Rabu, 26 Februari 2025

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

Btw, bikin tulisan khusus berkaitan dengan satu dekade ke belakang mengenai dunia ngeblog ini kok bikin mata saya brebes mili ya... Seperti ada manis-manisnya, tapi banyak juga sepet-sepet mengandung bawang nya.

Padahal saya ikut jadi saksi sejarah waktu hari blogger Nasional ditetapkan sejak tahun 2007. Ketika Menteri Komunikasi dan Informatika RI saat itu, Muhammad Nuh, menetapkan Hari Blogger Nasional berbarengan dengan Pesta Blogger pada tanggal 27 Oktober.

Sekian lama itu sedikit pun tak kepikiran bagaimana naik turunnya saya menjalani dunia blogging. Jadi kemana saja saya selama 18 tahun ini ya? Kenapa pas diingatkan untuk napak tilas selama sepuluh tahun ke belakang ini kok baru terasa suka dukanya?

Saya dan Blog

Hampir dua dasawarsa terlewati, tepatnya delapan belas tahun lalu kali ya... Pada saat itu dunia kepenulisan melalui blog atau web blog sedang marak-maraknya. Para penulis blog yang disebut sebagai blogger ramai-ramai mengunggah tulisan di web blog.

Berbagai peristiwa dan cerita dibagikan oleh para blogger di web blog personal ataupun keroyokan tanpa harus melewati proses redaksional seperti lazimnya menulis di media arus utama (mainstream).

Saat itu saya sendiri masih merantau kerja di Taiwan. Boro-boro punya blog, kenal pun tidak. Haha … Saya baru mengenal internet saja sekitar setahun kemudian, dan baru mulai ikut menulis di blog tahun berikutnya lagi alias tahun 2009 an.

Blog yang saya tahu awalnya dimiliki oleh blogger.com milik PyraLab yang kemudian diakuisisi oleh Google pada tahun 2002.

Blogger sebagai layanan penerbitan blog saat itu menerima blog multi-pengguna. Blog-blog tersebut diselenggarakan oleh Google dan umumnya diakses dari subdomain “blogspot.com”.

Tapi saya justru belajar ngeblog malah di Multiply lalu merambah ke Kompasiana sekitar tahun 2008.

Bisa dibilang saya lahir dan besar dalam dunia blogging ya dari dua platform blog gratisan tersebut. Beneran belajar secara otodidak karena saat itu belum banyak komunitas blogger yang bisa jadi tempat untuk belajar dan tumbuh.

Seiring berjalannya waktu, internet semakin meluas dan dikenal masyarakat, blog pun menjadi populer dan banyak dicari oleh masyarakat Indonesia karena dengan memiliki blog saat itu terlihat keren, kekinian, dapat terkenal hanya dengan hobi menulis di blog, pun melalui blog si empunya bisa mendapatkan penghasilan alias uang.

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

Awal mula blog muncul banyak sekali orang yang menggunakan platform gratisan untuk berbagi informasi pribadi. Namun, sekarang blog sudah jauh lebih dikembangkan dengan banyaknya artikel yang beragam jenisnya termasuk artikel pesanan dimana isinya menyampaikan informasi yang sudah ditargetkan. Gaya penyampaian pun beragam ya, ada yang hard selling maupun soft selling.

Ngeblog dari Hobi jadi Profesi

Pasca tergusurnya rumah maya saya di Multiply, salah satu admin group di sana menawarkan domain yang menggiurkan. Saya pun tertarik dan akhirnya bertransmigrasi dari blog gratisan ke top level domain alias domain berbayar dengan akhiran dotcom.

Seiring perkembangan zaman, adanya momen spesial hari blogger nasional secara tidak langsung sudah ditekankan sebagai pengingat masyarakat untuk memanfaatkan media blog dan eksistensi keberadaan nya.

Blog tak hanya sekadar tempat untuk menghasilkan karya tulis, tapi blog juga bisa menjadi lahan mencari penghasilan tambahan. Mau tidak mau saya juga harus mengimbanginya karena kalau tidak, saya bisa jalan di tempat atau bahkan tertinggal.

Secara selanjutnya, banyak klien yang mulai menjadikan kepemilikan blog berdomain TLD menjadi syarat untuk mengikuti campaign nya. Itu juga yang memicu saya untuk segera memilikinya hingga lahirlah blog tehokti.com ini pada tahun 2013.

Sebagai blogger kampung alias blogger daerah, jauh dari lingkungan ibu kota maupun Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) tidak mudah bertahan untuk tetap bisa konsisten supaya bisa update blog.

Bisa dibilang blogger daerah mah sepi job. Tidak seperti blogger Jabodetabek yang sering berkesempatan mengikuti acara secara berbagai kegiatan kan pusatnya di sana. Baik daring maupun luring.

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

Tumbuh Bersama Komunitas Blogger

Semakin berkembangnya teknologi internet dan meningkatnya kemudahan akses menyebabkan bermunculan blogger dan komunitasnya di Indonesia.

Beragam komunitas blogger kedaerahan yang saya ketahui seperti Komunitas Blogger Bekasi, Komunitas Blogger Angin Mamiri (Makassar), Wong Kito (Palembang) dan Cah Andong (Yogyakarta) hingga komunitas Gandjel Rel yang markasnya berada di Semarang.

Semakin pesat kecanggihan teknologi, terus berkembangnya sumber daya dan informasi maka lahir pulalah komunitas blogger yang mampu menjangkau siapa saja dari berbagai penjuru tanah air, seperti Komunitas Emak-emak Blogger (KEB), komunitasnya para blogger perempuan Indonesia.

Masing-masing komunitas blogger pun membuat kegiatan produktif, tidak hanya berkutat seputar menulis artikel di blog. Seperti yang dilakukan Komunitas Blogger Bekasi (BeBlog) sekitar tahun 2010/2011 mengadakan “Amprokan Blogger”, atau pemilihan Srikandi Blogger Indonesia yang pernah diselenggarakan KEB. Dan masih banyak lagi acara komunitas blog lainnya yang bisa saya ikuti baik sebagai agenda bulanan, progam kerja komunitas, maupun peringatan hari jadi.

Saya masih ingat, beberapa tahun selanjutnya dunia tulis menulis lewat blog tidak semarak seperti tahun 2007-an. Banyak blogger yang pensiun dan sebagian lagi bertransformasi ke media sosial sebagai influencer dan selebgram. Kalau pun menulis, lebih bersifat menulis pendek-pendek lewat micro blogging.

Hal itu ternyata berdampak juga kepada saya, meskipun ketahuannya sekarang -sekarang ini setelah melihat bagaimana performa blog saya dari tahun ke tahun.

Meski sudah punya domain ini sejak tahun 2013 tapi jujur dalam mengisinya beberapa tahun selanjutnya itu, masih terlihat galau, asal-asalan dan sama sekali tidak menerapkan ilmu SEO.

Kadang jadi malu sendiri pas membaca artikel yang berbau curhatnya sangat menyengat. Wkwkwk...

Gara-gara komunitas blogger Gandjel Rel ngajak menengok ke masa ngeblog sepuluh tahun silam tepatnya tahun 2015 hingga sekarang, saya jadi ngecek blog sendiri dan ketahuan kalau tahun 2015 itu kondisi blog saya masih dalam mode classic.

Satu Dekade Seribu Artikel Gado-gado

2015 jadi Blogger Galau

Ngintip artikel blog saya yang tayang di tahun 2015 ternyata bisa dihitung dengan jari, itu pun isinya acakadut. Sebenarnya hampir setiap hari menulis, tapi karena berbau curhat dan pribadi gitu akhirnya banyak yang diprivatisasi.

Beberapa tulisan syarat informasi (berdasarkan nara sumber dan atau press release) ternyata banyak yang saya publikasikan justru di Kompasiana. Gak heran dong ya, kalau di sana saya juga pernah jaya, pada masanya. Hehe, nyombong dikit gak dosa kan ya?

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

2016 Blog jadi Arsip Aktivitas

Tahun ini saya mulai menjadikan blog sebagai penyimpanan kronologi dan data aktivitas. Empat tahun pasca kepulangan saya ke tanah air memang masih diisi dengan kegiatan utama bergelut di dunia aktivis buruh migran bersama paralegal lainnya.

Mungkin karena itu di blog saya pada tahun ini kebanyakan tulisannya bertemakan buruh migran, dunia ketenagakerjaan, BNP2TKI (kemudian jadi BP2MI dan terbaru telah bertransformasi menjadi Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia/KP2MI) serta pengalaman-pengalaman seputar dunia ketenagakerjaan lainnya.

“Kerjasama” dengan badan setingkat kementerian RI ini sebenarnya bukan yang pertama karena pada tahun 2014 saya sudah ikut program Indonesia Bergegas: Sepuluh Ribu Halaman nya BNN (Badan Narkotika Nasional) bersama teman-teman blogger juga Kompasianer.

2017 Ketularan Virus Cari Cuan

Kaku setelah sekian waktu menulis mengikuti aturan yang telah ditentukan berdasarkan rilis atau statement klien, serasa mendapatkan angin sorga (Halah... yang bagaimana itu angin sorga?) ketika tidak sengaja gabung dengan komunitas blogger dan di sana banyak diselenggarakan quiz atau challenge sebagai penyemangat supaya membernya bisa terus update blog dan berkarya.

Saat ada giveaway dengan tema challenge yang saya kuasai, segera saya berpartisipasi dan Alhamdulillah beberapa diantaranya nyangkut berhasil meraih hadiah berupa sepatu, jaket parka, dan jilbab atau pashmina dan lain sebagainya. Senangnya bukan main, dong!

2018 Masa Blog Naik Rollercoaster

Ini tahun dimana saya mengalami jatuh bangun dari blogger recehan menuju blogger jutaan. (Haish... istilahnya gak kuat rek!)

Gimana gak melongo, coba? Tiba-tiba program pemerintah selesai dan kerjasama dihentikan.

Terbiasa menulis karena ada bahan, eh tiba-tiba ide mampet karena tidak ada rangsangan. Beruntung saya ikut sebuah komunitas blogger dimana salah satu program nya ada odob (one day one blog).

Disini peserta dipancing untuk membuat artikel dengan tema yang dipilih. Manfaat nya terasa banget, blog jadi hidup dan daya pikir menulis terus terasah. Meski pada kenyataannya odob ini bergeser jadi tridop alias tiga hari sekali setor artikel blognya karena masih tidak kuat konsisten untuk update satu hari satu artikel.

Sayangnya pas tema habis, kebuntuan menulis saya pun datang kembali. Kondisi ini ternyata bukan hanya dialami oleh saya sendiri. Karena pada masa itu banyak yang menyerukan juga kalau dunia blog memang lagi sepi.

Katanya, redupnya pamor blog dan tidak diperingatinya lagi Hari Blogger Nasional seolah membenarkan pandangan Roy Suryo yang saat itu dikenal sebagai pakar telematika. RS kan pernah mengatakan kalau “blog merupakan tren sesaat”.

Saat itu memang sedikit sekali blogger yang masih menulis di blognya atau blog komunitas seperti Kompasiana yang saat itu menjadi satu-satunya platform blog komunitas yang aktif.

2019 Tuntutan jadi Blogger Multitalenta

Meningkatnya perkembangan internet di Indonesia seiring dengan penambahan infrastruktur dalam teknologi membuat para pelaku bisnis memiliki keleluasaan dalam memilih suatu media dan format apa yang akan digunakan dalam penyampaian pesan terbaik kepada para konsumennya.

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

Senang banget saat gabung di organisasi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Cianjur, saya berkesempatan ikut acara-acara Kominfo dan salah satunya belajar tentang Flash Blogging.

Salah satu format yang saat itu jadi favorit para pemilik merek sendiri adalah endorsement via content creator.

Katanya hal itu dinilai lebih efektif sebab dapat menjangkau lebih banyak orang dengan kesamaan minat dengan target audiens yang sesuai dengan yang mereka kehendaki.

Ada banyak brand yang tertarik untuk menggunakan jasa content creator untuk melakukan promosi, secara tidak langsung menggiring blogger untuk lebih bisa menguasai dalam hal menciptakan konten menarik tentang produk yang akan diiklankan.

Saya pun mau tidak mau harus mau belajar main sosial media, belajar cara melihat analitik dan setor insight yang diminta klien.

Apalagi semakin ke sini, semakin terbuka. Untuk menjadi content creator tidak harus public figure atau selebritis yang sudah terkenal. Cukup memiliki keterampilan dan kreativitas dalam menciptakan sebuah konten saja, sudah bisa menjadi seorang content creator. Asal viral, pasti terkenal.

Blogger malah dinilai lebih bisa menguasai peluang menjadi content creator yang tugasnya membuat konten baik berupa tulisan, gambar ataupun video yang akan ditampilkan pada berbagai media populer di YouTube, Facebook, Instagram, Tiktok atau Twitter (sekarang X).

Karena konten kekinian itu tidak hanya terbatas pada artikel dan gambar saja, tapi juga dalam bentuk tutorial, vloging, podcasting dan lain sebagainya.

Seorang content creator memang dituntut untuk multitasking dalam berbagai hal, mulai dari soft skill hingga hard skill, memiliki kemampuan menulis bahasa iklan yang menarik, juga dapat berkolaborasi.

See, berbahagialah bagi seorang blogger karena blogger sudah memiliki semua ilmu dasar yang dibutuhkan tersebut.

Hasilnya? Alhamdulillah saya jadi juara satu lomba blog dotcomforme dengan hadiah tablet. Lalu menjuarai lomba review gadget dan mendapatkan hadiah ponsel pintar android Asus Zenfone Max Pro M1, dan masih ada lagi juara dua Lomba Blog ASUS ZenBook World’s Smallest 13,14,15” dengan hadiah laptop.

Berasa mimpi menjadi juara dua dalam lomba Lomba Blog ASUS ZenBook World’s Smallest 13,14,15” dan mendapatkan hadiah laptop Asus Vivobook A407 secara sekian banyak lomba blog Asus yang saya ikuti sejak tahun 2015, tak pernah sekalipun nyerempet jadi finalis, apalagi keluar jadi pemenang.

Pun meski sudah menggunakan produk Asus X Series sejak saya masih nguli di Taiwan dari tahun 2009 hingga sekarang, tak pernah sekalipun berkesempatan ikut acara peluncuran produk Asus seperti teman-teman BLUS (Komunitas Blogger ASUS).

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger
AsusX Series yang saya beli di Taiwan tahun 2009

Jadi pas keluar sebagai pemenang juara dua lomba blog yang diselenggarakan Asus itu rasanya seperti mimpi.

Padahal dukungan ASUS terhadap perjalanan ngeblog saya maupun komunitas blogger di Indonesia dengan mengadakan berbagai event online maupun offline sejak tahun 2015 itu sangat berarti dan memberikan banyak manfaat. Itulah, kekuatan rezeki yang memang tidak akan tertukar ya...

2020 Tahun Kebangkrutan Blogger?

Pandemi melanda, dunia jungkir balik. Begitu juga dunia ngeblog.

Banyak blogger yang domisili di ibukota dan sekitarnya memilih pulang kampung ke daerah masing-masing. Semua kegiatan blogger terhenti karena tidak bisa kumpul-kumpul sebagaimana biasa. Hal itu berdampak pada penghasilan setiap blogger. Belum tidak sedikit blogger yang juga meninggal dunia karena covid-19.

Tapi meskipun kegiatan serba dibatasi, ide konten dan update menulis saya di blog tetap berjalan karena pada dasarnya menulis memang passion saya. Meskipun ada PSBB (Pembatasan sosial berskala besar) saya tetap bisa mencari referensi dan silaturahmi dengan konten kreator lain melalui komunitas dengan perantara komunikasi melalui internet.

Yang menjadi kendala untuk saya pribadi dalam menjalankan peran blogger sekaligus content creator adalah semakin ke sini semakin banyak permintaan klien yang tidak bisa saya penuhi. Seperti adanya batasan follower sosial media dan batasan usia saat mengikuti sebuah campaign.

Haha, sebagai ibu rumah tangga dengan usia mendekati masa quinquagenarian (kepala lima), tentu saja tidak bisa menolak tua, alias susah buat memanipulasi umur hanya untuk ikutan sebuah campaign.

Tapi ya diambil sisi positifnya saja, mungkin job tersebut memang buat generasi muda dan saya yang sudah kadaluwarsa saatnya beristirahat.

Toh kalau sudah rezekinya tidak akan kemana. Selama kualitas blog, tulisan, dan konten tetap dipertahankan, masih ada yang mau mengajak bekerja sama, kok.

2021 Ada atau Tiada Cuan Ngeblog Tetap Jalan

Meski di tahun new normal ini sepi job, saya tetap memantapkan diri menjadi blogger berkualitas. Toh sekalinya dapat penawaran hasilnya tuh lebih dari kata sepadan.

Rezeki itu tidak hanya berupa uang, tapi bisa kesempatan, kesehatan, jejaring, networking, pengalaman baru hingga bertambahnya ilmu.

Bergabung dengan komunitas jadi memiliki banyak kategori yang bisa diikuti. Dan itu memperkaya diri untuk nambah ilmu serta wawasan.

Seperti berkat gabung di blogger kesehatan, saya bisa dapat ilmu dan wawasan mengenai bahayanya kental manis (padahal dulu kan banyak yang salah kaprah karena menganggapnya sebagai minuman susu).

Termasuk informasi tentang penyakit lepra atau kusta dan stigma di masyarakat bisa saya pahami dengan baik karena informasi yang didapatkan langsung dari spesialis dan ahlinya.

Berjejaring dengan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) menjadikan saya berkesempatan ikut acara wisata dan budaya.

Bersama Genpi Cianjur saya terpilih jadi Duta Wisata Cianjur pada program HACI (Hayu Ameng ka Cianjur) dan berkewajiban memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat luas mengenai lokasi pariwisata di Cianjur dan program pemerintah daerah pada masanya.

Naik kelas gabung dengan Genpi Jawa Barat berkesempatan mengeksplorasi berbagai lokasi wisata, tradisi dan budaya lebih jauh lagi secara jangkauan nya kali ini menyeluruh satu provinsi.

Coba, nikmat mana lagi yang didustakan?

2022 Tahun Ditinggal dan Renungan

Dampak dari pandemi, banyak blog yang ditinggal pemilik untuk selamanya. Hal ini jadi renungan tersendiri untuk saya. Nanti bagaimana nasib blog saya?

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

Saya jadi kepikiran kalau meninggal, nanti blognya gimana… Namun teringat nasihat bijak sang guru, “Apapun di dunia ini kalau ajal sudah datang pasti ditinggalkan, kecuali tiga perkara,”

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).

Jangankan blog, utang, atau harta benda, keluarga tercinta pun kalau sudah saatnya pasti ditinggalkan.Walau pake blogspot pun ngga jamin blog selamanya ada. Yang penting nulisnya saja yang bermanfaat.

Saya, mungkin akan mati tanpa tanda. Entah besok atau lusa. Tapi tulisan dalam blog mungkin ada jejaknya. Bisa dilihat atau dibaca. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan adalah ketika tulisannya bermanfaat, dan menjadi bagian dari tiga perkara yang disebutkan Rasulullah tadi.

Bisa saja blog saya akan hangus karena tidak ada yang memperpanjang domainnya. Tapi siapapun yang pernah baca tulisannya, yang merasa mendapatkan manfaat darinya, akan jadi teman baik dalam kehidupan baru kelak di alam sana. Insyaallah.

2023 Pembuktian Blogger Tua-tua Keladi

Walau banyak yang bilang saya ini blogger senjakala, tidak masalah. Saya tetap ngeblog sebagai ajang healing dan journaling.

Banyak jalan menuju Roma, banyak cerita yang saya tulis sebagai artikel di blog saya. Mulai dari cerita tumbuh kembang anak, seperti kegiatan homeschoolingnya, pendakian pertama kedua hingga selanjutnya sampai pendakian di gunung api tertinggi di Indonesia, termasuk perjuangannya masuk ke pondok pesantren modern yang jaraknya terpisah beberapa provinsi dari rumah.

Saya juga memiliki branding sebagai blogger Cianjur, karenanya saya mengangkat berbagai artikel terkait Cianjur mulai dari pemerintahan, seni budaya dan tradisi, lokasi wisata, kuliner sampai peringatan penting lainnya.

Secara umum mewakili urang Sunda, saya juga menulis beberapa tradisi Sunda dan istilah yang mulai luntur di masyarakat karena tergerus oleh zaman. Dan ternyata siapa kira jika tulisan semacam itu justru selalu mendapatkan pageview tertinggi secara organik.

Seperti asal usul istilah korsel untuk pasar malam di Sunda, olahan tumis picung, fenomena sieur alias gurem si kutu ayam, dan masih banyak lagi, itu semua grafiknya setiap bulan selalu meningkat.

Nah kan, meskipun sepi job, bahan untuk dijadikan tulisan di blog itu ternyata sangat dan masih banyak...

2024 Terus Belajar Menjadi Blogger

Dalam arti tidak hanya menulis dan published, tapi sedikit demi sedikit saya juga ingin belajar ngoprek tentang daleman blog.

Mulai utak atik dari template, breadcrumbs, widget di dashboard, analitik, sampai mengganti format gambar biar bikin blog perform nya makin moncer.

Bangga dan senang hati, saya ucapkan terima kasih tak terhingga untuk para guru dan teman yang selalu saling bantu di kelas growth organic selama hampir lima bulan lebih.

Berkat ikut kelas pengembangan diri blog tersebut, saya bisa berani mengambil tema parenting yang lebih spesifik ke pendidikan karakter.

Hasilnya, blog saya ini diganjar penghargaan artikel blogparenting terbaik 2024 di Indonesia versi Penerbit Bahan Ajar dan Pendidikan Twinkl yang kedudukan kantor pusatnya di United Kingdom sana.

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

2025 Suport System Blogger Kampung

Untung saya menulis (ngeblog), mau dapat cuan atau tidak, yang pasti hidup saya jadi lebih waras...

Selama satu dasawarsa, sudah ada ribuan artikel yang dihasilkan. Terdiri dari 1300 yang published, 25 artikel yang masih nyangkut di draft, tidak terhitung artikel yang diprivatisasi dan tidak terhingga yang masuk tong sampah alias artikel yang sudah saya hapus.

Perjalanan selama satu dekade menjadi blogger, seperti naik roller coaster antara suka dan duka, tangis dan tertawa.

Tak masalah tinggal di pelosok, tak masalah tidak diundang ke acara gathering tapi karena ada banyak support system yang selalu mendukung, menjadikan saya tetap bisa memperluas networking, nambah ilmu dan pengalaman.

Adalah suami dan anak, keluarga, jaringan internet dan komunitas blogger sebagai support system terbaik saya sehingga saya bisa berada di titik ini.

Sepanjang Dekade Kenangan Menjadi Blogger

Doa Satu Dasawarsa untuk Blogger Indonesia

Sepuluh tahun bukan waktu sebentar. Sepuluh tahun mendatang belum tentu kita masih ada. Jadi mari kita sama-sama meningkatkan kualitas ngeblog ataupun konten sehingga job terus menghampiri dan rezekinya terus bertambah berkah. Aamiin...

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel

Read more ...

Selasa, 11 Februari 2025

Ponsel Dililit Karet Gelang

Beberapa hari lalu, ketika antar anak ikut bimbingan belajar masuk pondok pesantren, saya dan anak terhenyak melihat ponsel sang ustadz dililit karet gelang.

Selama beberapa bulan ini anak saya lebih banyak belajar secara online, bukan so-soan melakukan style parenting modern, tetapi lebih karena domisili kami di pelosok, sementara kelas bimbel ada di kota kabupaten.

Balik lagi ke ponsel yang dililit karet gelang, berarti ponsel ustadz yang dililit karet gelang itu yang selama ini jadi perantara anak saya belajar?

Bahkan saya tahu, yang belajar bimbingan ini ada beberapa orang, baik yang offline maupun online. Karena peserta bimbingan masuk pondok pesantren ini usianya beragam, dan memiliki kegiatan aktivitas anak lainnya. Kalau bimbingan Al Qur'an alias Tajwid, mengajinya kebanyakan online karena dilakukan bada magrib atau bada isya.

Mungkin, saking seringnya dipakai ponselnya ustadz udah kecapean makanya sakit lalu harus dililit? Batin saya...

Sebelumnya saya juga lihat ponsel seorang tetangga di sekitar tempat saya tinggal dililit karet gelang juga. Katanya ponselnya jatuh, kacanya retak, tapi ponsel itu masih berfungsi. Makanya meminimalisir kerusakan lebih parah, ponselnya dililit karet gelang.

Dipikir-pikir jaman sekarang lcd ponsel retak itu kok banyak kejadian ya? Lah semalam baru ngeh kalau ponsel jadul saya juga lcd nya kok ngangkang (apasih?)

Maksudnya, retak sih enggak, cuma kalau dibiarkan pasti copot dan kalau lepas bakalan mati lah ini ponsel. Otomatis dong saya cari karet gelang dan melilit ponsel saya seperti ponsel ustadz dan tetangga itu tadi 🤭😁

Diam-diam kepikiran, akhirnya, saya ngalami juga ponsel dililit karet gelang...

Alamak, semenyedihkan itukah kondisi ponsel saya ini? Tapi biar gak kentara melasnya, biar gak kelihatan segitu menyedihkan nya, baru saja karet gelang saya ganti sama lakban transparan.

Hasilnya lcd ponsel masih nempel tapi gak kelihatan kalau lcd hampir copot dan direkat biar aman 🤪🫣🤭

Itulah kenapa kalau kebetulan melihat ponsel dililit karet gelang (meski di jaman serba modern seperti sekarang ini) jangan kaget dan bertanya-tanya kenapa ada ponsel yang dililit karet gelang, ya...

Ponsel yang dililit karet gelang sering kali digunakan untuk beberapa alasan praktis, bisa saja sebagai :

Parenting modern aktivitas anak

Alasan ponsel dililit karet gelang

Proteksi Tambahan

Karet gelang bisa memberikan lapisan perlindungan tambahan terhadap benturan kecil atau jatuh. Meskipun tidak sekuat casing pelindung yang dibuat khusus, karet gelang bisa membantu mengurangi risiko goresan atau retak pada ponsel.

Grip yang Lebih Baik

Karet gelang dapat meningkatkan grip atau cengkeraman saat memegang ponsel, sehingga lebih sulit untuk tergelincir dari tangan. Ini sangat berguna jika kita sering menggunakan ponsel dalam kondisi yang basah atau berkeringat.

Estetika

Beberapa orang mungkin menggunakan karet gelang sebagai aksesori fashion untuk mempersonalisasi tampilan ponsel mereka. Ini bisa memberikan sentuhan unik atau warna yang sesuai dengan gaya pribadi mereka.

Jangan nyinyir ya, bisa-bisa kualat seperti saya.. ngatain kok ponselnya dililit karet gelang, apa ga ada cara lain supaya tampak lebih keren? Nyatanya saya sendiri justru ngalamin ponsel harus diikat karet. Meski sudah disiasati sekarang direkat nya pakai lakban, jadi gak begitu terlihat.

Fungsionalitas Sederhana

Dalam beberapa kasus, karet gelang bisa digunakan untuk membuat sirkuit sederhana atau sebagai alat improvisasi untuk memperbaiki atau menyambung komponen ponsel yang rusak sementara.

Pengingat atau Aksesori Tambahan

Karet gelang bisa dipakai untuk menempelkan atau menggantungkan item kecil seperti kunci, ID card, atau sebagai pengingat visual untuk tugas-tugas tertentu.

Dan masih banyak alasan lain kenapa orang melilit ponselnya dengan karet gelang yang mungkin belum kita tahu.

Namun, perlu diingat bahwa penggunaan karet gelang juga bila dilakukan tanpa kehati-hatian bisa memiliki kerugian, seperti kemungkinan merusak port atau tombol pada ponsel jika ditempatkan dengan tidak benar, atau meninggalkan bekas pada bodi ponsel setelah waktu yang lama.

Kalau lcd ponsel rusak, aman gak dililit karet gelang?

Kalau LCD ponsel rusak, biasanya tidak perlu dililit dengan karet gelang.

Mengapa? Karena LCD rusak biasanya disebabkan oleh kerusakan fisik seperti retak atau pecah, masalah dengan koneksi internal, atau kerusakan pada komponen elektronik di dalam LCD itu sendiri.

Karet gelang sebenarnya tidak akan memperbaiki atau menyembuhkan kerusakan fisik atau elektronik pada LCD. Malah, bisa jadi justru menambah tekanan yang tidak diperlukan pada layar yang sudah rusak, yang bisa memperburuk situasi.

Jika LCD ponsel rusak, langkah yang lebih bijaksana adalah:

Mengevaluasi kerusakan

Lihat apakah kerusakan hanya pada layar atau juga pada touch screen, atau mungkin masalah dengan koneksi internal.

Mencari bantuan profesional

Bawa ponsel ke pusat servis resmi atau tempat perbaikan yang terpercaya untuk penilaian dan perbaikan yang tepat.

Penggantian

Jika kerusakannya parah, mungkin diperlukan penggantian layar atau bahkan ponsel baru jika biaya perbaikan tidak sebanding dengan nilai ponsel.

Ponsel retak lilit karet gelang

Jadi, untuk kerusakan LCD, karet gelang tuh sebenernya bukan solusinya, ya...

Apakah manteman memiliki ponsel yang senasib seperti ponsel saya, dilindungi dengan cara dililit karet gelang? Mungkin enggak ya karena pasti manteman mah daripada malu pakai ponsel rusak, mendingan beli yang baru sekalian...

Read more ...

Jumat, 07 Februari 2025

Rahasia Tidak Kerja Tapi Bisa Berbagi THR

Enggak kerja tapi kok bisa memberi THR? Amazing...

Ya enggak ngasih THR sebanyak warga kampung juga kali ya. Setidaknya buat orang tua, adik dan keponakan.

Jadi walaupun tidak kerja, gak punya penghasilan tetap, tapi demi bisa ngasih THR buat keluarga, jelang lebaran nanti, masih bisa kita upayakan kok.

Mengumpulkan uang untuk Tunjangan Hari Raya (THR) bisa dilakukan dengan beberapa strategi keuangan yang disiplin dan efektif.

Berikut beberapa cara yang saya lakukan, dan mungkin bisa membantu nambah ide buat teman-teman.

Buat Rencana dan Target

Tentukan berapa banyak uang yang ingin dikumpulkan. Misalkan THR untuk ibu satu juta rupiah. Untuk adik lima ratus ribu. Untuk keponakan dua ratus lima puluh ribuan. Kalau keponakan ada dua berarti lima ratus ribu. Jumlah keseluruhan yang dibutuhkan untuk THR 2 juta rupiah.

Hitung jumlah yang harus disisihkan setiap bulan hingga hari H. Saya sudah mengumpulkan sejak Syawal tahun lalu . Jadi bisa dibilang waktu untuk mengumpulkan sekitar 10 bulan. Berarti untuk mencapai target dua juta sebulan harus menyisihkan sekitar 200 ribu.

Dari mana uang ini didapat dan disisihkan?

Gunakan Tabungan atau Investasi

Jika memiliki tabungan atau hasil investasi, bisa langsung dialokasikan sebagian untuk THR. Kalaupun masih memiliki penghasilan lain ya Alhamdulillah, berarti dana bisa lebih, terserah mau dialokasikan untuk apa.

Yang pasti, uang tabungan atau investasi itu ketika diambil untuk cadangan THR, tidak mengganggu kebutuhan utama.

Gunakan metode “simpan dulu, baru belanja” agar lebih efektif.

Kurangi Pengeluaran yang Tidak Perlu

Hindari belanja impulsif dan utamakan kebutuhan pokok.

Saat belanja sembako cari peluang yang bisa dikurangi pembelian nya. Lalu kumpulkan uang yang seharusnya dibelanjakan itu. Seribu dua ribu kalau rajin bisa sampai lima puluh ribuan sebulan, kan lumayan...

Intinya coba untuk mengurangi makan di luar, langganan yang tidak perlu, atau pengeluaran lain yang bisa dikurangi.

Kurangi belanja tidak perlu

Cari Penghasilan Tambahan

Berdagang atau berjualan

Jualan online maupun jualan offline bisa dilakukan selama masih ada peluang.

Mau berjualan makanan, pakaian, barang bekas, dll semua bisa kita coba.

Bisa juga ambil kesempatan jualan musiman. Seperti menjual kue lebaran, hampers, atau barang lain yang banyak dicari menjelang hari raya.

Dropshipping atau reseller tanpa modal juga bisa dicoba. Apapun bisa dilakukan demi bisa mendapatkan penghasilan selama itu halal dan tidak melanggar hukum.

Kerja Freelancer

Freelance atau pekerjaan sampingan yang dilakukan kalau hasilnya dikumpulkan bisa melebihi penghasilan pekerja tetap.

Bisa lewat job menulis, humas jurnalistik, desain grafis, editing video, atau pekerjaan online lainnya bisa jadi sumber dana tambahan ini.

Platform seperti Fiverr, Upwork, atau freelancer lokal bisa membantu kita untuk mencari pekerjaan singkat.

Ikut program afiliasi atau referral juga cukup menggiurkan lho hasilnya.

Bergabung dengan program afiliasi marketplace seperti di Shopee, Tokopedia, Amazon, Tiktok, dll.

Promosikan link dan dapatkan komisi dari setiap pembelian yang dilakukan orang lain.

Bekerja sebagai freelancer

Sewakan Barang atau Properti

Jika punya sepeda motor atau mobil, bisa disewakan. Tapi pastikan keamanan dan kejujurannya.

Kamera, laptop, atau barang elektronik juga bisa disewakan sementara. Sampai alat mendaki gunung juga bisa banget disewakan lho ya...

Gunakan Celengan atau Rekening Khusus

Pisahkan uang untuk THR yang kita kumpulkan tadi di rekening berbeda atau celengan khusus agar tidak tergoda menggunakannya.

Bisa juga menggunakan fitur tabungan otomatis di bank atau e-wallet.

Manfaatkan Bonus atau THR Dini

Jika mendapatkan bonus atau uang tambahan, kadang kita suka mendapatkan rezeki yang tidak terduga gitu ya, nah jangan langsung dihabiskan. Tapi sisihkan sebagian untuk THR.

Jangan langsung kemaruk menghabiskan seluruh bonus untuk keperluan konsumtif. Tapi coba investasi kecil-kecilan yang cepat likuid seperti beli perhiasan emas, investasi reksa dana pasar uang, dan lain sebagainya.

Kerja keras mengumpulkan uang untuk THR

Dengan beberapa strategi tersebut di atas, mengumpulkan uang untuk THR walaupun bukan pekerja kantoran tetap bisa kita lakukan dan malah terasa lebih ringan dan terencana.

Semakin disiplin, semakin besar nominal rupiah yang bisa dikumpulkan, semakin mudah mencapai target!

Semoga bermanfaat dan mendapatkan THR berlimpah saat lebaran nanti ya...

Read more ...

Selasa, 04 Februari 2025

Rujak Cingur Kenangan dari Mantan Majikan

Waktu masih kerja di Taiwan, bos saya pernah bilang kalau pulang ke Indonesia, segera buka usaha kuliner karena peluang untuk berbisnis sangat terbuka lebar.

Bos saya bekerja sebagai pramugara dan pramugari di maskapai penerbangan China Airline. Dalam sebulan paling sedikit dua sampai tiga kali mereka terbang ke Indonesia. Dan keduanya mengaku paling suka kalau bertugas ke Indonesia karena banyak kuliner yang unik dan khas yang bisa dicicipi.

Dari sana mungkin mereka bisa bilang peluang usaha kuliner Indonesia cukup menjanjikan?

“Kalau kamu bisa berbisnis kuliner di Indonesia, bakalan cepat jadi laopan (juragan) lho!” Katanya berseloroh.

Setiap terbang ke Jakarta, Bali atau Surabaya, mereka terjadwal untuk nginap semalam dan terbang kembali keesokannya. Waktu untuk istirahat itu jarang dipakai untuk tidur, melainkan berkeliling untuk hunting kuliner yang khas dan unik.

Memang ya, negara kita ini memiliki beragam kuliner unik yang berasal dari berbagai daerah. Seperti tempoyak, fermentasi durian yang biasa dikonsumsi dengan nasi atau dijadikan bumbu masakan berasal dari Sumatera.

Ada bubur sagu bertekstur lengket yang biasanya disajikan dengan ikan kuah kuning dari Maluku dan Papua.

Ada kuliner khas Lawar dari Bali, berupa campuran daging cincang, parutan kelapa, dan bumbu rempah khas Bali lainnya (maaf, gak tahu sih halal atau enggak nya).

Ada Sate Klathak dari Yogyakarta. Yang bikin unik dan khas, sate daging kambing ini ditusuk dengan jeruji besi, bukan tusuk sate bambu pada umumnya.

Ada kuliner khas Sulawesi bernama Kidu-kidu. Kuliner berbahan dasar ulat sagu yang kaya protein dan biasanya digoreng atau ditumis.

Beberapa waktu terakhir saya pernah lihat para petualang bagaimana menangkap, memasak dan memakan ulat sagunya itu di tayangan sebuah televisi swasta nasional tanah air.

Masih berasal dari Sulawesi ada kuliner unik yang disebut Paniki (Sulawesi Utara). Bayangkan, kuliner ini adalah masakan berbahan dasar daging kelelawar dengan bumbunya yang begitu pedas!

Dan kuliner yang jadi favorit majikan saya kalau ke Indonesia, salah satunya adalah Rujak Cingur, kuliner khas Surabaya, Jawa Timur.

Majikan saya sangat menyukai salad khas Jawa Timur yang menggunakan irisan hidung sapi (cingur) dengan bumbu petis ini.

Pernah saat terbang ke Surabaya, malam-malam ia telepon saya melalui Skype (ketahuan kan jaman mana itu ya...) hanya untuk memperlihatkan sepiring rujak cingur, kuliner unik dan khas yang berhasil didapatkannya malam itu.

Saat itu saya sendiri malah belum tahu apa itu rujak cingur. Boro-boro memakannya, tahu namanya aja baru saat itu. Haha...

Malam itu depan majikan saya iya iya aja dan menganggap ah, gak aneh, lha kok hidangan itu (mirip) lotek. Salad masak yang juga kuliner khas dari Priangan alias tatar Sunda.

Memang pengetahuan saya soal kuliner tanah air khususnya Jawa Timur kalah jauh dibandingkan majikan. Blogger Surabaya saja sepertinya kalah kalau diajak berdiskusi soal kuliner setempat saking tingginya jam terbang majikan saya ngubek-ngubek Surabaya dan sekitarnya untuk hunting kuliner.

Saya sendiri baru bisa mencicipi rujak cingur sebagai kuliner Surabaya ini baru setahun lalu, setelah 13 tahun berpisah dari majikan di Taiwan! Alamak ...

Bisa mencicipi rujak cingur ini pun tidak sengaja, ketika dalam perjalanan melakukan ziarah ke Makam sunan Ampel Februari 2024 lalu.

Makam Sunan Ampel Surabaya
Antar anak ziarah ke sembilan makam wali di Jawa

Sunan Ampel adalah salah satu dari Wali Songo, para ulama yang berperan dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa pada abad ke-15.

Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat, dan beliau adalah putra Maulana Malik Ibrahim. Sunan Ampel juga dikenal sebagai pendiri Masjid Ampel, Surabaya yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia.

Ketika berjalan di kawasan Kampung Arab, Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, di pinggir jalan ada gerobak bertuliskan Rujak Cingur. Karena cuacanya sangat panas, entah kenapa suami langsung mampir dan memesan satu porsi.

Mencicipi rujak cingur versi jumbo
Mencicipi rujak cingur di Surabaya

Beruntung pesan satu porsi karena ternyata harga dua puluh ribu rupiah itu banyak banget! Suami saja sempat mengaku sudah kenyang bisa-bisa tidak habis makan. Dan meskipun saya juga ikut mencicipi tapi tetap belum habis akhirnya sisanya saya bungkus deh.

Fahmi anak saya tidak makan. Ia bilang geli mendengar cingur dimakan. Soal kuliner ia emang agak pemilih.

Rujak cingur yang dibeli suami ini terdiri dari campuran sayuran seperti kangkung, tauge, dan mentimun, serta buah-buahan seperti mangga muda, bengkuang, dan nanas.

Selain itu, ada juga lontong, tahu, tempe, dan tentu saja irisan cingur sapinya.

Semua bahan itu disiram dengan bumbu petis, yang terbuat dari petis udang, kacang tanah, gula merah, cabai, dan bawang.

Rasa rujak cingur cenderung gurih, manis, asin, dan sedikit pedas, menjadikannya hidangan yang kaya rasa.

Rujak cingur biasanya disantap dengan kerupuk udang dan dinikmati sebagai makanan khas yang kaya akan cita rasa tradisional.

Rujak cingur Surabaya
Pertama kali ketemu rujak cingur khas Surabaya

Malam hari setelah istirahat dalam kendaraan yang menjadi sarana transportasi wisata religi yang saya lakukan saya mengontak majikan melalui Instagram.

Saya kirim foto dan mengaku setelah sekian lama pulang ke tanah air baru berkesempatan bisa merasakan bagaimana rasanya kuliner rujak cingur yang selalu dibanggakan nya dulu.

Majikan tidak langsung membalas. Mungkin sedang sibuk bersama keluarga. Karena menurut informasi yang dikirimnya beberapa tahun lalu, baik majikan laki-laki maupun majikan perempuan, sudah tidak mengambil jam terbang lagi.Mereka memilih bekerja di bagian ground staff yang memberlakukan jam kerja sebagaimana jam kantor pada umumnya, sehingga tidak sering meninggalkan keluarga seperti saat suka terbang seperti dulu.

Baru keesokan harinya majikan membalas pesan saya. Mengatakan begitu takjub dan mengejek, kok bisa saya yang orang Indonesia malah baru bisa mencicipi kuliner seenak itu. Itu pun tidak sengaja.

Haish, bos...bos saya kan bukan bekerja untuk makan seperti kamu lah... Kalau kamu punya uang buat dihamburkan, saya bekerja banting tulang ya supaya bisa punya uang biar bisa makan.

Walaupun saya tahu rujak cingur kuliner khas Surabaya, yang memiliki cita rasa unik menggunakan cingur (hidung sapi) sebagai salah satu bahan utamanya ya bukan berarti setiap punya uang saya harus memakan makanan unik tersebut.

Apalagi pada jamannya belum ada istilah pesan antar makanan.Tidak ada yang jualan rujak cingur di daerah tempat tinggal saya. Kalau harus ke Surabaya mana tahan? Beli beras dan sembako lainnya pasti itu dulu yang saya dahulukan.

Ini pun ke Surabaya kebetulan aja antar anak yang ikut acara untuk mengenal beberapa pondok di sana...

Pasar Raden Rahmat Sunan Ampel Surabaya
Disini akhirnya berjodoh ketemu rujak cingur

Read more ...