2016 Mengalami Banyak Masalah? Penyebabnya Bukan Kurang Piknik Tapi Kurang Silaturahmi
Menengok perjalanan yang sudah dilewati, banyak jejak yang tertinggal menyisakan kekecewaan. Tahun demi tahun tanpa disadari telah banyak kebiasaan baik yang biasa saya lakukan justru perlahan saya tinggalkan.
Jika sebelumnya saya merasa kurang piknik, maka sesungguhnya bukan itu yang saya butuhkan. Toh meski pelesiran berkali-kali tetap saja hati merasa sumpek. Hampir tiap liburan ke luar kota, beban dan galau masih saja membebani dan bikin gondok di dada.
Sakit yang tidak berkesudahan, masalah yang tidak ada habisnya, hingga kondisi keluarga dengan segala macam tetek bengeknya, selalu menimpa bertubi-tubi dan datang silih berganti. Jelas untuk semua itu bukan cuma sekadar piknik obatnya. Sesungguhnya, saya kurang ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia. Ya, saya kurang silaturahmi. Astagfirullahaladziim...
Sejak kecil sudah diajarkan jika selain ibadah wajib, masih banyak ibadah yang mendapat tempat istimewa di mata Allah SWT. Salah satunya dalam Islam menyuruh umatnya memperbanyak silaturrahmi dengan siapapun dan dimanapun. Dan saya baru sadar sesadar-sadarnya jika beberapa tahun terakhir ini, saya sangat jarang sekali bersilaturahmi. Boro-boro menjenguk sesepuh kaum kerabat dari orang tua, menjenguk ibu sendiri saja yang masih ada dan letaknya cukup dekat hanya beda wilayah kecamatan saja saya tidak pernah. Saya atang jika ada kebutuhannya saja, seperti menitipkan anak atau mengambil sesuatu dari rumah.
Padahal, sebelumnya saya terbilang rajin menyambangi sanak famili, teman dan sahabat-sahabat sampai dari pihak almarhum bapak di luar kota. Begitu juga ke makam bapak dan keluarga besar terdekat. Baik yang dekat maupun yang jauh paling tidak setahun satu kali saya datangi. Tapi dua tahun terakhir ini ya Allah saya akui saya sama sekali tidak melakukannya lagi. Bahkan saat satu-satunya sesepuh sekaligus guru mengaji almarhum bapak, juga guru mengaji saya masa kecil dulu, saya tahu kabar meninggalnya setelah satu bulan lebih lewat. Kemana dan ngapain saja saya selama ini?
Saat ini saya baru merasakan sakit dan merasakan penyesalan. Saya harus keluar dari dunia tidak gaul ini. Dunia yang hanya mengurung saya dalam tempurung kampung. Dunia yang sebenarnya bukan gue banget. Karena saya terlahir dan besar bukan dari dunia seperti itu. Ya, saya harus segera keluar karena kalau tidak, bukan saya saja yang akan semakin terkurung, tetapi karakter anak saya juga. Saya tidaka ingin apa yang saya alami atas kebodohan ini dialami juga oleh Fahmi. Naudzubillah...
Silaturahmi ibadah yang sangat mulia, mudah dan membawa berkah. Para ulama menyarankan supaya kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Karena itu merupakan ibadah yang paling indah berhubungan dengan manusia, sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakannya.
Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat saya untuk bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta serta interaksi sosial antar umat manusia. Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang. Lalu kenapa selama ini saya malah menyampakannya? Kenapa? Padahal orang tua, guru dan siapapun tidak pernah mendidik saya untuk melupakan silaturahmi.
Apalagi umat Islam telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjaga hubungan silaturahmi (Q.S. An-Nisaa: 1). Sebagai umat Islam, perintah Allah Shubhanallaahu wa Ta'la harus dipatuhi pastinya.
Betapa pentingnya silaturahmi hingga melahirkan beberapa manfaat seperti: mendapat ridho dari Allah; membuat orang yang kita dikunjungi bahagia. Sabda Rasulullah, "Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia; menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi; disenangi oleh sesama; membuat iblis dan setan marah; menambah banyak dan berkah rejeki; membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik; memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan; menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikan bersilaturahmi akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.
Al-Quran menggambarkan bahwa silaturahmi merupakan salahsatu bentuk pelaksanaan ibadah seorang hamba kepada Rabb-nya. Dan hadis melukiskan bahwa orang yang senantiasa silaturahmi akan dipanjangkan umurnya serta diperluas rizkinya. Sungguh sangat menyesal selama bertahun-tahun ini saya malah meninggalkannya. Padahal saya sering mendengar dari para ulama yang menjelaskan bahwa orang yang memutuskan hubungan silaturahmi tidak akan masuk surga, amalnya tidak akan diterima, serta masih banyak ancaman yang lainnya.
Lalu bagaimana saya bisa mengharap berkah dan kebaikan di dunia dan akhirat jika silaturahmi saja sekarang ini saya tidak pernah? Ya Allah saya mohon beri kekuatan serta kesadaran kembali supaya saya bisa menyambung lagi tali silaturahmi yang selama ini sempat putus karena kelalaian saya. Mudah-mudahan kita bisa mengimplementasikan arti dan makna silaturahmi dalam kehidupan sehari-hari. Berharap juga bisa menyebarluaskannya kepada siapapun karena dengan silaturahmi akan membawa kebaikan bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat. Semoga kita termasuk orang yang pandai menjaga silaturahmi. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar