Rabu, 25 Februari 2026

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim

Hampir dua belas tahun saya hidup di negara orang dengan majikan non Muslim. Mulai bekerja dari Singapura lalu Hongkong dan berakhir di Taiwan, semuanya menyisakan kenangan bagaimana suka dukanya saya mencuri-curi waktu demi bisa melakukan sahur dengan modal seadanya.

Yang paling tidak bisa terlupakan waktu kerja di Keelung Taiwan. Ketika memasuki bulan puasa saya tidak bisa leluasa masak dan menghidupkan lampu dapur sehingga terang benderang karena ada orang tua majikan yang masih kolot tidak mengizinkan saya melakukan puasa.

Padahal sehari-hari dapur adalah ruangan yang saya kuasai. Tapi sejak kedapatan oleh Ama (Nenek) saat dini hari saya nguprek di dapur untuk mempersiapkan sahur, dan mengetahui kalau saya akan menjalankan puasa, sontak dia marah dan melarang saya masak.

Saya pikir dia marah karena saya mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin suara alat masak bikin berisik sehingga bikin Ama terbangun. Ternyata Ama melarang saya sahur, karena ia tidak ingin saya mati sia-sia gara-gara berpuasa! Wadidaw…

“Kamu kerja di sini. Kalau kamu siang hari tidak makan, bisa mati tau gak? Bikin repot saja. Besok saja makannya bareng-bareng. Ayo masuk kamar dan tidur.” Begitu ultimatum Ama.

Cari Ide Bisa Sahur yang Terlarang di Rumah Majikan

Begitulah, di sana kalau orang tua sudah berkuasa, anak cucunya tidak bisa bagaimana. Majikan sebenarnya sudah modern dan berpikiran terbuka. Mereka membebaskan saya untuk melakukan puasa asalkan tidak mengganggu pekerjaan. Hanya orang tuanya yang masih berpikiran sempit seperti itu.

Majikan menyarankan supaya saya pintar-pintar saja mengambil hati nenek, sehingga tidak tahu kalau saya tetap menjalankan puasa.

Awalnya saya sahur dengan makan roti dan air minum yang saya bawa ke kamar. Tapi gak nyaman juga secara saya terbiasa makan nasi dan lauk pauk layaknya di Indonesia.

Di rumah majikan tidak pernah ada nasi sisa semalam karena setiap makan malam semuanya harus dihabiskan. Lagian masaknya juga sedikit karena setiap orang cukup satu mangkuk kecil nasi saja. Beda dengan kebiasaan saya di kampung, makan satu piring penuh nasi itu masih harus nambah. Haha…!

Akhirnya saya bilang ke majikan, izin bawa rice cooker ke kamar. Dengan alat masak praktis ini saya bisa masak nasi sekaligus lauknya.

Tidak disangka proposal saya itu di-approve majikan. Malah dia sengaja beli alat penanak nasi yang baru, khusus untuk disimpan di kamar saya. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibunya. Ditambah syarat lain saya harus menjaga kebersihan dan keamanannya.

Alhamdulillah. Sejak itu saya bisa menjalankan sahur dengan tenang walaupun masih secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar.

Menu makan sahur apa saja yang bisa saya buat dengan alat terbatas berupa pengukus nasi saja ini?

Saya lebih sering bikin one pot sahur ala-ala. Maksudnya, saya masak nasi dan lauknya sekaligus dalam satu kali masak. Praktis banget pokoknya.

Lauk yang biasa saya masak bersama nasi sekaligus dalam penanak nasi modern ini seperti telur, sosis, ikan, atau sayuran dalam satu wadah.

Telur tidak hanya direbus atau dikukus bersama cangkangnya, melainkan bisa disteam dengan cara telur dikocok dulu, diberi bumbu sesuai selera dan tanak bersama nasi secara bersamaan.

Sebelum punya mangkuk anti panas, saya bungkus telur yang sudah diberi bumbu dalam plastik. Lalu taruh di atas pengukus nasi. Hasilnya setelah matang bentuknya malah seperti sosis. Not bad kan?

Begitu juga dengan ikan atau sayuran. Cukup cuci bersih, simpan dalam wadah stainless steel yang muat dalam panci penanak nasinya, kasih bumbu sesuai selera dan kukus bersama nasi. Jadi nasi matang, lauknya juga siap santap. Intinya jadi hemat waktu dan tenaga.

Beberapa kali Ramadan saya lewati dengan berpuasa secara maksimal cukup berbekal satu alat pengolah nasi ini di dalam kamar. Hingga saya pulang ke tanah air, hanya majikan yang tahu “kecurangan” saya terhadap Ama selama ini.

Tips Membuat Menu Sahur dengan Rice Cooker

Tidak mudah memasak menu untuk sahur dengan tuntutan kelengkapan gizi serta tampilan yang menarik supaya menggugah selera makan di waktu pagi buta.

Apalagi jika memasaknya hanya mengandalkan alat masak dengan segala keterbatasannya pula. Karena itu diperlukan beberapa tips dan trik supaya acara masak-memasak berjalan lancar tanpa diburu waktu imsak dengan hasil yang enak dan matang sempurna.

Beberapa hal dari pengalaman saya selama ini yang perlu diperhatikan:

🩸 Pilih penanak nasi multifungsi. Seperti Rice Cooker Miyako yang bisa digunakan untuk memasak nasi, mengukus, dan lainnya tanpa merusak lapisan anti lengket.

Saat ini banyak direkomendasikan alat pemasak nasi kesayangan Nikita Willy tersebut. Hal itu karena Miyako Nanoal sejak lama sudah terbukti awet dan irit secara harganya sangat ramah di kantong. Selain anti lengket, mudah dibersihkan, juga memiliki garansi panjang dan aman karena sudah SNI.

Masih banyak keunggulan lainnya dari brand Miyako ini yang paling saya sukai sih model fungsi 3-in 1 nya itu. Jadi cukup dengan satu alat penanak nasi, sudah bisa memasak nasi, menghangatkan, mengukus lauknya hingga membuat kue.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

🩸 Rencanakan dengan matang saat setelah tarawih untuk sahur nanti mau masak menu apa.

🩸 Gunakan bahan masakan yang cepat matang (seperti tahu, sosis, telur, sayuran potong kecil, dlsb)

🩸 Siapkan bumbu dan lauk atau sayur yang akan dimasak serta peralatan lainnya seperti air, alat makan dan sebagainya sejak sebelum tidur agar saat sahur tinggal klik tombol cook.

🩸 Kombinasikan bahan yang akan dimasak supaya memenuhi nilai gizi yang dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Jadi selain memasak nasi sumber karbohidrat, tambah juga ikan atau telur untuk sumber protein, dan sayuran serta buah-buahan supaya kenyang lebih lama.

Tidak lupa konsumsi juga vitamin dan minum air putih lebih banyak dari hari biasa.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

Begitulah pengalaman saya melakukan ritual sahur yang sembunyi-sembunyi di rumah majikan karena ada orang tua boss yang tidak mengizinkan saya selaku orang yang bekerja di rumahnya melakukan puasa.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi manteman yang ngekos, atau memiliki keterbatasan lainnya seperti pengalaman saya tapi tetap bersemangat untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadan.

Read more ...

Jumat, 13 Februari 2026

Mengisi Kesendirian Menuju Usia Senja

Sejak anak berangkat mondok, di rumah tersisa saya dan suami. Saat suami kerja atau ada kegiatan pengajian dan sebagainya, otomatis tinggal saya sendirian sebagai penunggu tempat tinggal.

Senin sampai Selasa, waktu saya sendirian bertambah panjang, mulai pagi sampai jelang magrib karena suami sepulang sekolah langsung mendapatkan pengabdian di pesantren Mazroatul Ulum Citiis.

Jadi sepulang dari sekolah tempat mengajar, suami langsung ke ponpes karena kalau pulang dulu ke rumah malah tambah jauh dan makin kesorean sampai di Madrasah Aliyah nya.

Tuh, jadinya cukup banyak waktu saya sendirian di rumah, bukan? Nah, banyak yang nanya dan atau mengira-ngira ngapain aja nih saya waktu sendirian saja di rumah?

Saya bukan tipe orang yang suka main ke tetangga. Haha… padahal ketika masih lajang, saya tipe yang suka keluyuran. Tidak bisa sebentar saja diam di rumah karena bawaannya bosan.

Tapi setelah berumah tangga apalagi sesudah memiliki anak, saya drastis berubah jadi ibu rumahan saja. Rasanya malas keluyuran lagi. Malas keluar rumah kalau tidak berkepentingan.

Pun jangan salah, ketika di rumah saja, saya juga tidak hanya rebahan atau puas-puasin main gadget aja lah ya... Alhamdulillah, ada saja kegiatan produktif lainnya, selain me time yang sesekali saya lakukan sebagai mood booster atau penghargaan atas pencapaian diri selama ini.

Jika sendirian di rumah, saya mengisi waktu sendirian itu dengan kegiatan yang sekiranya bisa membuat saya terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya merasa diri ini jadi lebih hidup.

Ada banyak cara untuk menjadikan waktu sendirian di rumah sebagai momen untuk benar-benar “terhubung” dengan diri sendiri. Kuncinya adalah memilih kegiatan yang bukan sekadar mengisi waktu, tapi juga bisa memberi ruang kepada kita untuk refleksi, ekspresi, dan memiliki kehadiran yang penuh.

Kegiatan saya di rumah yang membantu terkoneksi dengan diri:

Menulis

Mau di blog, mau di sosial media, bahkan di kertas bekas ulangan anak didik suami yang selalu dibawa pulang --karena bisa digunakan sebagai kertas buat corat-coret-- mau dimanapun tempat nya saya berusaha meluangkan waktu untuk menulis.

Mencatat apa yang ada di pikiran, perasaan, atau hal-hal kecil yang disyukuri hari itu. Apa saja saya tulis untuk menyalurkan emosi. Gak berharap banyak jadi Mindful Lifestyle Blogger yang sukses sih, hanya setidaknya dengan menulis setelah saya meninggalkan dunia, kelak ada sedikit jejak yang bisa dikenang orang lain.

Membaca

Duduk tenang, fokus pada bahan bacaan, kadang sambil mendengarkan musik instrumental lembut. Semua yang membantu menenangkan pikiran dan menyadari keberadaan diri bisa saya jadikan teman saat membaca.

Memilih buku yang memberi inspirasi atau menenangkan. Membaca perlahan, merenungkan kalimat yang terasa bisa “menghentikan waktu” saya. Begitulah, kalau sudah asyik membaca, kadang sampai lupa waktu dan lainnya.

Memasak dengan penuh kesadaran

Alih-alih satset sekadar menyiapkan makanan, saya sesekali mencoba memperlakukan proses memasak sebagai ritual. Seperti mulai dari memilih bahan yang segar, merasakan tekstur ketika mengolahnya, hingga menikmati aromanya.

Mendekorasi atau merapikan ruang atau halaman

Menata ulang sudut rumah, menambahkan elemen alami seperti kayu, tanaman, batu, atau membuat DIY kecil.

Aktivitas seperti itu sedikit banyak memberi rasa kontrol dan kreativitas bagi saya.

Mendengarkan musik dengan penuh perhatian

Memilih lagu yang benar-benar menyentuh hati, lalu mendengarkan tanpa distraksi. Menyimak lirik, nada, dan merasakan bagaimana tubuh ini bereaksi.

Belajar membuat kue

Tidak perlu berekspektasi untuk dapat hasil sempurna—biarkan tangan dan pikiran bergerak bebas aja. Saya percaya aktivitas kreatif sering membuka pintu ke sisi diri yang jarang muncul. Begitu pula kue yang dibuat, kadang tercipta karena ketidaksengajaan.

Olahraga

Bisa berupa olahraga ala-ala berinstrukturkan tutorial dari internet. Kebanyakan berupa peregangan, atau bahkan menari bebas mengikuti musik.

Tubuh yang bergerak selaras dengan perasaan membuat energi lebih hidup. Seperti itu yang saya rasakan.

Begitulah kegiatan saya di rumah sebagai salah satu cara supaya bisa terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya untuk lebih merasa lebih hidup dalam menjalani hari. Apapun kegiatannya pastikan lakukan hal berikut supaya hasilnya terasa lebih bermakna:

Tips agar kegiatan sehari-hari terasa lebih hidup

🩸 Lakukan satu kegiatan dengan penuh perhatian, bukan multitasking.

🩸 Matikan distraksi digital (TV, notifikasi ponsel, dan sebagainya) untuk memberi ruang hening.

🩸 Tutup dengan ritual penghargaan kecil: misalnya menyalakan lilin, membuat teh hangat, atau menulis satu kalimat tentang apa yang dirasakan.

🩸 Jangan lakukan semua sekaligus; pilih 2–3 kegiatan tiap hari agar terasa ringan.

🩸 Anggap ini sebagai “ritual pribadi” bukan rutinitas kaku—biarkan fleksibel sesuai mood.

🩸 Jika ada kegiatan yang terasa paling menyentuh, jadikan itu inti dari kegiatan yang dilakukan.

Begitulah, meksipun saya dilihat orang kerap menyendiri, namun sebenarnya di usia saya yang sudah tidak muda ini saya mengerjakan banyak hal yang bikin saya sendiri merasa ketagihan.

Mulai bangun pagi saat meniatkan diri membuka hari, dimulai dengan bangun dengan hening. Maksudnya tidak langsung pegang ponsel, melainkan duduk sebentar, tarik napas dalam, minum air putih.

Setelah sholat subuh, membiasakan diri menuliskan 3 hal syukur di jurnal, termasuk perencanaan family & personal journey apa saja, sekecil apa pun kesyukuran itu tetap saya catat.

Lanjut ke dapur, anggap saja sebagai pergerakan tubuh ringan. Bekerja sekaligus melakukan peregangan. Biar tidak monoton sesekali temani dengan murotal, atau kajian, atau sambil mendengarkan musik lembut.

Saat siang menjelang, ketika suami sudah bekerja, mulailah bersiap untuk menyatu dengan aktivitas. Seperti memasak dengan penuh kesadaran untuk mempersiapkan makan siang sendiri dan makan malam bersama dengan suami.

Tetap santai, menikmati prosesnya, dan ketika harus makan siang sendiri, makan dengan perlahan disertai syukur.

Jika cuaca bersahabat, berkegiatan di halaman selalu jadi pilihan. Menyapu dan merapikan sudut rumah, menyiangi tanaman, dan kegiatan lain.

Waktu sendiri menurut saya adalah waktunya untuk berkreativitas bebas. Apa saja hobinya, puaskan diri dengan melakukannya tanpa menuntut hasil sempurna.

Jika malam menjelang saatnya untuk menutup hari, sempatkan untuk mengisi jurnal malam. Saya biasa menulis satu kalimat tentang apa yang membuat saya merasa “hidup” hari itu. Simple tapi membuat hidup saya yang mungkin tidak berapa lama lagi ini insyaallah lebih bermakna.

Bagaimana dengan kegiatan keseharian mu manteman? Gambaran kegiatan saya saat sendiri tersebut semoga bermanfaat ya …

Read more ...

Minggu, 01 Februari 2026

Pertemanan Adalah Kekayaan Permusuhan Adalah Beban

Setuju tidak dengan pendapat tersebut?

Guru saya pernah mengatakan lebih baik memiliki seribu sahabat daripada satu musuh. Satu musuh terasa lebih berat daripada seribu teman karena dampak negatif dari permusuhan sering kali lebih kuat, lebih mengganggu, dan lebih membebani pikiran dibandingkan dukungan dari banyak teman.

Pepatah ini menekankan bahwa persahabatan selalu terasa kurang, sementara satu permusuhan saja sudah terlalu banyak untuk ditanggung.

Mengapa satu musuh terasa lebih berat? Sungguh punya musuh seekor itu sangat menguras energi emosional.

Memiliki musuh pasti bakalan menguras energi mental. Muncul rasa kebencian, dendam, atau rasa tidak nyaman yang terus menghantui.

Sementara ketika kita memiliki teman yang ada justru memberi energi positif. Tapi efeknya sering tersebar dan tidak sekuat satu konflik yang menekan.

Memiliki satu musuh saja bisa merusak reputasi atau hubungan sosial yang lebih luas. Permusuhan sering menimbulkan ketidakpercayaan, gosip, atau konflik yang menyebar ke lingkaran lain.

Sebaliknya, seribu teman tidak selalu bisa menutup dampak buruk dari satu musuh yang vokal.

Circle Pertemanan

Sahabat Menguatkan Musuh Melemahkan

Secara psikologis, manusia lebih sensitif terhadap ancaman daripada dukungan. Secara psikologi, otak kita lebih fokus pada hal negatif (negativity bias).

Wajar kalau kerasa satu musuh bisa membuat rasa aman terganggu, meski ada banyak teman yang mendukung.

Memiliki seribu teman belum tentu semuanya berkualitas; banyak di antaranya mungkin hanya kenalan.

Tapi ketika memiliki musuh, meski jumlahnya kecil, bisa memberikan beban yang nyata dan langsung terasa.

Karena itu tidak heran banyak sesepuh, para guru yang menekankan pentingnya perdamaian dan kerukunan dalam hubungan antar warga maupun antarindividu.

Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan, memiliki musuh dianggap mengganggu harmoni sosial.

Jadi, satu musuh lebih berat karena efek negatifnya langsung terasa, lebih intens, dan bisa merusak keseimbangan hidup, sementara seribu teman sering kali tidak cukup untuk menutupi luka yang ditimbulkan oleh satu permusuhan.

Banyak teman banyak rezeki

Pepatah ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, dan sebenarnya mengandung makna yang cukup dalam.

Rezeki tidak selalu berarti uang, tapi bisa berupa peluang, ilmu, dukungan moral, atau bahkan kesehatan. Dengan banyak teman, kita membuka lebih banyak pintu untuk berbagai bentuk rezeki.

Manusia adalah makhluk sosial. Semakin luas jaringan pertemanan, semakin besar kemungkinan kita mendapatkan informasi, peluang kerja, atau bantuan saat membutuhkan.

Dalam hal berkolaborasi, teman bisa menjadi partner bisnis, rekan kerja, atau kolaborator dalam proyek kreatif. Dari sinilah rezeki bisa mengalir.

Dengan berteman memunculkan rekomendasi dan peluang. Banyak orang mendapat pekerjaan atau peluang usaha dari rekomendasi teman.

Teman adalah support system. Saat menghadapi kesulitan, teman bisa memberi dukungan emosional yang menjaga semangat kita tetap hidup—ini juga bentuk rezeki.

Circle Pertemanan

Seribu Teman Tak Cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak

Tapi ingat, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Banyak teman tidak otomatis berarti banyak rezeki. Jika hubungan hanya sebatas kenalan tanpa kedekatan, manfaatnya bisa terbatas.

Harus dipahami juga akan risiko pergaulan. Tidak semua teman membawa kebaikan. Ada juga yang bisa menjerumuskan. Jadi, penting memilih lingkungan yang sehat.

Jangan lupa, rezeki itu tetap bergantung pada usaha dan keberkahan. Teman hanyalah salah satu jalan, bukan satu-satunya sumber.

Relevansi Pertemanan Modern

Di era digital, “banyak teman” bisa berarti banyak koneksi di media sosial. Namun, yang benar-benar membawa rezeki adalah hubungan yang tulus dan saling mendukung, bukan sekadar angka followers.

Networking profesional (seperti di LinkedIn, komunitas kreatif, forum dan sebagainya) adalah contoh nyata bagaimana pepatah banyak teman banyak rezeki ini masih relevan.

Pepatah banyak teman banyak rezeki mengajarkan kita untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan luas, karena dari sanalah peluang dan keberkahan sering datang.

Namun, jangan lupa bahwa kualitas pertemanan dan usaha pribadi tetap menjadi kunci utama.

Suka Duka Berteman dari Pedesaan

Memiliki teman di pedesaan memang punya warna khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Ada kehangatan, kebersamaan, tapi juga tantangan. Beda dengan pertemanan atau pergaulan di kota, ya.

Walau sekarang tinggal di pedesaan, tapi saya pernah juga bergaul, berteman dan interaksi dengan orang-orang kota. Bahkan orang dari luar negeri. Nah dari semua pengalaman itu maka bisa saya katakan pertemanan antara orang di desa dan di kota itu berbeda.

Circle pertemanan saya selain tetangga atau ibu-ibu pengajian di kampung, ada juga circle teman sekolah dan circle teman dunia maya.

Circle Pertemanan

Circle Tetangga

Berinteraksi seperlunya mengingat saya jarang keluar rumah. Bertemu dan ngobrol kalau ada acara pengajian, memasak bersama untuk peringatan hari besar keagamaan atau hari besar nasional.

Selebihnya sering ada tetangga yang datang ke rumah karena urusan anak-anak mereka yang mengaji di tempat kami.

Circle Teman Sekolah

Karena saya sekolah di tiga kota kabupaten yang berbeda maka circle nya juga bisa dihimpun berdasarkan lokasi. Circle teman SD di Bandung, circle teman SMP di Tasikmalaya dan circle teman SMU di Cianjur.

Meski berjauhan kami terhubung dalam konektivitas sosial media dan group perpesanan.

Walaupun ada teman sekolah di sekitar tempat tinggal sekarang, kami jarang bertemu atau interaksi karena kesibukan masing-masing.

Circle Teman Dunia Maya

Paling dulu adalah teman dari Facebook. Lalu merambah ke teman Kompasiana (biasanya disebut Kompasianer) lalu teman dari dunia blogger lainnya.

Mereka ini ada yang loyal, amanah, tidak sedikit juga yang manis di depan kecut di belakang.

Ada yang baik banget sampai sekarang udah seperti keluarga saja. Padahal ada yang belum pernah jumpa sama sekali. Ada juga yang biasa aja, hare-hare. Ada perlu ya ngontak, ga ada mah cicing we.

Circle Wali Santri

Seiring berkembangnya teknologi dan perkembangan jaman termasuk pertumbuhan anak, maka semakin kesini nambah nih circle saya dengan adanya sesama wali santri. Mirip dengan circle dunia maya, circle wali santri juga ada yang udah jumpa, ada yang belum sama sekali.

Bedanya jika circle dunia maya yang dibahas saat interaksi itu seputar dunia menulis di blog, konten sosial media, dan seputar job terkait kepenulisan atau review. Kalau circle wali santri interaksi ya fokus ke soal kondisi anak di pondok.

Kebetulan pondok anak tempat mengenyam ilmu ada di luar pulau. Tepatnya di Solok Sumatera Barat. Nah, siapa yang tidak khawatir kan anak merantau sendiri di sana? Untuk mengurangi rasa khawatir itu adanya circle wali santri ini sedikit banyak memperingan kekhawatiran itu.

Ada wali santri yang mudif ke pondok, mereka share foto dan video di group. Menginformasikan berita santri-santri terbaru. Saya yang sepertinya tidak mungkin mudif ke Solok tentu saja senang bisa ikut mengintip kondisi anak semata wayang di sana.

Kalau anak ada masalah, semua wali santri ikut turun tangan. Terutama yang bisa mewakili wali santri lain yang berhalangan hadir.

Saat anak sakit di pondok, wali santri asal Bengkulu, Batam dan Sumatera Barat “menggantikan” kami yang di Jawa mengurus dan merawat mereka semua.

Circle Pertemanan

Sebaliknya, ketika anak-anak ikut jambore Pramuka Muslim Sedunia di Cibubur, kami yang di sekitar Banten, DKI dan Jabar ini yang jadi orang tua mereka, yang dekat ini yang menggantikan ayah bunda di luar pulau yang berhalangan hadir menjenguk ke perkemahan di Cibubur.

Intinya circle wali santri ini sangat terasa sekali manfaat dan keberadaannya. Mungkin minimal hingga 7 tahun kedepan, selama anak mondok di PMDG kebersamaan circle wali santri ini akan terus ada.

Dan saya yakin walaupun anak sudah lulus dari pondok silaturahmi circle wali santri ini akan tetap terjalin.

Banyak teman banyak rezeki. Saya sangat mempercayai itu. Rezeki di sini bukan berarti uang atau harta saja. Tapi bisa juga kesehatan, pertolongan yang tidak disangka, dan sebagainya.

Terbukti bersama teman hidup semakin berwarna dan beban terasa lebih ringan.

Suka (Kebahagiaan) bersama teman yang saya rasakan:

🕳️ Kebersamaan tanpa batas:

Teman-teman di kampung biasanya tumbuh bersama sejak kecil, jadi ikatan emosinya kuat. Main layangan, sepak bola di lapangan, atau nongkrong di warung jadi rutinitas penuh tawa.

Bahkan karena saya lahir di jaman sebelum ada listrik masuk desa maka berangkat ngaji pakai obor pun jadi kenangan berharga bersama teman-teman.

Nonton layar tancap, berangkat sekolah naik mobil truk tangki Pertamina, dan masih banyak kenangan bersama teman yang rasanya mustahil bisa dialami lagi oleh anak jaman now.

Semua pengalaman kebersamaan itu sampai berkeluarga dan punya anak cucu semua terkenang begitu jelas.

🕳️ Gotong royong:

Saat ada hajatan, panen, atau acara desa, teman-teman kompak saling bantu. Rasa solidaritas ini bikin hubungan makin erat.

Gak peduli dengan mantan pacar, kalau pas ada acara RT atau desa, jika kebetulan dipertemukan dalam kepengurusan kepanitiaan, tuntutan profesionalisme harus dijunjung.

Jadinya walau bete ketemu wajah mantan, dibuat enjoy aja demi kesuksesan acara sampai selesai. Hahaha…

🕳️ Kesederhanaan yang hangat:

Walau fasilitas terbatas, kebahagiaan terasa lebih tulus. Obrolan ringan saat jalan kaki ketika berangkat dan pulang sekolah atau mengaji bisa jadi momen berharga.

Dulu belum ada internet, komunikasi masih pakai surat-menyurat. Walau harus ngirit uang jajan demi bisa beli perangko, tak apa yang penting bisa tahu kabar teman nun jauh di sana.

🕳️ Rasa aman dan dekat:

Karena semua orang saling kenal, berteman di kampung terasa seperti punya keluarga besar.

Apalagi saya anak atau cucu perempuan pertama dari pihak bapak. Sementara sepupu dan saudara bapak kebanyakan laki-laki. Saat masa puber, beneran merasa terjaga sekali karena dikelilingi wali dan mahram yang perhatian.

Bukan tidak boleh pacaran, tapi saudara yang kebanyakan laki-laki itu menjaga saya supaya tidak mudah didekati orang yang hanya iseng.

Duka (Tantangan) bersama teman yang sampai sekarang suka kepikiran buat saya:

Konflik kecil:

Kadang muncul perselisihan karena hal sepele, misalnya rebutan lapangan atau beda pendapat saat kerja bakti.

Saya orangnya blak-blakan. Suka bilang suka, sebel bilang sebel. Mungkin banyak teman yang sakit hati karena ucapan saya yang tanpa filter. Tapi namanya anak-anak, tak lama kemudian kami akur lagi.

Kalau sekarang, setelah dewasa jika ada konflik dengan teman, saya memilih diam saja. Kalau salah saya segera minta maaf. Kalau konflik masih tidak reda, saya ikhlaskan saja. Tentu saja tanpa diminta pun saya sudah memaafkan mereka.

Keterbatasan peluang:

Ada teman yang harus merantau ke kota untuk sekolah atau kerja, sehingga circle pertemanan jadi renggang.

Awalnya merasa tidak rela berpisah, tapi gak bisa menolak karena masing-masing memiliki pilihan dan masa depan. Sedihnya hanya sesaat saja. Berganti kebahagiaan jika sudah dapat kabar keberhasilannya.

Gosip dan iri hati:

Di pedesaan, lingkungan nya kecil, kabar cepat menyebar. Kadang ada rasa iri atau salah paham yang bikin hubungan renggang. Saya cuek saja. Yang penting saya berusaha tidak gibahin orang. Kalau saya yang digibah anggap saja sedang proses pembersihan dosa.

Perbedaan jalan hidup:

Seiring waktu, teman-teman ada yang tetap di kampung, ada yang pergi. Perbedaan ini bisa bikin jarak emosional. Pengennya tetap bersama kumpul ngariung. Tapi mana ada orang saudara sendiri saja jodohnya dari luar daerah.

Intinya, berteman di kampung itu seperti menanam padi: ada musim hujan penuh tantangan, ada musim panen penuh kebahagiaan.

Suka dukanya justru membuat ikatan itu lebih bermakna, karena setiap cerita—baik tawa maupun air mata—menjadi bagian dari kenangan bersama.

Circle Pertemanan

Manfaat Berteman

Memiliki banyak circle teman bisa membawa banyak manfaat, baik secara pribadi maupun profesional. Manfaat yang saya rasa:

Manfaat Pribadi

🩸 Dukungan emosional beragam:

Setiap circle punya dinamika berbeda, sehingga saya bisa mendapat perspektif dan dukungan yang lebih luas saat menghadapi masalah.

Contohnya saya berteman dengan ahli terapis. Saat saya sakit kaki, saya lihat bagaimana dia memberi terapi kepada pasien. Saya ikuti gerakannya. Alhamdulillah sakit kaki saya ikut mereda.

🩸 Pengalaman hidup lebih kaya:

Teman dari latar belakang berbeda memberi cerita, kebiasaan, dan budaya baru yang memperkaya cara pandang.

Waktu bekerja di luar negeri teman berlibur selain orang Indonesia ada juga dari warga negara China, Philipina, Vietnam, Thailand dan sebagainya. Mereka cara berpikir dan gaya hidupnya beda dengan kebiasaan saya.

Dalam hal itu, yang baiknya saya adopsi, yang kurang cocok saya tinggalkan.

🩸 Mengurangi ketergantungan:

Tidak hanya bergantung pada satu kelompok, sehingga lebih fleksibel dan tidak merasa kehilangan jika satu circle sedang sibuk.

Banyak teman banyak relasi. Mau bepergian ke mana kebetulan ada sesama anggota backpacker di sana. Insyaallah jika membutuhkan bantuan mereka akan dengan senang hati menolong. Begitu juga sebaliknya.

Manfaat Sosial

🩸 Jaringan lebih luas:

saat berteman saya bisa terhubung dengan lebih banyak orang, itu bisa membuka peluang kolaborasi, kerja sama, atau sekadar memperluas relasi.

🩸 Fleksibilitas sosial:

Ada circle untuk berbagai kebutuhan—misalnya circle hobi, circle kerja, circle keluarga—yang membuat saya bisa menyesuaikan diri dengan situasi.

🩸 Mengasah keterampilan sosial:

Berinteraksi dengan banyak circle melatih kemampuan komunikasi, empati, dan adaptasi. Lain lubuk lain ikannya. Setiap pertemanan akan memiliki jalan ceritanya masing-masing.

Manfaat Profesional

🩸 Kesempatan karier:

Banyak circle berarti banyak pintu informasi, rekomendasi, atau peluang kerja.

🩸 Kolaborasi kreatif:

Circle berbeda bisa jadi sumber inspirasi untuk ide-ide baru. Sebagai manusia setengah abad, jika berteman dengan remaja kinyis-kinyis, siapa tahu style saya juga bakalan kebawa berjiwa muda. Cie...

🩸 Reputasi lebih kuat:

Semakin banyak circle yang mengenal kita, semakin besar peluang membangun citra positif. Sepulang jadi TKW, saya aktif di dunia perburuhan, saya sering menjadi paralegal dan memberikan advokasi ke teman-teman buruh yang berasal dari daerah kantong TKI.

Siapa kira, ada beberapa peneliti yang sering interaksi dengan saya terkait permasalahan tenaga kerja ini merekomendasikan saya kepada camat dan kades di kampung, ketika pemerintah saat itu gencar menggagas Desa Migratif.

Tapi dari semua itu, tentu ada tantangan nya juga: bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan waktu, energi, dan kualitas hubungan agar tidak sekadar “kenal banyak orang” tanpa kedekatan yang berarti.

Jika itu semua adalah ulasan tentang Circle Pertemanan menurut saya sekarang bagaimana kalau menurutmu manteman? Circle mana yang paling memberi energi positif buatmu—circle kreatif, circle kuliner, atau circle sosial? Atau ada circle lain?

Read more ...