Senin, 30 Maret 2026

Blog Hijrah

Hijrah dalam Islam berarti meninggalkan sesuatu menuju yang lebih baik, baik berupa perpindahan fisik maupun perubahan spiritual.

Secara historis, hijrah merujuk pada perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M, sementara secara maknawi hijrah juga berarti meninggalkan dosa dan menuju ketaatan.

Pengertian Hijrah

Secara bahasa: Hijrah berasal dari kata Arab hajara (الهجر) yang berarti meninggalkan atau berpindah.

Secara istilah syariat: Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam, agar seorang Muslim dapat menampakkan dan menjalankan agamanya dengan bebas.

Secara makna luas: Hijrah tidak hanya perpindahan fisik, tetapi juga mencakup perubahan spiritual, akhlak, dan gaya hidup menuju kebaikan.

Makna Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari

Hijrah dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini banyak dipahami sebagai transformasi diri. Peralihan. Seperti:

- Hijrah spiritual: Meninggalkan syirik, dosa, dan maksiat menuju iman, taqwa, dan amal saleh.

- Hijrah akhlak: Berubah dari perilaku buruk (misalnya suka berbohong, iri hati) menuju akhlak mulia dan lebih baik.

- Hijrah sosial: Berpindah dari lingkungan yang merusak menuju komunitas yang mendukung kebaikan.


Blogger hijrah


Bentuk Hijrah Modern

Bentuk hijrah ternyata mengalami perubahan juga, menyesuaikan dengan perkembangan jaman kali ya...

Bentuk hijrah secara fisik lebih menekankan ke perpindahan dari tempat yang menghalangi ibadah ke lingkungan yang lebih islami

Bentuk hijrah secara spiritual ditandai dengan mulai meninggalkan kebiasaan buruk seperti meninggalkan shalat, lalu mulai istiqamah

Bentuk hijrah secara akhlak misalnya dengan mengubah gaya hidup konsumtif menjadi sederhana dan bermanfaat

Ada juga bentuk hijrah dalam dunia digital nih... Yaitu menghindari konten negatif di media sosial, beralih ke konten edukatif dan Islami

Hijrah dari Blog Lama ke Blog Baru

Nah, mungkin saya memiliki kisah hijrah juga nih terkait dengan dunia blog alias rumah kedua saya ini. Mulai dari awal perjalanan hingga nanti saya ingin yang lebih baik juga dong ya.

Setiap tulisan memiliki rumahnya sendiri. Blog lama saya dengan domain sama tehokti.com adalah tempat healing sekaligus mencari cuan. Di sana saya bisa leluasa menata kata, menyalurkan keresahan, dan berbagi cerita. Mulai dari lajang, menikah sampai jadi seorang ibu. Dari saat masih jadi ibu bekerja sampai jadi tulen ibu rumah tangga biasa.

Di sana saya seakan tumbuh, jatuh bangun, dan menemukan suara yang perlahan menjadi ciri khas alias branding. Namun, seiring waktu, saya merasa harus realistis. Bukan ruang di blog lama itu mulai sempit. Tapi ada hal-hal lain yang harus diprioritaskan, termasuk dari segi budget.

Tahu sendiri saat ini dunia blog sedang meredup dan saya hampir kewalahan untuk mengcover semua biaya. Padahal semangat menulis tidak pernah padam. Malahan begitu banyak gaya tulisan dan kisah yang ingin tercurah, tetap ingin ada pembaca yang bisa saya ajak berdialog lebih luas.

Karena itu saya memilih budget yang lebih miring, dengan sedikit perintilannya. Satu lagi, seandainya saya meninggal dunia, dan domain ini tidak diperpanjang, insyaallah domain tld akan kembali ke setingan awal yaitu blog gratisan. Dalam arti tulisan saya tetap ada. Tetap bisa dibaca walaupun bukan dengan nama tehokti.com lagi...

Mengapa Hijrah?

Hijrah bukan berarti saya meninggalkan blog masa lalu, melainkan melanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih jelas.

Blog baru ini buat saya adalah simbol:

- Penyegaran identitas – memberi wajah baru pada tulisan agar lebih relevan dengan pembaca masa kini.

- Ruang ekspresi yang lebih luas – memungkinkan eksplorasi tema-tema baru, dari minimalisme hingga spiritualitas.

- Komitmen untuk berkembang – menandai tekad untuk menulis lebih konsisten, lebih mendalam, dan lebih bermanfaat. Doakan ya...

Tantangan dan Harapan

Tentu ada rasa berat meninggalkan jejak lama di wordpress. Tulisan-tulisan di blog sebelumnya adalah bagian dari perjalanan yang berharga. Namun saya percaya, setiap hijrah membawa harapan.

Harapan akan pembaca baru yang menemukan inspirasi dari tulisan-tulisan segar, harapan akan konsistensi dalam menulis, bukan sekadar hobi, melainkan sebuah panggilan jiwa, hingga insyaallah sampai akhir hayat saya blog ini tetap dirawat dan dijaga.

Harapan akan makna – agar setiap kata yang tertulis menjadi cahaya kecil bagi siapa pun yang membacanya.

Blog baru TehOkti.com di blogspot adalah ruang hijrah saya—tempat saya meninggalkan jejak lama dan menata langkah baru. Di sini, setiap tulisan tetap lahir dari niat untuk bertumbuh, berbagi, dan memberi makna.

Saya percaya kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan jembatan yang menghubungkan hati, pikiran, dan pengalaman beserta dunia luar. Termasuk interaksi dengan sesama blogger baik blogger dalam negeri maupun luar negeri. Termasuk Blogger Banjarmasin.

Semoga blog baru ini bisa tetap hadir untuk menyegarkan identitas dan memperluas cakrawala. Menyuarakan cerita yang inklusif, hangat, dan penuh makna. Terlebih bisa menyalakan semangat agar setiap pembaca menemukan inspirasi dalam keseharian.

Hijrah dari blog lama ke blog baru bukan sekadar perpindahan alamat digital. Ini adalah perjalanan batin, sebuah keputusan untuk terus bertumbuh. Semoga blog baru ini menjadi rumah yang lebih hangat, lebih luas, dan lebih hidup bagi setiap cerita yang lahir dari semua aktivitas saya.



Blogger hijrah


⚠️ Catatan

- Hijrah bukan sekadar tren, melainkan komitmen jangka panjang untuk hidup sesuai syariat.

- Kunci sukses hijrah: Niat ikhlas, istiqamah, mencari lingkungan yang mendukung, serta memperkuat ilmu agama. Karena itu, mohon doanya supaya saya bisa istiqomah dalam membagikan artikel yang bermanfaat. Aamiin.

Read more ...

Kamis, 12 Maret 2026

Lebaran, Kue dan Kenangan

Adakah resep kue atau masakan jadul yang membuat kamu tersentak dengan memori tertentu? Jika menemukan makanan-makanan itu, bagaimana sikapmu? Apakah langsung membeli, terinspirasi membuat sendiri, atau bagaimana?

Lebaran sebentar lagi. Belum ada kue atau penganan apapun yang disiapkan. Mengingat saya sendiri tidak bisa membuatnya. Plus saat jelang lebaran kali ini terasa banget bedanya karena ibu saya sudah tiada.

Biasanya, ada atau tiada uang, jelang lebaran ibu saya selalu nabung supaya bisa bikin kue tradisional yang sederhana. Dan yang pasti disukai anak menantunya. Karena meskipun kue modern dan mewah, tapi kalau tidak disukai anak menantunya, ibu saya pernah bilang untuk apa dibuat kalau tidak dimakan?

Memang sih saya, suami, dan adik saya itu tidak begitu suka dengan kue yang manis. Lebih menyukai camilan yang asin dan gurih. Jadi setelah mengetahui kesukaan anak menantunya itu, biasanya ibu membuat penganan tradisional seperti rengginang, kue kembang goyang, atau kue bawang.

Dan benar saja. Beberapa kali lebaran, saat ibu saya masih sehat, membuat beberapa kilogram kue tradisional itu sendiri. Setelah matang siap makan, dibagikan ke saya, ke adik dan saudara lainnya. Sehingga walaupun saya tidak bisa membuat kue lebaran sendiri, masih ada kue kiriman ibu saya itu. Asli laku keras alias cepat habis.

Kini setelah ibu tiada, asli di meja tidak ada kue sama sekali. Ada adik kirim hantaran, tapi berisi sirup dan kue kaleng. Tidak ada kue tradisional khas lebaran mengingat adik ipar saya juga sibuk kerja, tidak ada waktu untuk membuat kue meskipun dia pandai membuat aneka macam kue seperti ibu dan saudara-saudaranya.

Lebaran, Kue dan Kenangan
Nastar penuh kenangan

Padahal lebaran itu identik dengan berkumpulnya semua anggota keluarga besar disertai aneka makanan, ya. Mulai kue, sampai opor, rendang dan ketupat.

Tidak di kampung tidak di kota, akan ada banyak tersedia kue jadul yang jadi nostalgia saat lebaran seperti nastar, kastengel, putri salju, kue bangkit, lidah kucing, dan lainnya.

Meski banyak varian kue modern bermunculan, kue klasik tetap dicari karena menurut saya sendiri membawa kenangan masa kecil dan kehangatan keluarga.

Kue Lebaran Jadul yang Penuh Nostalgia

1. Nastar

Isinya selai nanas dengan rasa manis-asam yang khas. Identik dengan momen lebaran, karena itu kue ini hampir selalu ada di setiap rumah.

Jika melihat kue nastar saya teringat masa kecil di Bandung, seolah menggali momen review Bandung, nastar itu jadi simbol kehangatan keluarga karena biasanya waktu di Bandung bersama keluarga besar sering membuat kue nastar dalam jumlah cukup banyak.

2. Kastengel

Kue kering berbentuk batang kecil dengan taburan keju ini sangat disukai karena rasanya gurih, berbeda dari kebanyakan kue manis. Jangan heran kalau kastengel jadi favorit tamu yang suka camilan asin.

Lebaran, Kue dan Kenangan
Kastengel banyak disukai tamu

3. Putri Salju

Tidak akan lupa karena sejak kecil sudah mengenali karena keunikannya yang berbentuk bulan sabit, ditaburi gula halus putih seperti salju.

Teksturnya yang lembut dan lumer di mulut sangat disukai anak-anak. Tidak heran kue ini juga membawa nostalgia masa kecil karena tampilannya unik dan sering jadi rebutan bersama sepupu.

Lebaran Kue dan Kenangan
Putri salju

4. Lidah Kucing

Namanya aja lidah kucing tapi jelas jauh berbeda dengan lidah kucing aslinya. Kue tipis panjang dengan tekstur renyah ini punya nama unik saja sehingga membuat anak-anak dulu penasaran.

Kini kue lidah kucing banyak variasi, termasuk dengan campuran gula merah atau cokelat.

Lebaran Kue dan Kenangan

Lebaran, Kue dan Kenangan

Dimana pun berada, termasuk ketika saya berlebaran di luar negeri, jika melihat kue jadul tersebut langsung memunculkan banyak kenangan masa kecil. Termasuk mengingat momen jaman dulu saat belum ada internet dan smartphone, ketika membantu orang tua membuat nastar atau menaburi putri salju.

Kue jadul yang menyimpan banyak kenangan itu jadi simbol kebersamaan. Kue jadul bukan sekadar camilan, tapi bagian dari tradisi keluarga.

Mungkin karena itu kali ya walau banyak bermunculan kue modern, ada brownies kering atau cookies modern, dan makanan enak lainnya, tapi kue klasik ini selalu dicari saat lebaran.

Siapa kira beberapa hari jelang lebaran, ada beberapa orang wali santri anak mengaji di tempat kami datang silaturahmi membawa hantaran.

Banyak sekali yang mereka bawa. Mulai dari beras, nasi beserta lauk pauk menggunakan rantang, aneka macam kue lebaran mulai dari yang manis, asin sampai gurih, sampai keripik dan kue kaleng beserta minumannya.

Alhamdulillah. Rezeki yang tidak disangka datang dari berbagai pintu yang tidak kami duga sebelumnya.

Alhasil walaupun saya tidak bisa membuat kue dan makanan lainnya tapi lebaran kali ini bersyukur sekali sudah bisa mencicipi lebih dari cukup untuk semua itu. Semoga rezeki para wali dan santri mendapatkan ganti yang berlebih melalui tangan Allah SWT. Aamiin.

Read more ...

Sabtu, 07 Maret 2026

Jadi Pemulung Bermartabat di Jerman

Saya punya akun Youtube, tapi jarang main di sana. Apakah terlalu memaksakan diri kalau bilang hanya saya saja yang tidak punya YouTube Channel yang sering dikunjungi?

Tapi bukan berarti saya tidak pernah melihat video-video yang jadi pendorong untuk menjadikannya rekomendasi channel --karena memang isinya bermanfaat dan bisa jadi inspirasi— Saya banyak saved video yang sekiranya bermanfaat dan menginspirasi supaya saat mencari tayangan favorit itu bisa dilakukan segera dengan mudah. Tapi bukan di YouTube.

Akhir-akhir ini saya mainnya sering di tiktok dan sedang merintis, membesarkan akun baru di Instagram pengganti akun-akun yang sudah hangus. Jadi walau tidak punya channel yang direkomendasikan di YouTube, saya punya akun tiktok yang direkomendasikan yang isinya sangat mempengaruhi jalan kehidupan dan pemikiran saya dan juga lingkungan sekitar lainnya.

Saya akan ceritakan satu video saja dari salah satu akun yang saya anggap memiliki keunggulan itu. Apakah ada manfaat langsung yang didapatkan atau tidak setelah menonton video tersebut, itu kembali ke penilaian masing-masing ya…

Adalah akun tiktok Kang Andri yang saat ini sedang tinggal bekerja di Jerman. Mungkin karena basic awalnya saya juga TKW, jadi cerita hidup tentang perantauan WNI di luar negeri itu banyak saya koleksi karena sangat menarik buat saya.

Yang unik dari video Kang Andri ini adalah ketika dia membagikan kisah inspiratif mengenai memulung kaleng bekas di Jerman jadi peluang cuan!

Intinya kalau gak punya uang ga ada makanan, asal mau mulung itu sudah cukup bisa jadi sumber penghasilan!

Jadi ceritanya saat tidak bekerja, dia sengaja keluar rumah untuk memulung kaleng dan botol bekas minuman yang dibuang orang sembarangan. Siapa kira beberapa jam memulung, pulang membawa uang sebesar sekitar 74 ribu rupiah!

Saking niatnya dan memang kegiatan itu dilakukan seringkali sehingga dia juga mempersiapkan tas belanja cukup besar untuk membawa kaleng dan botol bekas minuman nanti yang ditemuinya.

Jadi di Jerman bisa jadi pemulung? Bisa. Dan pemulung di sana bermartabat keren banget. Cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro.

Mata uang resmi Jerman saat ini adalah Euro (€). Digunakan secara resmi di Jerman sejak 1 Januari 2002, menggantikan Deutsche Mark (DEM) dengan kode mata uang EUR.

Satu Euro dibagi menjadi 100 sen euro. Pecahan uang kertas Euro terdiri dari €5, €10, €20, €50, €100, €200, dan €500. Sedangkan uang koinnya terdi dari 1sen, 2sen, 5sen, 10sen, 20sen, 50sen, €1, dan €2. Nilai tukar Euro ke Rupiah berdasarkan data Maret 2026, 1 Euro (EUR) bernilai sekitar Rp19.000 – Rp20.000 (fluktuatif).

Kembali ke laptop video Kang Andri yang sedang mulung, disana digambarkan kalau pertama-tama dia menemukan dua kaleng bekas minuman. Langsung diambil dan masuk tas belanja. Tak lama menemukan lagi beberapa kaleng bekas minuman dan botol air mineral. Keduanya diambil karena sama-sama berharga walaupun nilai besaran harganya tidak sama.

Harga jual kaleng atau botol bekas minuman juga dihitung per buah, bukan per kilogram seperti di negara kita. Jadi walaupun cuma dapat mulung satu dua kaleng atau botol saja itu udah bisa menghasilkan uang.

Tempat penjualan atau penukaran kaleng atau botol bekas minum itu juga sudah canggih karena menggunakan mesin yang tersedia di beberapa minimarket atau swalayan setempat. Bukan semacam tukang pengepul seperti di kampung saya yang sering disebut juragan rongsokan ya… jadi beneran anti korupsi calo dan tidak ada permainan harga.

Tidak ada tawar menawar. Semua harga transparan karena disertai kwitansi dan kwitansi itu bisa jadi uang maksudnya bisa ditukar sebagai alat pembayaran saat berbelanja di minimarket.

Singkat cerita Kang Andri udah mengumpulkan beberapa kaleng dan botol. Lalu ia menuju sebuah minimarket yang menyediakan mesin penampungan kaleng dan botol bekas minuman tadi.

Setiap kaleng dan botol yang ditukar harganya berbeda-beda. Cara menukarkan kaleng atau botolnya kita tekan tombol on pada mesin penukaran. Setelah lampu pendeteksi alias sensor berjalan lalu masukan kaleng atau botol bekas ke tempatnya. Alat sensor akan mencatat dan mengeluarkan berapa harga tukar kaleng atau botol bekas minuman itu.

Satu kaleng ditukar dengan harga sekitar 25 sen. Sementara harga botol air mineral atau semacam ice tea gitu sekitar 15 sen. Sekali mulung pagi itu Kang Andri mengumpulkan sekitar 3 Euro 70 Sen (dalam bentuk kwitansi, bukan uang cash ya). Kalau dirupiahkan sekitar 74 ribu rupiah.

Karena Kang Andri membutuhkan telur untuk lauk makan di tempat tinggalnya, maka ia akan membeli telur di minimarket tersebut. Satu pak telur harganya 2 Euro 40 cen dibayar dengan kwitansi hasil dari penukaran kaleng dan botol bekas minuman tadi. Karena satu pak telur harganya sekitar 2 Euro 40 cen maka ada sisa sekitar 1 Euro 30 cen.

Sisa uang itu diberikan kasir sebagaimana kembalian belanja pada umumnya. Jadi hasil usaha mulung pagi itu Kang Andri pulang membawa satu pak telur dan uang 1 Euro 30 cen.

Sebegitu mudahnya ya mencari uang di Jerman?Saya sudah bilang di atas kalau cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro. Jadi bayangkan sekali mulung kalau saja mendapatkan 2 Euro berarti udah dapat sekitar 40 ribu rupiah. Di Indonesia, harga satu karung penuh botol bekas hanya dihargai sekitar delapan ribu! Wadidaw, jomplang banget kan ya?

Yang bikin seru adalah komentar para netizen. Sampai ngakak saya bacanya karena banyak komen yang absurd dan konyol.

Ada yang ngajak kita mulung aja di Jerman, ada yang membayangkan seandainya sampah di Indonesia bisa jadi uang dengan menghasilkan seperti itu.

Ada juga yang bilang kalau sampah di Indonesia dihargai sebesar itu masyarakat gak bakalan buang sampah sembarangan lagi dan kemungkinan Indonesia bisa bebas sampah sebagaimana di Jerman sana. Bagaimana pendapatmu?

Read more ...

Minggu, 01 Maret 2026

Dilema Mengontrakkan Rumah Masa Kecil

Sebelum memasuki bulan puasa sudah menjadi tradisi di tempat saya tinggal ini untuk membersihkan rumah dan sekelilingnya. Mulai membersihkan sarang laba-laba di atap, mencabut rumput liar yang numpang hidup di sela-sela tembok, sampai mencuci kain gorden semua jendela.

Alhamdulillah, selain rumah yang saya bangun bersama suami di Pagelaran ini, kami juga mendapatkan amanah untuk merawat rumah mama mertua di Karang Tengah Cianjur kota, dan sekarang ditambah rumah peninggalan ibu saya di Sukanagara setelah sekitar dua bulan lalu beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Jadilah memasuki euforia Ramadan saya estafet membersihkan tiga rumah. Capek sih, malah sempat kepikiran mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu di Sukanagara setelah berembug dengan adik. Daripada kosong kan ya, mending ada yang menempati dan merawat.

Karena berjauhan, membersihkan rumahnya bergantian. Pertama rumah tempat tinggal kami sehari-hari di Pagelaran. Cukup repot karena banyak printilan punya anak yang sedang mondok. Super lengkap seperti Blog Tulisandin yang memiliki banyak informasi di dalamnya.

Saya tidak bisa sembarangan memilah apalagi membuang barang-barang (yang walau menurut saya sudah tidak akan dipakai lagi) karena semuanya diamanahkan anak. Sebelum berangkat ke pondok anak memang menitipkan semua barang-barangnya.

“Awas jangan sampai ada yang hilang atau mati ya, Bu…” pesannya. Bilang begitu karena yang dititip selain barang-barang berupa mainan sejak jaman ia homeschooling sampai sekolah formal, lulus dan berangkat mondok, ada juga peralatan dan hewan peliharaan seperti lele albino, ikan di akuarium dan di kolam serta kucing kesayangannya yang terus bertambah.

Karena di rumah sendiri ini hampir setiap hari dibersihkan jadi tidak begitu terasa kotor dan memakan waktu banyak untuk membereskannya.

Rumah peninggalan mama mertua yang jadi bagian suami menjadi prioritas kami selanjutnya untuk dibereskan karena kebetulan sepuluh hari sebelum Ramadan anak pulang libur Ramadan dari pondok. Kami yang menjemputnya seperti biasa sebelum berangkat ke ibukota nginap dulu di sana. Nah, saat mampir nginap itulah sekaligus membereskan rumah dan isinya.

Selain mencuci gorden, menyapu dan ngepel seperti biasa saya lakukan dengan satset. Tidak ada barang banyak di rumah ini karena sudah sejak sepuluh tahun lebih rumahnya memang kosong.

Selanjutnya menuju rumah almarhumah ibu saya di Sukanagara. Jarak terdekat dengan tempat tinggal dibandingkan rumah mertua di Cianjur Kota.

Sejak ibu tiada, saya yang ambil alih membersihkan rumah dan isinya. Ada adik yang juga tinggal di Sukanagara tapi dia sibuk karena bekerja dan merasa masih sedih katanya kalau ke rumah ibu kami itu.

Bagaimanapun sebelumnya dia memang yang merawat ibu sehari-hari. Jadi saat ibu tiada, adik dan istrinya masih merasa shock, merasa terbayang-bayang dan keinget terus. Sementara saya karena ikut suami tinggal di kecamatan sebelah malah jarang ketemu. Jadi saat ibu tiada, saya tidak merasa begitu kehilangan.

Beberes di rumah ibu ternyata lebih cepat dibanding di rumah sendiri. Saya baru sadar ternyata di rumah ibu tidak banyak barang dan sebagainya. Yang ada hanya perabotan penting yang setiap hari dipakai.

Tetangga sebelah yang masih kerabat mengatakan kalau selama ini, selama sakit ibu saya sering beberes dan memberikan barang-barang yang sekiranya tidak dipakai di rumah untuk diberikan kepada yang membutuhkan.

“Selain rumah tidak sesak, kalau diberikan kepada yang membutuhkan, kelak saat dihisab kita jadi tidak punya banyak tanggung jawab.” Begitu ibu saya bilang sebagaimana disampaikan kerabat kepada saya.

Saya merasa terharu. Walau dulu saya sering kesal karena baju atau barang saya yang sekiranya sudah tidak terpakai diberikan kepada saudara yang menginginkan. Tapi kini meyakini kalau itu lebih baik daripada disimpan-simpan tapi saya sendiri tidak memakainya.

Dibanding saya, ibu saya itu memang sudah menerapkan pola hidup minimalis sejak lama. Sebuah gaya hidup yang berfokus pada kesederhanaan, dengan tujuan mengurangi hal-hal yang tidak penting agar bisa lebih menghargai apa yang benar-benar bermakna.

Hal itu bisa saya yakini karena melihat ditemukan banyak hal yang telah dilakukan almarhumah ibu saya sebagai ciri utama hidup minimalis.

Ciri Utama Hidup Minimalis

✳️ Mengurangi barang tidak perlu: Fokus hanya pada benda yang benar-benar bermanfaat.

✳️ Memprioritaskan kualitas dan makna: Lebih memilih sedikit barang, tapi berkualitas dan bermakna.

✳️ Kesadaran lingkungan: Mengurangi konsumsi berlebihan yang berujung pada sampah.

✳️ Ketenangan batin: Ruang yang lebih rapi dan sederhana membantu mengurangi stres.

✳️ Fokus pada pengalaman: Lebih menghargai hubungan, kesehatan, dan waktu daripada kepemilikan materi.

Dari kebiasaannya itu, banyak hal positif yang didapatkan yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tapi juga untuk manajemen keuangan.

Manfaat Hidup Minimalis

🌀 Kesehatan mental: pikiran jadi lebih entang. Itu bisa mengurangi rasa cemas dan stres.

🌀 Keuangan lebih sehat: karena belanja lebih bijak, tidak boros. Daripada beli barang baru lebih baik memperbaiki selagi masih bisa diperbaiki

🌀 Produktivitas meningkat: Pikiran lebih jernih karena tidak terbebani hal-hal yang tidak penting. Sebagai orang tua, ibu saya memilih fokus untuk mendekatkan diri kepada Nya daripada ngurusin soal dunia dan isinya.

Banyak orang salah kaprah menganggap minimalisme itu hidup serba sedikit dan membosankan. Padahal, sebenarnya ini adalah strategi menata hidup agar lebih ringan, fokus, dan bermakna.

Saya sadari itu ketika beres-beres rumah peninggalan ibu saya yang ternyata tidak kalah cepat selesainya mengingat isinya sangat minimalis dan sudah tertata dengan baik.

Jadi kepikiran soal mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu sekaligus rumah masa kecil saya itu. Galau, takutnya dapat orang yang jorok, atau tidak bisa merawat rumah sebagaimana ibu saya menjaganya. Bukannya terawat, yang ada nanti malah rusak. Bagaimana, ya?

Read more ...