Berikut 5 Barang Rumah Tangga Multifungsi yang Bikin Hidup Ibu-Ibu Lebih Praktis...
Di era modern ini, kehidupan rumah tangga menuntut efisiensi dan kepraktisan, terutama bagi para ibu yang harus mengurus banyak hal sekaligus. Untungnya, kini tersedia berbagai barang rumah tangga multifungsi yang bisa membantu meringankan pekerjaan rumah dan menghemat waktu.
Berikut ini lima barang rumah tangga multifungsi yang wajib dimiliki untuk mendukung aktivitas ibu-ibu masa kini.
Rice Cooker Multifungsi
Rice cooker zaman sekarang tidak hanya untuk menanak nasi. Banyak merek ternama yang telah meluncurkan rice cooker dengan fitur tambahan seperti mengukus, memasak sup, bubur, bahkan membuat kue.
Memiliki satu alat ini akan membantu para ibu menyiapkan berbagai menu makanan tanpa harus menggunakan banyak peralatan. Selain hemat tempat, rice cooker multifungsi ini juga hemat energi dan waktu.
Vacuum Cleaner dengan Fungsi 3-in-1
Membersihkan rumah tidak perlu ribet jika memiliki vacuum cleaner 3-in-1. Alat ini biasanya dilengkapi dengan fungsi menyedot debu kering, membersihkan cairan, dan blower untuk meniup kotoran dari celah-celah sempit.
Ada juga yang sudah dilengkapi filter HEPA untuk menyaring partikel kecil dan alergen, cocok bagi keluarga yang memiliki anak kecil atau penderita alergi. Praktis dan efisien dalam menjaga kebersihan rumah.
Meja Lipat Serbaguna
Meja lipat kini hadir dengan berbagai fitur tambahan seperti rak penyimpanan, roda agar mudah dipindah, serta desain yang bisa dilipat menjadi ukuran minimalis saat tidak digunakan.
Meja jenis ini bisa difungsikan sebagai meja belajar anak, meja kerja, meja makan darurat, hingga meja setrika. Sangat cocok untuk rumah dengan ruang terbatas atau bagi ibu-ibu yang suka mengerjakan sesuatu di satu tempat yang sama.
Blender All-in-One
Blender serbaguna dengan berbagai mata pisau kini bisa digunakan untuk membuat jus, menggiling daging, mencacah bumbu, hingga membuat adonan. Dengan satu perangkat, ibu-ibu tidak perlu lagi membeli alat dapur terpisah untuk tiap fungsi tersebut.
Hal ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mempermudah pekerjaan dapur sehari-hari, terutama saat mempersiapkan makanan dalam jumlah banyak.
Genset Diesel Portable untuk Kebutuhan Darurat
Tak kalah penting, memiliki genset diesel portable adalah solusi cerdas untuk menghadapi pemadaman listrik mendadak. Selain dapat menyalakan peralatan penting seperti kulkas, rice cooker, atau mesin air, banyak model terbaru yang lebih hemat bahan bakar dan memiliki suara yang lebih halus.
Genset ini menjadi penyelamat terutama bagi ibu-ibu yang menjalankan usaha rumahan atau memiliki anak kecil yang butuh kenyamanan setiap saat.
—
Memiliki barang rumah tangga multifungsi bukan hanya tentang gaya hidup modern, tapi juga soal efisiensi, kenyamanan, dan ketenangan dalam menjalani rutinitas harian. Yuk, mulai lengkapi rumah dengan peralatan serbaguna yang bikin hidup lebih praktis dan terorganisir!
Bersama Dompet Dhuafa Hong Kong Pekerja Migran si pahlawan devisa disulap jadi Pahlawan Ilmu
Sebagai mantan buruh migran alias TKW (tenaga kerja wanita) yang sekarang istilahnya disebut PMI (Pekerja Migran Indonesia) saya memiliki kenangan tersendiri bersama DDHK (Dompet Dhuafa Hong Kong) baik itu sebagai lembaga zakat Indonesia yang kiprahnya sampai di tingkat global maupun sebagai guru kehidupan yang telah memberikan banyak ilmu, petuah, wejangan dan persaudaraan.
Dompet Dhuafa adalah sebuah lembaga filantropi Islam yang berfokus pada pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) untuk memberdayakan kaum dhuafa (orang-orang yang kurang mampu atau miskin). Lembaga ini didirikan di Indonesia sejak tahun 1993.
Program Unggulan Dompet Dhuafa
🌀Pendidikan – Beasiswa, sekolah gratis, pelatihan guru, dll.
🌀Kesehatan – Klinik gratis, rumah sakit gratis untuk dhuafa, layanan kesehatan keliling.
🌀Ekonomi – Pelatihan keterampilan, pendampingan usaha mikro, koperasi.
🌀Sosial dan Kemanusiaan – Bantuan bencana, distribusi makanan, program kemanusiaan global.
🌀Wakaf Produktif – Pengelolaan aset wakaf untuk program jangka panjang yang berkelanjutan.
Sumber dana Dompet Dhuafa
Dana yang dikelola oleh Dompet Dhuafa berasal dari:
🛑 Zakat (zakat maal dan zakat fitrah)
🛑 Infak dan sedekah masyarakat
🛑 Dana wakaf
🛑 Donasi dari perorangan, perusahaan, dan lembaga
Legalitas
Dompet Dhuafa terdaftar resmi sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional di Indonesia dan memiliki izin dari Kementerian Agama.
Yang membuat Dompet Dhuafa unik dibandingkan dengan banyak lembaga filantropi lainnya adalah kombinasi antara pendekatan keislaman, profesionalisme, inovasi, dan fokus pada pemberdayaan jangka panjang.
Semua kegiatan juga dikelola dengan sistem manajemen modern dan transparan, dilengkapi audit keuangan rutin dan laporan publik.
Dompet Dhuafa juga menggunakan teknologi dan media digital untuk edukasi zakat, transparansi donasi, dan pelaporan real-time.
Para pekerja migran, sang pahlawan devisa yang disulap DDHK jadi pahlawan ilmu
Dompet Dhuafa Dimata Jie-jie HK
Mungkin orang hanya mengenal Dompet Dhuafa sebagai lembaga zakat besutan asli anak bangsa. Tapi bagi jie-jie di Hong Kong DD tidak hanya tempat untuk bersedekah atau wakaf, tapi lebih dari itu.
Apalagi saat organisasi Migrant Institute yang berdiri di bawah naungan DD masih ada, kami para pekerja asing di HK seolah memiliki tempat untuk berlindung bilamana mendapatkan permasalahan baik terkait kontrak kerja, penyalahgunaan job kerja sampai berbagai kasus ketenagakerjaan.
Dulu, sebelum mengenal DDHK hari libur kerja banyak diisi dengan keluyuran. Foya-foya menghabiskan gaji demi memenuhi gaya hidup dan keinginan yang tidak bermanfaat.
Tapi setelah mengenal DDHK, libur banyak diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan banyak memberikan ilmu dan keterampilan yang kesemuanya sangat bermanfaat ketika terjun ke masyarakat sekembalinya ke kampung halaman.
Apalagi jangkauan Migrant Institute bagian dari DD tidak hanya memberdayakan pekerja migran yang masih berada di negara penempatan, tapi juga purna pekerja migran alias mantan TKW seperti saya hingga keluarga besar para migran di kampung halaman.
Sayang sekali beberapa tahun lalu Migrant Institute ditiadakan, dilebur ke dalam divisi lain. Namun keberadaan program-program DDHK juga di negara lainnya tetap berdiri bahkan lebih kokoh.
Meski Migrant Institute sudah tiada tapi program-program untuk PMI yang dijalankan oleh Dompet Dhuafa tetap berjalan bahkan lebih fokus pada pendidikan, keagamaan, advokasi, hingga pemberdayaan. Sehingga saat PMI pulang ke Indonesia bisa lebih proaktif dan berdaya.
Tahukah kalau DD juga menyelenggarakan kuliah online untuk pekerja migran baik beasiswa maupun biaya sendiri?
Tujuan diadakannya kegiatan itu tentu saja supaya bisa memberikan akses pendidikan tinggi kepada PMI di Hong Kong dan Makau.
Bekerja sama dengan ITB Ahmad Dahlan Jakarta, sistem kuliah daring untuk PMI ini sangat fleksibel. PMI bisa kuliah sambil tetap bekerja.
Bahkan PMI yang berprestasi menerima beasiswa dari DDHK. Sesuai dengan komitmen DDHK bahwasanya DDHK ingin PMI tak hanya jadi pahlawan devisa, tapi juga pahlawan ilmu.
Dari segi pendidikan rohani, DDHK juga mengagendakan rutin Majelis Taklim dan TPQ untuk PMI.
Kegiatan DDHK yang diikuti TKW jika ada libur
Sebuah kebanggaan tersendiri manakala sejak itu para PMI mengisi hari libur dengan pembinaan rohani dan ilmu agama. Melalui kegiatan pengajian rutin di berbagai Majelis Taklim PMI yang diselenggarakan tiap hari Minggu di lokasi strategis seperti Victoria Park, Chater Garden, dan Causeway Bay.
Saat buka Ramadan para relawan (khususnya PMI) membagikan takjil di Victoria Park, Causeway Bay. Kegiatan ini dihadiri alim ulama lokal, komunitas perburuhan serta pihak KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) dengan sajian tausiyah, tarawih, dan shalawat bersama.
Tidak hanya itu, DD juga memfasilitasi kelas kelas TPQ untuk anak-anak PMI. Termasuk mendatangkan Dai Ambassador dari Indonesia untuk mengisi pengajian tematik di Hong Kong.
Benar-benar mengimplikasikan meskipun para TKW berada di negara orang yang minoritas muslim, tapi iman dan ilmu harus terus tumbuh.
Bantuan Sosial dan Advokasi PMI dari DD pun sudah tidak diragukan lagi. Keunggulan pendampingan hukum PMI bermasalah (izin, kontrak, kekerasan) sampai bantuan darurat saat sakit, kecelakaan, atau deportasi semua sudah dipersiapkan.
Saya pernah ikut mendampingi Erwiana (kasus TKW Jatim yang disiksa majikan dan dipulangkan secara sepihak) yang saat itu sangat heboh dan menjadi pemberitaan nasional bahkan internasional.
Saat itu bersama Pak Nursalim dibawah komando Pak Adi Candra kami ikut mendampingi Erwiana bersama organisasi perburuhan di tanah air hingga Erwiana berhasil memenangkan tuntutan di pengadilan.
Permasalahan literasi keuangan dan pemberdayaan ekonomi para PMI juga jadi prioritas DDHK. Apalagi banyak dirasakan kalau akhir-akhir ini perekonomian masyarakat Indonesia memang mulai menurun.
Secara sigap DD segera merangkul para buruh ini untuk mengikuti kelas literasi keuangan syariah. Mulai dari cara menabung yang benar, investasi halal, menghindari rentenir dan sebagainya. DDHK ingin menjadikan PMI cerdas finansial, karena dengan demikian masa depan keluarga PMI bisa jadi lebih baik.
Saking pedulinya DD terhadap para pekerja migran, dibuat Program Reintegrasi Pasca-Kepulangan PMI yang dikelola langsung oleh DD pusat di Indonesia.
DDHK selalu mengupayakan dalam menghubungkan eks PMI dengan:
Dompet Dhuafa menjadikan PMI bukan hanya pekerja, tapi pembelajar, pejuang iman, dan pelopor perubahan.
Bagi para pekerja migran yang tergabung DD sudah menjadi sosok ibu yang selalu siap membimbing, ibarat sekolah untuk menyuapi ilmu pengetahuan, madrasah sebagai penguat kokohnya akidah dan akhlak, sekaligus jadi rumah sebagai tempat ternyaman untuk pulang.
Dari kegiatan pendampingan spiritual, pelatihan akademis, bimbingan ibadah, hingga bantuan sosial keseharian, Dompet Dhuafa di Hong Kong menunjukkan komitmennya untuk:
📌Mendampingi pekerja migran dalam menguatkan ilmu agama, pendidikan, dan kemandirian.
📌Membangun komunitas Islami di tempat mayoritas non‑muslim.
📌Menjadi penyambung tangan antara warga Indonesia perantauan dan tanah air.
Kalau manteman seorang PMI atau punya keluarga di luar negeri, program yang diselenggarakan Dompet Dhuafa ini terbuka untuk semua WNI yang ingin berkembang.
Jadi jika manteman ingin bertemu lembaga yang tidak hanya menyalurkan bantuan tetapi juga memberdayakan dan memiliki dampak jangka panjang, maka Dompet Dhuafa adalah contoh yang sangat kuat.
Di momen bulan Dzulhijjah ini sudahkah manteman menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi dengan mereka yang berhak membutuhkan?
Tenang, kita juga bisa kurban di Dompet Dhuafa kok. Atau jika keuangan belum cukup bisa pilih sedekah daging saja. Insyaallah berkah dan pahalanya tidak akan pernah berkurang.
Dompet Dhuafa tidak hanya fokus pada penyaluran materi. Tapi juga berperan aktif dalam mendidik, membimbing, dan membentuk komunitas melalui berbagai program (pendidikan, sosial, dakwah, advokasi).
Sesuai dengan tujuan didirikannya Dompet Dhuafa: yakni mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi ekonomi lemah melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan.
Syawal kemarin sebelum terbang menuju Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG), ustadz yang mendampingi Fahmi dan santri lainnya yang akan ditempatkan di Kampus 9 Desa Ompang Jorong Nagari Sulit Air Kabupaten Solok Sumatera Barat sudah memberikan informasi jika selain uang asrama dan uang makan, yang harus dipersiapkan juga oleh wali santri adalah uang iuran untuk kurban bulan Dzulhijjah.
Waduh! Saya pikir anak diharuskan kurban. Harus berapa juta rupiah yang harus dipersiapkan?
Ternyata saya salah paham. Karena itu hanya iuran, patungan untuk membeli hewan kurban, yang nantinya insyaallah pahalanya masuknya ke sedekah daging. Tapi tentu saja jika ada santri atau siapa saja yang mau kurban di kampus Gontor tempat anak saya mengenyam ilmu, tentu saja dengan senang hati sangat dipersilahkan.
Betul saja, jelang Hari Raya Idul Qurban tiba, anak saya menelepon mengabarkan kalau semua santri di kampus Gontor 9 sedang sibuk mempersiapkan semuanya untuk perayaan Idul Adha semaksimal mungkin.
Di Gontor Kampus 9, anak saya cerita ada dua ekor sapi dan lima belas ekor kambing yang siap dipotong untuk idul qurban tahun ini. Sedangkan jajaran panitia kurban dipegang oleh kelas V dengan bimbingan para asatidz.
Selang beberapa hari kemudian, anak baru bisa menelepon saya lagi pada hari raya sore harinya. Saya kira di sana sudah melaksanakan pemotongan hewan kurban, ternyata belum.
“Belum, Bu. Jumat ini tadi setelah solat id Ami dan semua santri ikut perlombaan antar kamar, Bu. Lanjut solat Jumat dan istirahat. Makanya Ami bisa telepon. Pemotongan sapi dan kambing nya disini Sabtu besok. Kalau besok Ami gak menelepon, artinya Ami sibuk ikut kegiatan ya Bu. Soalnya ada santri yang bertugas membagikan daging kurban ke masyarakat sekitar kampus ini. Ami pengen ikut gitu...”
Begitu penjelasan anak yang setelah saya konfirmasi kepada salah satu ustadz ternyata memang benar demikian kegiatan nya.
Sabtu setelah pemotongan hewan kurban, sebagian santri bertugas mengolah dan memasak daging kurban di dalam lingkungan kampus. Sementara sebagian lagi santri ikut bersama ustadz berkeliling blusukan ke pedalaman Desa Ompang Jorong Nagari Sulit Air lokasi dimana pondok pesantren Darussalam Gontor Kampus 9 berada, untuk mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat setempat.
Disitulah saya baru paham akan maksud uang iuran untuk kurban yang disampaikan ustadz sewaktu anak masih di Gontor Kampus 2 Ponorogo dulu. Ternyata memang begitulah yang dimaksud sedekah daging.
Sedekah daging bisa dibilang sebagai bentuk sedekah berupa pemberian daging kepada orang lain, terutama kepada mereka yang membutuhkan, seperti fakir miskin, yatim piatu, janda, atau kaum dhuafa.
Sedekah daging sebenarnya bisa dilakukan dalam berbagai kesempatan, seperti:
🛑 Momen Idul Adha
Hewan kurban yang dibeli secara patungan disembelih dan dagingnya dibagikan kepada yang berhak.
🛑 Momen Aqiqah
Daging dari hewan aqiqah (biasanya memotong hewan kambing) untuk anak yang baru lahir bisa dibagikan dan itu termasuk sebagai sedekah.
🛑 Sedekah Harian/Berkala
Bisa dilakukan kapan saja di luar waktu kurban atau aqiqah. Misalnya, memasak atau membeli daging lalu membagikannya kepada tetangga kurang mampu.
Keutamaan orang yang sedekah daging, sama-sama mendapatkan pahala besar, terlebih jika dagingnya itu diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
Di jaman serba modern seperti sekarang bagaimana cara yang termudah untuk melakukan ibadah sedekah daging?
Cara Praktis Bersedekah Daging:
📌 Ikut program sedekah daging dari lembaga sosial atau masjid
📌 Patungan kurban atau pembelian daging untuk dibagikan, seperti yang dilakukan anak saya di pondoknya itu
📌 Masak sendiri dan berbagi olahan daging nya dengan tetangga atau komunitas.
📌 Gunakan layanan online yang menyediakan program sedekah daging.
Hari Minggu anak baru berkesempatan menelepon lagi. Begitu antusiasnya menceritakan kalau masyarakat di pedalaman Bukit Mandi Mandian (lokasi pegunungan tempat Kampus Gontor 9 berada) ternyata masih banyak yang hidup sangat sederhana dan jarang sekali makan enak berlauk daging.
"Mereka senang banget waktu dikasih daging itu. Wah terharu pokoknya, Bu..." Jelas Fahmi menggebu-gebu.
Diceritakan pula di Auditorium Kampus Gontor 9 diadakan lomba memasak rendang dari daging kurban. Semua santri antusias. Walaupun Fahmi dan santri lainnya bukan dari suku Minangkabau tapi justru itu mereka semangat untuk belajar memasak rendang secara langsung di tempat kuliner itu berasal.
Saya jadi membayangkan bagaimana bahagianya mereka yang jarang makan daging lalu berkesempatan makan enak dengan lauknya daging yang diolah sebagaimana dibayangkan...
Sungguh pengorbanan yang besar dari donatur sedekah daging itu bisa kita jadikan sebagai makna kurban yang begitu dalam—bukan semata menyembelih hewan, tetapi menyembelih keegoisan, menyuburkan kasih sayang, dan menyemai ketulusan terhadap sesama.
Makna yang bisa diambil dari sedekah daging:
🌀 Kurban itu bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang keikhlasan memberi.
🌀 Orang yang paling layak menerima kadang justru yang tak terlihat meminta. Bahkan ustadz di kampus Gontor 9 masih menemukan yang berhak menerima kurban baru pertama kalinya! Kedepannya tentu saja jadi catatan yang tidak boleh terlewat lagi.
🌀 Pengorbanan yang tulus, meskipun kecil, bisa menginspirasi banyak orang.
Alhamdulillah ya, sekarang siapa pun kalau mau kurban sangat mudah, tanpa harus kerasa malu kalau diketahui masyarakat umum karena kita bisa kurban atau sedekah daging cukup melalui smartphone di tangan.
Ya, semudah itu kita sudah bisa kurban di Dompet Dhuafa. Mulai dari satu jutaan rupiah saja, kita udah bisa berkurban dan mengalirkan manfaat hingga pelosok negeri, bahkan sampai Palestina, Somalia, dan Myanmar sana.
Tidak ragu lagi kalau kurban di Dompet Dhuafa karena semua hewan kurban di Dompet Dhuafa sudah pasti sesuai syariat, pasti jantan, pasti didistribusikan secara luas dan pasti transparan dalam laporannya.
Berkurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Lebih dari itu, berkurban adalah wujud ketundukan kita kepada Allah, meneladani Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh kepasrahan menjalankan perintah-Nya.
Siapa yang tidak merasa tertarik jika ampunan Allah telah lebih dulu turun kepada orang yang berkurban, bahkan sebelum darah hewan kurban menetes ke bumi?
Sesungguhnya hewan kurban yang disembelih itu akan menjadi saksi kebaikan untuk kita di hadapan Allah pada hari kiamat nanti.
Maka mari kita siapkan kurban terbaik dengan niat yang tulus. Semoga Allah menerima setiap ibadah kurban kita. Aamiin.
Sejak sahur sampai berbuka puasa ponsel tak juga saya tinggal jauh. Berharap jika ada telepon dari anak yang sedang merantau di Nagari Sulit Air bisa segera diterima.
Tapi sayang seribu kali sayang, telepon yang ditunggu-tunggu tak juga kunjung terdengar. Tentu saja hati jadi gelisah, pikiran mulai dihantui berbagai macam perasaan. Takut anak kenapa-napa...
“Ami sehat, Bu. Tapi Ami malas jalan ke Gedung Pengasuhan buat telepon. Ami senang main di Rayon sambil dengar cerita dengan Al Akh dan Ustadz disini...”
Oalah, ternyata itu alasannya kenapa anak tidak menelepon beberapa hari terakhir ini. Padahal sebelumnya ponsel yang sebelum anak mondok sepi, hampir sehari tiga kali terus berbunyi. Sampai saya pikir jangan-jangan uang bekal anak di pondok buat jajan habis dipakai telepon melulu.
“Bu, uang tabungan Ami ada berapa di ibu?”
“Memang kenapa?” lho, kok nanya uang? Kaget juga kan jadinya tiba-tiba anak bertanya tentang tabungannya. Padahal baru saja saya lagi membayangkan uang bekal anak yang mungkin habis dipakai buat nelepon ke rumah terus. Apa anak nanya uang tabungannya itu mau minta bekal lebih buat bekal di pondok?
Sebelum berangkat ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Kampus 9, yang beralamat di Kabupaten Solok Sumatera Barat, uang yang dipegangnya memang semua diserahkan kepada saya. Karena aturan di Gontor, santri tidak boleh memegang uang, kecuali tabungan siswa yang pengeluaran dan pemasukannya dipantau ustadz.
“Ami mau kurban, Bu. Kalau ada, uang Ami boleh ga dipakai buat kurban? Ami sama teman di Rayon kemarin denger cerita ustadz, sedih banget Bu. Tapi bikin semua kepikiran jadi pengen kurban juga gitu, Bu...”
“Emang ceritanya bagaimana?” Ada perasaan lega juga. Ternyata nanya uangnya bukan buat diminta nambahin bekal.
Rasa lega ini juga sambil disertai penasaran. Kira-kira ustadz siapa sih yang udah berhasil menarik hati sholgan-ku ini. Karena waktu perkenalan, selain Ustadz Zefa yang jadi wali kelas, hanya ada beberapa ustadz lain yang berkenalan. Ustadz Ikhwan, Ustadz Dzikra, Ustadz Fakih dan Ustadz Galih. Hanya itu yang bisa saya ingat karena ustadz sebagian lainnya lagi saya udah lupa, hehe...
“Ustadz cerita tentang seorang anak yang rela menjual sendal biar bisa beli kambing buat kurban, Bu...”
“Wah, menarik banget ceritanya, Mi. Terus bagaimana?”
Masih di sambungan telepon anak pun bercerita kalau sore hari kemarin, yang biasanya ia stand by di Gedung Pengasuhan untuk antri telepon, namun kali ini lebih tertarik diam di Rayon demi bisa mendengar cerita ustadz nya yang berkisah tentang cerita-cerita inspiratif.
Jadi menurut cerita anak nih, ustadz berkisah ada anak yatim tinggal bersama ibunya di sebuah pelosok desa yang bertempat di kabupaten Solok Sumatera Barat, sebut saja nama anak tersebut Fuadi.
Fuadi tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci. Mereka hidup sederhana, bahkan untuk makan sehari-hari saja sering harus mengandalkan belas kasih tetangga.
Fuadi sangat menyukai pelajaran agama. Ia sering mendengarkan ceramah ustaz tentang keutamaan berkurban saat Idul Adha.
Setiap kali mendengar kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya Ismail demi ketaatan kepada Allah, matanya berkaca-kaca.
Suatu hari, sepulang dari masjid, Fuadi berkata pada ibunya, "Bu, tahun ini kita harus kurban juga ya. Walau kecil, Adi mau kasih yang Adi punya."
Sang ibu tersenyum pilu. Mereka tidak punya apa-apa, jangankan membeli kambing, untuk beras saja kadang harus berhutang.
Namun Fuadi tetap bertekad. Ia mulai mengumpulkan receh dari sisa jajan, membantu tetangga menyapu halaman, dan bahkan menjual barang-barang bekasnya sendiri.
Dalam waktu satu bulan, ia hanya berhasil mengumpulkan Rp18.000. Jelas jumlah itu tak cukup untuk membeli hewan kurban.
Tapi Fuadi tetap datang ke panitia kurban di masjid dengan semangat. Di tangannya, ia menggenggam uang receh dan sepasang sandal jepit yang masih cukup layak.
Dengan suara pelan ia berkata, "Pak, Adi nggak punya kambing, tapi Adi mau ikut kurban. Ini uangnya... dan ini sandal baru, siapa tahu bisa dijual buat beli kambing."
Panitia kurban di masjid terdiam. Beberapa bahkan meneteskan air mata. Semangat dan keikhlasan bocah kecil itu menggugah hati mereka.
Keesokan harinya, panitia mengumumkan bahwa kambing kurban atas nama Fuadi akan disembelih bersama hewan kurban lainnya. Kambing itu dibelikan oleh donatur yang tergerak hatinya oleh kisah Fuadi.
Hari itu, Fuadi berdiri paling depan, matanya bersinar bahagia. Fuadi tak menyumbang banyak harta, tapi ia memberikan semua yang ia punya— tapi taukah bahwa justru itulah makna kurban yang sejati sesungguhnya?
“Begitu kisah yang disampaikan Ustadz, Bu. Nah, Ami juga jadi ingin kurban dengan tabungan yang Ami punya, Bu. Bolehkan Bu?”
Sungguh saya gak mampu langsung menjawabnya. Karena isak tangis ini lebih kuat mendahului terdengar di seberang sana.
“Kok Ibu nangis?”
“Ibu ikut terharu dengan cerita ustadz yang disampaikan Ami barusan. Boleh Mi, Ami boleh berkurban. Uang Ami ada lebih dari cukup di ibu.”
“Alhamdulillah. Nuhun Bu. Ami senang Bu... Emang kalau kurban domba atau kambing berapa juta, Bu?"
"Ada yang di bawah dua juta rupiah ada juga yang di atas itu. Tergantung dari besar kecilnya domba atau kambing yang kita pilih."
Sambil terisak saya sampaikan pada anak yang sedang mondok jauh di luar pulau sana bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi tentang ketulusan memberi, meski yang kita punya sangat sedikit. Jadi murah atau mahal, itu bukan ukuran mutlak.
Betul seperti kisah Fuadi, yang menunjukkan bahwa pengorbanan tidak diukur dari besar kecilnya, tapi dari niat dan keikhlasan hati.
Salut dengan ustadz yang sudah memberikan kisah inspiratif tentang Fuadi kepada santri di kampus Gontor 9 khususnya kelas 1B Rayon Syanggit Kamar 2, tempat anak saya mondok dan belajar.
Terharu saya mengingat anak jadi terdorong untuk ikut kontribusi lewat pengorbanan yang bisa dilakukan sekecil apapun itu demi bisa ikut berkurban. Luar biasa kisah dari ustadz nya ini sudah menginspirasi lebih banyak orang.
Meskipun anak ada di Bukit Mandi Mandian Nagari Sulit Air Kabupaten Solok Sumatera Barat sana, namun semangat untuk berkurban sedikit pun tidak berkurang. Apalagi sekarang bisa berkurban dengan cara yang praktis tapi tidak mengurangi nilai ibadah dan kekhusyuannya.
Kurban di Dompet Dhuafa bisa jadi salah satu pilihan. Karena kurban di Dompet Dhuafa memiliki banyak kelebihan:
📌 Distribusi ke wilayah membutuhkan (wilayah miskin, tertinggal, daerah pedalaman, wilayah yang masyarakatnya belum pernah/jarang sekali menikmati daging hewan kurban, serta wilayah bencana/rentan konflik)
📌Laporan kurban transparan. Kita akan mendapatkan laporan kurban secara lengkap dan akan diberikan update ketika pemotongan
📌Kurban di Dompet Dhuafa sama dengan ikut memberdayakan peternak lokal hewan kurban binaan Dompet Dhuafa. Ada banyak peternak lokal yang dibina berhasil menyekolahkan putra-putrinya hingga jenjang lebih tinggi. Kurban sengaruh itu...
📌Hewan kurban di Dompet Dhuafa berkualitas sudah layak untuk dikurbankan menurut syariat Islam, dan melalui proses Quality Control yang amanah
Kurban di Dompet Dhuafa
Ketika anak berniat ingin kurban, maka tidak ragu lagi saya langsung teringat Dompet Dhuafa dan memilih kurban di sana.
Insyaallah kurban kita akan jadi jalan yang membentang kebaikan untuk umat. Ada banyak sudara kita yang benar-benar membutuhkan di pelosok Indonesia serta di berbagai penjuru dunia menunggu kurban kita sampai disana.