Anak tetangga gendut, sementara anak sendiri kurus. Padahal makannya sama-sama nasi, bahkan untuk jajanan saja, anak sendiri bisa dibilang lebih banyak dan cukup nutrisi. Hem, emaknya mulai lelah nih, apanya yang salah ya dalam membesarkan anak? Munncul deh perbandingan lain...
Pernah merasakan situasi seperti prolog di atas? Saya pernah, bahkan sering. Secara sejak lahir, Fahmi putra kami terbilang "kecil". Lahir saja beratnya hanya 2,3kg. Usia setahun, Fahmi belum bisa jalan seperti lumrahnya anak yang lain. Fahmi baru bisa berdiri pada usia 20 bulan. Bagaimana tidak sedih dan baper coba, sementara Fahmi masih tiarap di lantai, eh ada anak usia jauh di bawah Fahmi, tiba-tiba dia udah jalan di gang depan rumah.
Saya merasa khawatir --tentu saja. Siapa sih yang tidak tenang kalau anak pertumbuhannya bisa dibilang lambat atau beda dari usia anak pada umumnya? Namun saya tetap tenang meski saya dan suami tidak pernah membawa masalah ini (konsultasi) ke dokter.Jawaban ada yang biki hati tenang, ada juga yang buat pikiran makin tambah muter, kaya gasing jadi bikin pusing. Tapi saya tidak berlarut-larut. Toh dipikirin juga tidak akan menyelesaikan masalah. Tindakan nyata aja, itu baru bisa menimbulkan hasil. Sambil tetap mengasuh Fahmi, saya tetap beri makanan, minuman serta cemilan yang sehat dan penuh gizi. Berdoa tentu saja tidak pernah jeda. Bukankah segala hanya bertumpu kepada Nya?
Fahmi memang tidak segemuk anak-anak tetangga, tapi saya teramat bersyukur karena Fahmi sehat dan belum pernah sakit berkepanjangan. Gemuk bukan identik dengan sehat, karena saya pernah jumpa anak yang gemukPenentuan indikasi anak sehat bukan dilihat dari besar kecilnya timbangan berat bedan anak. Tapi kalau asupan yang dikonsumsi anak penuh nutrisi dan gizi, itu sudah tidak meragukan si anak bakal tumbuh sehat. Ciri anak sehat yang paling mudah ialah dengan melihat pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan anak lain dengan usia yang sama.
Lalu kenapa Fahmi tidak tumbuh seperti perkebangan anak pada umumnya? Saya pikir mungkin nutrisi serta gizi yang seharusnya dikonsumsi masih terbilang kurang. Saya sadari itu sepenuhnya. Fahmi memang tidak minum ASIMenyadari itu saya fokus pada makanan serta nutrisi yang bergizi demi buah hati. Tidak mudah memang terlihat hasilnya karena untuk tumbuh sehat itu tidak bisa instant. Tidak terlalu memproteksi anak, hanya saya lebih menjaga kualitas waktunya. Kapan waktu makan, ngemil buah, minum susu, hingga saatnya tidur siang. Semua saya usahakan rutin dan konsisten.
Hasilnya? Fahmi tetap tidak gendut. Yaaa, sia-sia dong usahanya?
Eits! Tentu tidak. Sekali lagi gendut bukanlah sebuah takaran yang pasti untuk menentukan kategori anak apakah sehat atau tidak. Karena meski Fahmi tidak montok, dia mempunyai ciri-ciri lain yang menandakan kesehatannya terjaga dengan baik. Apa saja cirinya?
Bibir Fahmi segar, tidak pucat atau pecah-pecah. Begitu juga lidahnya tak berlendir dan tidak ada endapan berwarna putih di permukaan lidahnya. Mata Fahmi tampak bening, cerah dan bersih. Gigi Fahmi yang tumbuh lebih dahulu dibanding bisa berjalan tetap berjejer meski sebagian terkena erosi akibat malas sikat gigi. Demikian juga rambut Fahmi ddiupayakan selalu bersih. Jika saat gondrong kami keramasi pagi dan sore, kini setelah dipotong yang ikalnya, rambut Fahmi lebih lurus dan tampak sehat.
Tidak hanya mengandalkan dari sesuatu yang bisa dilihat oleh mata, pantau juga aktivitas anak secara berkala. Anak sehat pasti riang, berceloteh, aktif dan gembira. Bisa dibilang anak sehat pasti suka bermain dan bersosialisasi, disamping nafsu makannya yang stabil baik.
Tidak bisa terbantahkan jika nutrisi jadi salah satu point penting yang perlu dipantau supaya anak tumbuh sehat. Terpenuhinya nutrisi yang tepat dan lengkap, percayalah anak akan semakin berpeluang tumbuh sehat. Karena begitu pentingnya asupan gizi untuk pertumbuhan anak maka selama rentang waktu anak berusia dibawah lima tahun (Balita) harus tercukupi kebutuhan gizinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar