 

 

Selain dengan Indonesia, Taiwan juga menjaga hubungan baik dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura. Ada sekitar 16.051 siswa Malaysia saat ini belajar di Taiwan, jumlah terbesar dari satu negara Asia Tenggara. Adapun pelajar atau mahasiswa Indonesia di Taiwan berjumlah sekitar 5.074 orang.

Satu lagi, yang membuat Formosa atau Taiwan semakin erat hubungannya dengan Indonesia adalah adanya ikatan perkawinan. Dulu, ada istilah sistem kawin kontrak. Dimana lelaki asli Taiwan mencari perempuan untuk dinikahi berasal dari Indonesia. Tetapi istilah itu semakin pudar. Tidak hanya sebatas kontrak, tetapi sudah banyak yang menikah karena memang jodoh, atau saling mencintai secara alami. Dengan adanya perkawinan, hubungan persaudaraan dan kekeluargaan antara dua negara pun menjadi makin erat dan tidak bisa dipisahkan.

Saya sendiri meski sudah enam tahun pulang dari Taiwan, namun komunikasi dengan majikan dan keluarganya masih berlangsung cukup baik. Tidak hanya sebatas melalui media sosial, namun juga pertemuan dan silaturahmi. Majikan sering mengundang saya dan keluarga untuk datang ke Taiwan. Namun dengan berbagai cara halus saya tolak. Akhirnya majikan beserta keluarga yang mengalah, mereka yang datang berlibur ke Indonesia pada saat libur panjang dan mengajak bertemu untuk liburan bersama.

Betapa beruntungnya saya, karena saya yakin tidak semua majikan bisa mempertahankan hubungan dengan pekerjanya setelah habis masa kontrak kerja. Tapi majikan saya dan keluarganya memang lain. Saat saya pulang dari Taiwan, tiba-tiba dari sebuah stasiun televisi swasta yang terkenal dengan slogan kemanusiaan nya menghubungi menawarkan lowongan kerja untuk saya. Selidik punya selidik orang tuanya majikan, A Ma (Nenek) yang aktif di Yayasan Budha merekomendasikan saya supaya bisa bekerja. Mereka takut saya pulang dari Taiwan menganggur dan dan tidak punya penghasilan.

Itu hanya sebagian kecil yang bisa saya kisahkan betapa Formosa tidak akan terpisah dari warga negara Indonesia. Bukan hanya karena lokasi tetanggaan, tetapi juga karena ada cinta dan kasih diantaranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar